CEO'S Prince

CEO'S Prince
Menemui Crazy Prince



"Kakek, Kakek bercanda ya?" tanya Princess masih syok dengan pernyataan yang dibuat kakeknya.


"Mana pernah Kakek bercanda dalam hidup Kakek?" hardik Hades kesal dikira main-main menjodohkan cucu laki-laki satu-satunya dengan sahabat kecil Rimba.


Rimba menelan ludah, masih tidak percaya dengan pendengarannya.


Apakah kakek Hades sedang linglung atau gimana sih? Bukankah Leony sekarang sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan stress? Leony itu diperkosa dan sedang hamil anak seorang predator keji. Masak ditunangkan dengan Prince, saudara kembar Princess? batin Rimba yang mulai pusing tujuh keliling memikirkan nasib Leony.


Rimba saja menolak menikahi Leony. Apalagi Prince. Prince tidak mengenal Leony. Bahkan Prince belum pernah bersua dengan Leony seumur hidupnya. Kenapa sekarang Prince yang harus bertanggung jawab atas perbuatan predator gila yang sudah memperkosa Leony?


Kakek Hades seperti menyiram bensin di atas api yang sudah berkobar. Bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah jadi lebih rumit lagi.


Rimba sampai tidak bisa berkata apa-apa. Mau bertanya alasan kakek Hades meminta Prince melamar Leony sekaligus ingin menyuarakan suara kalau menentang pertunangan Leony dan Prince, kok rasanya Rimba tidak punya hak sama sekali.


Pertunangan Leony dan Prince bukan ranah yang boleh diterjang Rimba. Walaupun Rimba mengenal dan akrab dengan Leony. Tapi urusan pertunangan, itu adalah ranah Bunda Leony yang masih hilang sampai sekarang. Bunda Leony yang berhak memutuskan apakah akan menerima lamaran Prince atau menolaknya.


"Baik. Baik, Kakek. Semoga Prince setuju dengan calon tunangan pilihan Kakek," ucap Princess masih bermanja-manja dengan sang kakek. Lalu mengedipkan matanya pada Rimba. Memberi sinyal untuk mengiyakan saja apa yang dikatakan kakeknya tadi. Daripada berbuntut panjang dan situasi makin memanas.


Rimba pun dengan berat hati mengulas sepotong senyum manis di bibirnya. Padahal perutnya sudah mulas kepenuhan nasi timbel bakar, puding cokelat karamel ditambah puluhan pertanyaan yang ingin dilontarkan keluar dari bibirnya.


Mengapa dan kenapa Prince harus tunangan dengan Leony???


Huh! Bertanya pada kakek Hades juga pasti tidak dapat jawaban yang memuaskan. Lebih baik aku bertanya pada Prince saja. Prince pasti lebih jujur dan terbuka pada Rimba.


"Karena hari sudah malam, Rimba mohon pamit pulang, Kakek," ucap Rimba sopan ingin undur diri untuk segera bertemu Prince.


"Oh ya. Sudah hampir jam setengah sepuluh malam rupanya. Pulanglah, Rimba. Salam untuk Andre dan Kinan." Hades menepuk tangan Princess. "Antar tunanganmu ke halaman belakang. Kakek mau naik ke atas. Nenek Edith menunggu Kakek. Dia tidak bisa tidur kalau Kakek belum di sampingnya."


"So sweet banget sih, Kek," goda Princess.


"Udah sana. Antar Rimba pulang." Hades berbalik badan dan berjalan keluar ruang makan.


Princess mengambil nafas panjang setelah bayangan sang kakek menghilang. Lalu menghampiri tunangannya yang wajahnya sudah menjadi biru keunguan. Syok berat mendengar berita pertunangan Leony dan Prince.


"Prince sudah pulang ke apartementnya tadi sore bersama Uncle Andrew. Kata Uncle Andrew, pekerjaan mereka di Jakarta sudah selesai. Jadi siang tadi mereka langsung pesan tiket peswat dan pulang ke Surabaya." Princess memang cerdas. Sebelum Rimba bertanya di mana keberadaan Prince, dia sudah lebih dahulu memberitahukannya.


"Pergilah ke apartementnya jika memang Kak Rimba sudah tidak sabar bertanya alasan kakek menjodohkan Prince dengan Leony," sambung Princess lagi.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sangat pengertian," balas Rimba lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di dahi Princess.


"Aku pergi dulu. Cepat tidur. Tak perlu mengantarku keluar. Kamu terlihat sudah lelah, sudah pingin meluk bantal," goda Rimba.


"Good night, Kak. Hati-hati di jalan. Kalau kemalaman mengobrol dengan Prince. Tidur saja di apartement Prince. Jangan menyetir pulang dalam keadaan mengantuk. Bahaya!" nasehat Princess yang membuat Rimba makin sayang pada tunangan kecilnya.


Rimba mengangguk. "Bye, Sayang."


Rimba segera angkat kaki dan pergi menuju apartement Prince.


"Dimana kau, Prince? Posisi?" tanya Rimba di telepon begitu mobilnya sudah terparkir rapi di dalam basement apartement mewah di kawasan Surabaya Barat.


"Hai, Kak Rimba. Aku sedang sauna. Susul aku di sini," jawab Prince dengan nada suara yang kelihatan malas dan mengantuk.


Saudara kembar Princess yang satu ini memang lain daripada yang lain. Setelah bekerja seharian di kantor Uncle Andrew sebagai seorang pengacara, Prince selalu menyempatkan diri untuk berenang dan sauna sebelum tidur. Walaupun hari sudah beranjak malam.


Kata Prince, supaya lemak-lemak di tubuhnya meluruh dan tubuhnya menjadi bugar besok pagi. Ada-ada saja. Kalau orang lain, ya pasti takut masuk angin lah kalau berenang dan sauna di malam hari.


Maka dari itu, fasilitas kolam renang dan sauna apartement menjadi private place buat Prince kalau malam hari. Cocok buat tempat menyepi dan semedi.


Rimba mempercepat langkahnya begitu sampai di ruang ganti yang ada di area kolam renang dan sauna. Cepat-cepat membuka kemeja dan celana panjangnya, hanya menyisakan selembar boxer hitam saja. Lalu memasukkan semua bajunya ke dalam loker. Sebelum masuk ke dalam ruang sauna.


Kriet! Ruangan sauna berukuran lima kali lima meter terbuka. Hawa panas dari batu-batuan api yang dibakar di dalam perapian langsung menghembus menerpa kulit Rimba yang berwarna kecokelatan.


Untung saja Rimba sudah membuka semua bajunya sebelum kemari, kalau tidak, dia bisa berkeringat, tidak nyaman berbicara dengan Prince. Salah-salah malah emosi akan tersulut jika suhu ruangan lebih tinggi dari pada di luaran.


Rimba melihat tubuh Prince yang seperempat tertutup kain katun, membuka matanya perlahan. Rupanya Prince tertidur kembali setelah menutup panggilan telepon Rimba.


"Apa kabar, Prince?" sapa Rimba berbasa-basi lebih dahulu.


"Ngantuk dan haus, Kak," jawab Prince jujur sambil mengelus kerongkongannya yang kering, butuh disirami air dingin. Tubuh Prince yang kekar dan padat berisi juga penuh pundi-pundi keringat.


"Nanti Kakak traktir minum minuman dingin di cafe depan. Buka 24 jam kan cafenya?"


Prince mengangguk. "Terima kasih banyak, Kak."


"Prince, Kakak langsung ngomong aja ya," ucap Rimba sudah tidak ingin berlama-lama basa basi.


"Ada apa, Kak?" tanya Prince sambil menguap lebar dan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Lalu duduk tegak dan memperhatikan Rimba dengan seksama. Kantuknya entah menguap ke mana. Sikap pengacaranya yang profesional langsung bercokol di sana.


"Apakah kamu tahu kalau Kakek Hades akan menjodohkanmu dengan Leony, sahabatku?" tanya Rimba.


Prince menganggukan kepalanya.


"Kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Rimba lagi.


Prince menganggukan kepalanya lagi.


"Apakah kamu tahu bagaimana kondisi Leony saat ini?" tanya Rimba.


Prince menganggukan kepalanya lagi dan lagi.


"Ya ampun, Prince. Kenapa hanya menganggukkan kepala saja sih dari tadi?" ucap Rimba kesal dengan tanggapan Prince.


Prince menyungging senyum lalu mulai berbicara.


"Kakak datang ke sini karena ingin tahu kenapa Prince tidak menolak perjodohan yang dibuat Kakek?" tanya Prince serius.


Kali ini giliran Rimba yang mengangguk. "Ceritakan padaku dengan jujur. Kenapa kamu tidak menolak ditunangkan dengan Leony. Padahal Leony adalah korban perkosaan dan sedang hamil anak pemerkosa."


Prince mengambil nafas dalam-dalam.