CEO'S Prince

CEO'S Prince
Berenang Menuju Impian



Setelah kawanan lumba-lumba pergi, Rimba langsung berlatih menyelam di laut. Menghitung berapa lama ia dapat menahan nafas di air. Sekaligus berlatih pernafasan agar dapat bertahan di air tanpa oksigen lebih lama.


"Huaahh!" pekik Rimba terengah-engah setelah berkali-kali menyelam di laut.


"Dua puluh lima menit. Yes! Rimba dapat menahan nafas lebih lama dari peraih Guiness Book of World Records. Rekor dunia hanya dua puluh dua menit. Rimba unggul tiga menit," ucap Rimba puas dengan pencapaiannya menyelam di air.


Dengan cepat, Rimba segera berenang ke tepi pantai. Menemui Tina yang dengan sabar dan setia menunggunya di bawah rindangnya pohon kelapa.


"Ayo, Tina. Bantu aku bersiap-siap. Besok pagi aku akan pergi," pinta Rimba dengan penuh semangat.


Tina pun segera bergelanyut di bahu Rimba. Rimba berlari menembus hutan. Menyiapkan segala keperluannya.


***


Keesokan harinya, begitu selesai sarapan buah-buahan segar. Rimba langsung berpamitan pergi pada Kinan. Setelah diberkati oleh Kinan, Rimba dan Tina melangkah pergi ke tepi pantai.


"Uu ... Uuu." Tina memeluk dan mengelus kepala Rimba.


"Ya, Tina. Rimba akan berhati-hati. Kalau Bunda mencari Rimba, katakan saja kalau Rimba sedang bermain bersama lumba-lumba. Jangan bilang pada Bunda kalau Rimba pergi ke kapal pesiar untuk minta bantuan. Rimba pergi dulu, Tina. Doakan Rimba berhasil ya," ucap Rimba sebelum masuk ke laut dan berenang ke arah kawanan lumba-lumba yang sudah menunggunya sejak tadi.


Rimba melambaikan tangannya dari kejauhan pada Tina. Tina dengan wajah sedih pun membalas lambaian tangan Rimba. Dengan cepat Tina mulai merapalkan doa, memohon keselamatan dan keberhasilan untuk Rimba.


Hidup berdua bersama Kinan selama sepuluh bulan di pulau asing membuat Tina banyak belajar dari Kinan. Selain belajar mengenal lebih dalam tentang manusia, Tina juga belajar tentang agama dari Kinan. Dengan seringnya mendengar doa-doa yang dipanjatkan Kinan, lama kelamaan Tina pun juga sering memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.


"Selamat pagi, Lumba-Lumba." Rimba segera memeluk sirip pemimpin lumba-lumba dan naik ke tubuhnya, bersama-sama berenang menuju area karang tinggi dengan ombak besar.


Beberapa meter sebelum mendekati area berbahaya, Rimba menepuk kepala pemimpin lumba-lumba memberi tanda bahwa Rimba sudah siap untuk menyelam.


Pemimpin lumba-lumba dan kawanannya segera menyelam ke dalam laut. Melewati area karang tinggi dengan tenang. Mata Rimba terbuka lebar, mengagumi keindahan pemandangan bawah laut yang penuh karang tinggi aneka warna dan berbagai jenis biota laut lainnya. Setelah tujuh belas menit menyelam, lumba-lumba dan Rimba mulai berenang ke atas permukaan laut.


"Huaahh! Keren sekali," pekik Rimba begitu dapat menghirup udara segar dan melihat hamparan birunya laut yang sudah tenang kembali.


"Terima kasih, Lumba-Lumba. Berkat pertolongan kalian, Rimba dapat keluar dari pulau asing. Ayo sekarang kita pergi ke lokasi kapal pesiar berlabuh," ucap Rimba penuh semangat.


Pemimpin lumba-lumba langsung melesat ke depan, berenang dengan cepat ke tempat yang ingin dituju Rimba.


Setelah hampir satu jam berenang, akhirnya Rimba dan kawanan lumba-lumba sampai di dekat kapal pesiar. Rimba melihat banyak manusia sedang berada di kapal pesiar yang begitu besar, megah dan mewah. Mereka ada yang sedang berenang dan bermain kano di laut. Ada yang sedang memancing dan berjemur di atas kapal pesiar.


Tiba-tiba saja, kawanan lumba-lumba menguik-uik resah. Rimba yang dapat berbahasa lumba-lumba mengetahui bahwa ada tiga ekor hiu sebentar lagi akan datang ke dekat kapal pesiar. Tiga hiu itu sedang kelaparan dan berniat memangsa para turis kapal pesiar yang sedang berenang di dekat kapal pesiar.


"Tidak! Aku harus memperingatkan orang-orang yang sedang berenang dan bermain kano untuk menjauhi laut," ucap Rimba cepat-cepat turun dari punggung pemimpin lumba-lumba.


"Lumba-lumba, pergilah bersembunyi dari ikan hiu. Jangan khawatirkan aku. Aku akan menyelamatkan orang-orang ini dahulu setelah itu aku akan ikut naik ke kapal pesiar. Terima kasih banyak untuk bantuannya. Aku tidak akan melupakan jasa kalian semua," seru Rimba.


Lumba-lumba pun segera pergi bersembunyi dari ikan hiu. Rimba pun segera berenang mendekati seorang pria yang memakai baju renang warna merah terang. Pria tersebut adalah pekerja kapal pesiar yang bertugas untuk menjadi life guard jika ada keadaan bahaya di laut.


"Pak, tolong segera evakuasi semua orang yang sedang berenang dan bermain kano di laut. Ada tiga ekor hiu datang. Mereka kelaparan dan berniat memangsa manusia yang ada di air," ucap Rimba dengan lantang.


Petugas life guard itu tertawa terbahak-bahak. "Di sini tidak ada hiu, Dik. Adik jangan membuat hoax yang menyebabkan kepanikan. Sudah pergi sana! Bermainlah di laut dengan hati gembira. Tidak usah khawatir, di sini aman."


"Pak, tolong percayai ucapan saya. Saya tidak membuat hoax, Pak. Lumba-lumba sudah memberitahu saya. Informasi dari lumba-lumba tidak mungkin salah. Di sini ada hiu," balas Rimba tidak pantang menyerah memperingatkan petugas life guard.


Petugas life guard berkacak pinggang dan mengusir Rimba. "Ini anak bikin kacau melulu sih. Dimana orang tuamu? Kembalilah ke orang tuamu, biar saya yang berjaga di sini."


"Pak, saya tidak membuat kacau. Tolong percayai saya sekali ini saja. Demi keselamatan semua orang," jawab Rimba.


"Memangnya kamu bisa berbahasa lumba-lumba? Bagaimana caranya lumba-lumba mengatakan padamu kalau ada hiu di sini? Lewat telepati atau lewat apa?" tanya petugas life guard sambil tertawa mengejek.


"Saya mengerti ucapan lumba-lumba, Pak," jawab Rimba.


"Dasar bohong! Ini anak kebanyakan halu kali ya," tutur petugas life guard sembari menghalau Rimba pergi dan tidak mengganggu pekerjaannya.


Rimba menahan kekecewaannya. Lalu berenang mendekati orang-orang yang sedang bermain-main di laut. Memperingatkan mereka untuk segera naik ke kapal pesiar. Tapi tidak satu orang pun yang mempercayai Rimba. Sampai akhirnya terdengar teriakan kesakitan dan berubah menjadi ketakutan.


Seorang pria dewasa yang sedang bermain kano digigit kakinya oleh hiu dan diseret ke bawah laut. Darah segar berceceran ke mana-mana. Air laut pun berubah warna menjadi merah. Sangat mengerikan.


Beberapa orang yang masih berenang, buru-buru menyelamatkan diri. Keadaan menjadi gaduh dan kacau. Mereka semua panik. Membuat dua hiu yang lain makin bersemangat mengejar buruannya.


Beberapa orang yang masih di atas permukaan laut dilahap satu persatu oleh ikan hiu. Petugas life guard yang melihat dari tempatnya berpijak, hanya terdiam terpukau dan tubuhnya bergetar ketakutan. Ia tidak berani dan tidak mampu menolong orang-orang yang digigit hiu.


Rimba yang ada di dekat kapal pesiar, segera membantu turis-turis kapal pesiar untuk segera kembali ke dalam kapal pesiar. Setelah itu Rimba masuk ke laut, menyelam dan mulai mengejar ikan-ikan hiu yang mulai kekenyangan.