CEO'S Prince

CEO'S Prince
Rencana Gatotkaca



Di sebuah ruang kerja mewah dengan furniture berdesain kontemporer yang diselaraskan dengan pencahayaan yang hangat.


"Maaf, Tuan. Sepertinya apa yang Tuan khawatirkan selama ini akan terjadi," ucap David pada tuannya, Hades.


"Ceritakan apa yang terjadi!" titah Hades pada sekertaris yang sudah mendampinginya selama hampir puluhan tahun. Tubuhnya yang tadi masih duduk santai, langsung menegak serius.


"Nona Leony berhasil mengingat nomer ponsel Tuan Rimba, Tuan. Perawat yang bekerja di RS Emerald langsung menghubungi Tuan Rimba. Dan Tuan Rimba sudah berada di RS. Menemani dan menjaga Nona Leony," jelas David yang sudah bersiap diri untuk menghadapi amarah sang raja dunia hitam.


Brak! Hades menggebrak meja kerjanya yang berlapis lis berwarna emas dan ornamen klasik hingga bergetar hebat. Kakek tua yang satu ini tenaganya masih sekuat banteng yang ditunggangi dalam olahraga rodeo. Sanggup menjatuhkan si penunggang dalam satu hentakan kuat dan tinggi.


Gigi geligi Hades gemeretak menahan amarah.


"Lalu apa yang dilakukan bujang lapuk tak tahu diri itu?" tanya Hades pada David.


"Tuan Nicholas masih diam tidak bergerak, Tuan." David menyampaikan semua hasil pengamatannya.


Penghuni paviliun belakang Hades mansion itu terlihat masih santai-santai saja. Duduk di kursi roda sambil memandang jendela kaca. Melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Padahal masalah besar sedang menanti di hadapannya.


Apakah Tuan Nicholas menyesali perbuatannya? Atau ada hal lain yang membuatnya diam tidak segera menyelesaikan masalah yang sudah dia perbuat? batin David.


"Dasar pria sembrono! Selalu saja bertindak tanpa dipikir baik-baik lebih dahulu. Sekarang sudah kacau begini, masih saja diam tidak berusaha melakukan penyelesaian. David, laporkan semua kegiatan Nicholas padaku. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Aku ingin tahu, langkah apa yang akan dia ambil setelah masalah ini meledak makin besar."


Huh! Hades mendengus kesal.


"Lalu bagaimana dengan Rimba dan keluarganya? Apakah Andre sudah mulai bergerak?" tanya Hades.


"Tuan Rimba meminta bantuan saya untuk menangkap pelaku pemerkosa Nona Leony, Tuan. Dan Tuan Andre juga sudah mulai menyelidiki kasus ini," jawab David.


Celaka! CEO Ariandono Group sudah mulai bergerak rupanya, batin Hades.


"Katakan pada Rimba kalau kau butuh waktu lebih panjang untuk menemukan pelakunya. Lakukan segala cara untuk menghambat Andre. Mereka semua tidak boleh tahu siapa pelakunya," titah Hades.


"Siap, Tuan." David menganggukkan kepalanya.


Tugas berat menanti David. Ayahanda Rimba terkenal cukup tangguh dan tidak pantang menyerah jika sudah berjanji untuk membantu sahabat putranya.


"Jika Andre minta bantuan Ares, tekan Ares agar tidak ikut-ikutan mencari tahu pelakunya," titah Hades lagi.


David menganggukkan kepalanya. Menghambat Andre dan Ares adalah tugas yang maha berat. Fiuh!


"Apakah Princess tahu tentang hal ini?" tanya Hades.


David menggelengkan kepalanya. "Sepertinya Tuan Rimba dan keluarganya belum menceritakan masalah ini pada Nona Princess, Tuan. Dan Nyonya Kinan ...."


"Apa yang dilakukan Kinan, David?"


"Ehm ... Nyonya Kinan besok siang akan berangkat ke Kalimantan bersama Nona Princess, Tuan. Beliau yang akan menemani Nona Princess dalam riset tanaman obat langka di hutan pulau asing."


"Ckckck ... Aku terlalu meremehkan kehebatan si dokter hewan cantik. Kinan Lee. Walaupun usia sudah menua, jiwa petualangannya masih belum luntur. Wanita cantik ini masih berani kembali hidup di alam liar. Sungguh beruntung Princess. Memiliki calon ibu mertua yang pengertian dan perhatian pada putra dan calon menantunya," gumam Hades sedikit sebal melihat rencananya menikahkan Princess dengan Rimba digagalkan oleh Kinan.


Padahal menikahkan Princess dengan Rimba termasuk dalam solusi agar masalah yang ada tidak semakin merunyam di masa yang akan datang.


Hades punya firasat kuat jika Leony akan menjadi duri dalam daging hubungan Rimba dan Princess. Walaupun banyak orang menyangsikan hal itu. Karena Rimba benar-benar mencintai Princess dan hanya menganggap Leony sebagai sahabat masa kecilnya tidak lebih.


Tapi apakah Rimba akan setega itu untuk tidak menikahi sahabat kecilnya nya jika melihat Leony hamil, membutuhkan seorang suami untuk mendampinginya dan menjadi ayah bagi anak Leony?


Huh! Runyam! Rencanaku Gatot. Gagal Total. Beberapa minggu lalu, aku sudah menekan Ares agar secepatnya menggelar pernikahan putrinya, tapi kenapa Ares begitu lambat merespon? Sekarang semuanya sudah heboh begini. Entah langkah apa lagi yang harus kulakukan untuk melindungi cucuku. Semoga saja cucuku tidak terluka, batin Hades.


"Ada lagi yang dapat saya bantu, Tuan?" tanya David pada majikannya.


"Pantau terus kesehatan Leony. Pastikan dia benar-benar tidak dapat mengingat apapun tentang Nicholas. Jangan sampai semua ini hanyalah akal-akalan Leony supaya dia bisa menikah dengan Rimba dan merebut Rimba dari Princess, cucuku."


"Baik, Tuan." David undur diri dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


***


Di sebuah kamar tidur berwarna pink.


"Tenda, check. Peralatan masak, check. Bahan makanan instan, check. Baju dan obat-obatan, check. Peralatan laboratorium, mikroskop dan buku-buku, check." Princess memberi centang pada list perlengkapan yang harus dibawanya ke Kalimantan.


Setelah semua check listnya tercentang rapi, Princess tersenyum puas memandangi tumpukan dus dan koper di hadapannya.


"Huh! Capai sekali." Princess meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berjam-jam mempacking semua barang-barangnya sebelum besok take off ke Kalimantan.


Dan dalam sekali hempas, tubuhnya berbaring di atas kasur empuk yang ditutup seprai merah muda. Nyaman..Tubuhnya yang pegel linu langsung meringkuk nyaman di atas kasur.


"Btw, jam berapa ini?" tanya Princess lalu mencari ponselnya.


Layar ponsel menunjukkan hari sudah malam. Hampir pukul 20.00. Tapi tidak ada satu pun panggilan dari tunangannya sejak tadi siang.


Kesepian. Jelas! Setelah beberes selesai, tentu pikiran Princess melalang buana mencari tunangannya. Si pengusir kesepian hati Princess.


"Memang ada apa sampai Kak Rimba seharian tidak menghubungiku?" tanya Princess bingung memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat hingga bikin Rimba kesal dan tidak meneleponnya seharian.


"Apa gara-gara diajak nikah pura-pura ya?" gumam Princess ngasal.


"Kak Rimba gak sepicik itu lagi! Masak gara-gara ngomong gitu aja dia ngambek sih?" ucpa Princess sambil memanyunkan mulutnya.


"Sudahlah. Semisal ngambek juga gak masalah. Yang penting, besok aku ke Kalimantan ditemani Bunda Kinan. Skripsiku jalan terus, masalahku selesai. Salahnya sendiri, kalo Kak Rimba mau ngambek kelamaan. Dianya yang rugi sendiri. Gak ketemu aku dalam waktu dua minggu sampai sebulan karena aku mau mengasingkan diri di hutan pulau asing." Princess tertawa puas. Sikap egoisnya mulai merayap ke permukaan.


Ting! Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada sebuah message masuk ke ponsel Princess.


"Aku di bawah. Turunlah!" ucap Princess membaca pesan dari tunangan yang baru saja dirasani ngalor ngidul.


"Panjang umur terus, Kak Rimba. Baru juga dirasani, udah nongol aja di bawah." Princess tersenyum bahagia. Ternyata tunangannya tidak marah. Tidak ngambek. Masih ingin bertemu dengannya sebelum besok bertolak ke luar pulau.


Hmm ... Ngapain ya Rimba datang malam-malam ke rumah Princess? Semoga tidak datang membawa berita buruk ya.