
Flash Back On.
Di ruang praktek klinik dokter hewan Kinan.
Suara ponsel Andre yang cukup keras, membuat Andre dan Kinan terlompat kaget. Terlebih Kinan, ia langsung bangkit berdiri dari pangkuan Andre. Menyembunyikan wajahnya dari Andre. Ia tak mau Andre melihat pipinya yang merona merah dan bibirnya yang lebih bervolume dari sebelumnya.
Andre mengangkat ponselnya, terdengar suara Rendra di seberang.
"Pak Andre, saya sudah menemukan pembunuh bayaran dan orang yang selama ini berada di balik semuanya. Jika bapak ingin bertemu orang yang punya informasi penting ini, segera datang ke kedai kopi yang ada di dekat kantor," ucap Rendra.
"Aku ke sana sekarang." Andre menutup ponselnya dan berpamitan pergi meninggalkan Kinan dan Rimba. Mengendari mobil biru mewahnya ke kedai kopi yang dimaksud Rendra.
Klink! Klink! Hiasan gantung berlonceng di atas pintu kedai kopi berbunyi saat Andre memasuki kedai kopi kecil berdinding hitam dengan tulisan merah yang mencolok.
"Pak Andre," panggil Rendra sambil melambaikan tangannya. Terlihat jelas ada seorang pria berpakaian serba hitam, duduk di hadapan Rendra. Sayang wajahnya tidak nampak karena duduk membelakangi Andre.
Andre pun segera melangkah cepat menghampiri Rendra. Ia begitu ingin tahu siapa orang yang begitu menginginkan nyawa Kinan hingga sanggup membayar mahal seorang pembunuh bayaran.
"Silahkan duduk, Pak Andre." Rendra sudah menyiapkan sebuah kursi untuk Andre tempati. Andre segera duduk. Matanya menatap tajam seorang pria yang wajahnya tersembunyi di balik kacamata hitam, topi hitam dan berbusana serba hitam. Pria itu menunduk dan tak banyak bicara.
Di atas meja, terdapat beberapa lembar kertas. Andre juga melihat ada foto Kinan di atasnya.
Sepertinya kertas-kertas itu milik Rendra. Berisi data-data tentang Kinan, yang sudah Rendra kumpulkan sejak lama. Enam tahun silam. Begitu Andre meminta Rendra untuk mencari tahu semua yang berhubungan dengan kehidupan Kinan.
"Pak Andre, pria di samping bapak adalah detektif yang sangat handal. Begitu saya menunjukkan berkas dan foto Bu Kinan. Hanya dalam beberapa menit saja, detektif ini sudah tahu siapa pembunuh bayaran dan dalang di balik semuanya," ucap Rendra dengan raut wajah super happy. Pekerjaannya dalam waktu singkat langsung selesai. Tentu saja ia patut berbangga hati.
"Katakan siapa pembunuh bayaran dan orang yang ada di balik semua ini," ucap Andre dengan suara dingin. Wajahnya terlihat marah seperti siap menelan bulat-bulat pria yang ada di hadapannya, tanpa harus dikunyah 32 kali dengan gigi geraham.
Pria bertopi dan berkacamata hitam itu membuka semua aksesoris yang melekat di tubuhnya. Topi dan kacamata hitam, ia letakkan di atas meja. Lalu menengadah memandang Andre.
"Apakah semua ini perbuatan ibu tiriku, Ben?" tanya Andre dengan kemarahan berapi-api setelah melihat wajah pria yang menurut Rendra adalah detektif handal.
What? Pak Andre mengenal detektif Ben? batin Rendra tak menduga kalau atasannya memiliki hubungan cukup dalam dengan detektif referensi pamannya.
Ben menggelengkan kepalanya. "Ariani, Nona Ariani yang meminta saya untuk membunuh Kinan Lee enam tahun silam."
Brak! Andre memukul meja dengan keras. Melampiaskan emosinya yang sudah tak terbendung lagi. "Kenapa?" Pertanyaan singkat terucap dari bibir Andre.
"Saya tidak tahu kenapa Nona Ariani ingin membunuh Kinan Lee. Saya hanya menjalankan perintahnya saja. Uang yang saya peroleh untuk tugas itu sangat besar, Pak Andre," jelas Ben.
"Saat itu saya membutuhkan banyak uang untuk memulai kehidupan baru. Lepas dari hubungan tidak sehat saya dengan Ibu Ayu Sekar dan Nona Ariani. Kembali ke jalan yang benar," tambah Ben, tangan kanan ibu Ayu Sekar yang rela melakukan semua perbuatan jahat setiap kali diperintah olehnya.
Ben yang sudah muak dengan kemiskinan, tidak memikirkan perbedaan usia mereka yang sangat jauh, delapan tahun, malah makin terjerumus dalam hubungan tidak sehat dengan Ayu Sekar. Sampai akhirnya dari hubungan mereka, lahirlah Ariani dua puluh lima tahun tahun silam.
"Omong kosong! Ibu tiriku memberikan banyak barang berharga padamu. Kalau kau ingin pergi dari ibu tiriku, kau cukup menjual semua hadiah dari ibu tiriku lalu melangkahkan kakimu keluar negeri," geram Andre kesal merasa dibohongi.
"Tidak, kau salah, Pak Andre. Ibu tirimu tidak semudah itu dibohongi pria. Dia licik," sergah Ben yang ditipu habis-habisan oleh Ayu Sekar. Barang berharga pemberian Ayu Sekar adalah barang palsu yang tidak ada harganya saat dijual kembali.
"Berarti kau menuruti permintaan putri semata wayangmu sebelum kau pergi meninggalkannya agar semua hutang budimu lunas?" tanya Andre dengan sinis.
Ben meneguk salivanya dengan kasar. Ia tidak menyangka jika Andre yang dulu idiot, sekarang menjadi sangat pintar dan dapat menebak isi hatinya. Sebelum pergi meninggalkan putri yang sangat ia cintai, Ben menuruti perintah putri kandungnya yaitu membunuh Kinan Lee. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Menyenangkan hati putrinya sekaligus mendapatkan banyak uang untuk pergi dari kehidupannya yang suram.
"Tapi saya tidak membunuh Kinan Lee, Pak Andre. Saya hanya ingin membawanya pergi ke tempat yang jauh dari Surabaya. Tapi dalam perjalanan, Kinan Lee menceburkan diri ke laut bersama seekor orang utan," jawab Ben membela diri. Ia tidak mau Andre salah paham lalu menghancurkan pekerjaan dan hidupnya yang kini sudah tertata rapi.
"Memang Kinan masih hidup sampai sekarang. Tapi perbuatanmu enam tahun silam tidak semudah itu dapat kumaafkan. Kau harus membayar perbuatanmu karena sudah membuat Kinan menderita di pulau asing selama enam tahun," tutur Andre dengan suara penuh emosi. Menggelegar hingga hampir semua pegawai kedai kopi melirik ke arahnya. Untung kedai kopi sedang sepi pengunjung.
Ben menunduk takut. Raden Andre Ariandono sudah berubah drastis. Dulu dia memang idiot tak bernyali, namun sekarang dia kuat dan pendendam. Hukuman apa yang akan aku terima dari Andre? batin Ben.
"Pergi jauh-jauh dari Surabaya. Pindahlah ke Papua. Tapi ingat, jika aku memanggilmu untuk bersaksi atas kejahatan yang dilakukan putri kandungmu. Kamu harus datang dan mengatakan kebenarannya pada pihak berwajib," sentak Andre.
Mengusir Ben dari kota tempat tinggalnya ke tempat yang terpencil memang layak Ben dapatkan. Untung saja, Andre meminta Ben pindah ke Papua. Coba kalau meminta Ben pindah ke pulau asing yang Kinan tinggali, apakah Ben sanggup bertahan hidup di sana?
Perasaan lega mengalir di hati Ben. Ia hanya perlu memulai lagi kehidupan dan pekerjaannya dari nol. Walaupun awalnya pasti sulit, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti Andre. Daripada hidupnya lebih hancur dan sengsara.
Ben bangkit berdiri. Membungkuk hormat pada Andre. "Saya permisi, Pak."
Andre hanya balas mengangguk. Tangannya masih terkepal, bergetar karena marah.
Setelah Ben menghilang, Andre kembali berucap. "Awasi Ariani. Aku ingin tahu semua yang dia lakukan. Termasuk rencana-rencana busuknya di kemudian hari."
"Nona Ariani sudah keluar dari RS, Pak. Pelayan rumahnya mengatakan kalau Nona Ariani sangat membenci Kinan Lee. Dan beberapa waktu lalu, Nona Ariani pergi ke panti werdha untuk menemui Ibu Ayu Sekar," kata Rendra.
"Segera temukan Pangeran Hutan secepatnya," titah Andre.
"Memang apa hubungan semua ini dengan Pangeran Hutan?" gumam Rendra makin bingung. Kok gak nyambung gitu? Masalah Ibu Ayu Sekar dan Nona Ariani memang ada hubungannya dengan Pangeran Hutan?
"Kau sudah menemukannya belum?" tanya Andre lagi.
Dengan santai, Rendra menjawab. "Sudah dong, Pak Andre. Rimba adalah Pangeran Hutan."
"Apa???" pekik Andre tak percaya.