
Di rumah sakit.
"Kinan, aku membencimu!" pekik Ariani marah begitu menutup panggilan telepon dari Pak Broto dengan tidak hormat. Ia menyibakkan selimut yang menutupi kakinya. Membuangnya ke lantai. Lalu menarik jarum infus yang masih menempel di lengan tangannya.
"Auw, sakit!" pekik Ariani kesakitan.
"Ya ampun, Nona Ariani. Apa yang Nona lakukan? Lihat lengan tangan Nona berdarah!" tegur pelayan rumah Ariani, tergopoh-gopoh menarik tissue dan menghentikan pendarahan yang mengalir dari kulit lengan tangan Ariani.
"Kita pulang sekarang! Sekarang!" pekik Ariani tidak sabar. Kemarahan dan kegelisahan naik ke ubun-ubun. "Bereskan barang-barang milikku. Aku mau keluar dari rumah sakit sekarang juga!"
"Iya, Nona. Saya akan mengurus biaya administrasinya lebih dahulu. Nona tunggu di sini. Yang sabar, Nona. Sabar." Pelayan rumah Ariani cepat-cepat keluar dari ruangan kamar VIP 303. Berlari ke meja administrasi untuk membayar tagihan rawat inap majikannya.
Dan tentu saja menelepon Pak Rendra. Mengabarkan bahwa adik tiri Pak Andre kembali berkelakuan aneh. Marah-marah setelah menerima telepon dari seseorang. Dan Nona Ariani tadi berteriak jika ia sangat membenci Kinan. Entah siapa itu Kinan? Karena tidak ada satu pun teman Ariani bernama Kinan.
Setelah semuanya beres, Ariani bersama dengan pelayan rumahnya segera pergi meninggalkan rumah sakit. Bukannya pulang ke apartement mewah Ariani, mereka malah pergi ke panti wredha, menemui ibu kandung Ariani. Ibu Ayu Sekar Sari.
Hmm ... Ada apa ya?
***
Kantor Ariandono Group.
"Meeting selesai. Terima kasih." Andre menutup meeting siang ini dengan suara dingin seperti biasanya.
Karyawan kantor yang sebagian besar adalah arsitek dan tehnik sipil segera merapikan dokumen-dokumen dan gulungan kertas kerja. Membungkuk hormat kepada atasannya lalu keluar satu-persatu dari ruangan meeting.
Andre bangkit berdiri dari kursi direktur yang ada di ujung meja besar. Berjalan mendekati Rimba dan Tina yang duduk di ujung lain meja besar.
"Apakah meetingnya membosankan?" tanya Andre yang saat meeting membahas tentang proyek bangunan gedung bertingkat, pengeluaran biaya yang membengkak dari anggaran dan progress bangunan saat ini.
Rimba tersenyum lebar. "Meetingnya sangat seru, Ayah. Rimba sangat menyukainya. Rimba banyak belajar hari ini. Sebelumnya Rimba tidak pernah tahu bahwa untuk mendirikan suatu gedung bertingkat membutuhkan banyak tenaga dan pikiran. Sudah direncanakan sebaik-baiknya pun, masih ada beberapa halangan dan masalah yang timbul di kemudian hari hingga budget membengkak dan perlu perubahan rencana yang tepat. Rimba salut dengan ide-ide briliant dari Ayah dalam mengatasi masalah. Luar biasa. Apakah besok Rimba boleh ikut Ayah ke kantor lagi?"
Andre memejamkan matanya sesaat. Seperti yang ia duga sebelumnya, putranya tidak akan pernah bosan dengan meeting. Makin banyak masalah yang dikemukakan dalam meeting, malah akan menarik keingintahuan Rimba. Banyak hal baru yang dipelajari Rimba apalagi mendengar solusi yang dilontarkan Andre.
Andre menganggukkan kepala dan tersenyum. Mengijinkan Rimba untuk kembali ikut ngantor besok pagi dan lusa.
"Ayah, terima kasih banyak. Rimba sayang Ayah." Rimba memeluk kaki panjang ayahnya dan Rendra yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aku harus bertahan dua hari lagi. Oh, guru-guru TK Rimba cepatlah pulang dari retret. Segera buka kembali sekolahnya. Agar si kecil ini tidak terus nongol di ruang rapat, doa Rendra dalam hati.
"Sekarang apa agenda ayah, Om Rendra?" tanya Rimba ingin tahu apakah ada meeting seru lagi.
"Pak Andre perlu bertemu client di ruang kerjanya. Tapi kali ini, Rimba tidak boleh ikut. Pak Andre harus bicara empat mata dengan client. Om Rendra saja tidak ikut kok. Jadi, Rimba ikut Om Rendra saja ya?" pinta Rendra dengan ramah.
"Om Rendra mau ngapain memangnya?" tanya Rimba dengan mimik wajah ingin tahu.
"Om Rendra akan bekerja di ruang kerja Om dong. Nanti Rimba boleh pinjam laptop Om Rendra yang tidak Om pakai. Rimba bisa main games online. Rimba suka main games online kan?" tanya Rendra sok tahu. Mana ada sih anak kecil di dunia ini yang tidak suka main games online. Pasti semua suka.
"Baiklah. Rimba akan main games sambil menunggu agenda ayah berikutnya," ucap Rimba.
"Uuu ... Uuu." Tina memperingatkan Rimba untuk tidak kembali main sayembara teka teki angka yang akan membuat Rimba jatuh sakit lagi.
"Iya, Tina. Rimba janji hanya akan main games online," ucap Rimba pada Tina yang sudah mulai protektif seperti bundanya.
Tina mengangguk.
"Belikan beberapa cemilan untuk Rimba dan Tina, Rendra," titah Andre.
"Baik, Pak," ucap Rendra.
"Rimba mau cemilan apa?" tanya Andre yang ingin menuruti semua keinginan putranya.
"Apa saja yang penting enak, Ayah." Rimba tersenyum senang.
"Kalau begitu, Om Rendra yang pilihkan ya? Pancake dengan ice cream? Waffle dengan mentega cair?" tanya Rendra.
"I like it. Terima kasih, Om."
"Your welcome."
Mereka berempat segera keluar dari ruang meeting. Andre kembali ke ruangan kerjanya, sementara Rendra, Rimba dan Tina masuk ke ruang kerja Rendra.
Sesuai janjinya, Rendra memesankan beberapa camilan manis untuk Rimba dan Tina. Lalu meninggalkan Rimba dan Tina dengan laptop untuk bermain games. Rimba segera menginstall permainan yang biasa ia mainkan di komputernya. Dengan ID Pangeran Hutan, Rimba kembali bermain games online kesukaannya.
Camilan datang beberapa saat kemudian. Rendra yang mengantarnya ke hadapan Rimba.
"Rimba, Om Rendra ada keperluan di luar. Om tinggal dulu sebentar ya. Kalau ada perlu sesuatu, panggil saja Om Brian yang ada di ruangan sebelah. Oh ya, pertemuan Pak Andre dengan client sebentar lagi selesai kok. Pak Andre akan menjemput Rimba di sini setelah urusannya dengan client selesai," ucap Rendra yang ingin menyelesaikan tugas dari Pak Andre. Sudah menumpuk sangat banyak.
"Okay, Om. Terima kasih buat semuanya," ucap Rimba sebelum Rendra menghilang pergi.
"Okay. Apa yang harus kulakukan lebih dahulu?" tanya Rendra sambil membuka note di ponselnya.
"Tugas pertama adalah mengantar langsung sampel rambut Pak Andre dan Rimba ke laboratorium untuk tes DNA," ucap Rendra. Ia pun segera pergi meninggalkan kantor untuk mengurus tes DNA.
"Hmm ... Hasil tes DNA kurang lebih keluar sekitar dua sampai empat minggu. Cukup lama juga ternyata," ucap Rendra.
"Semoga dengan tambahan uang yang kuberikan tadi, dapat mempercepat kerja karyawan laboratorium dalam proses tes DNA Pak Andre dan Rimba. Pak Andre tidak suka menunggu hasil kelamaan."
"Sekarang tugas ke dua. Menyelidiki masalah pembunuh bayaran, mayat siapa yang dikremasi dan direkayasa dengan nama Kinan Lee. Selain itu aku juga harus mencari tahu siapa yang memberikan rumah di Grand Pakuwon untuk Kinan tinggali," tutur Rendra.
Tugas ini tidak mungkin kulakukan sendiri, kan aku bukan detektif. Aku harus menyewa detektif handal untuk menyelidiki semua ini. Ehm ... detektif ini juga harus terpercaya. Jangan sampai dia berkhianat atau menjadi agen ganda, batin Rendra.
"Lebih baik aku menghubungi paman Harry Bianto, jenderal polisi yang dapat memberi referensi detektif terkenal yang dapat menyelidiki masalah pembunuh bayaran, mayat siapa yang dikremasi dan direkayasa dengan nama Kinan Lee serta mencari tahu siapa dalang di balik semua ini," gumam Rendra langsung menelepon pamannya.
"Baik, Rendra. Paman akan segera mengirim kontak detektif yang kerjanya bagus dan dapat dipercaya," ucap Harry Bianto.
"Terima kasih banyak, Paman." Rendra menutup panggilan teleponnya.
***
PS:
Novel "Rimba Si Anak Genius" dipromosiin di waterfall NT, tapi kayaknya judulnya kurang menarik ya. So saya ingin ganti judul jadi:
----- CEO's Prince Of Jungle -----
Biar rada keren dikit dan menarik minat pembaca. Bagaimana pendapat kalian? Lebih menarik atau masih kurang menarik? Hahaha ...