
Tatapan dingin yang biasa diperlihatkan Andre pada semua orang, tiba-tiba menghangat saat melihat seorang wanita dengan rambut panjang berwarna kecokelatan.
Wanita itu masih tetap cantik dan bersinar walau hanya dibalut make up tipis. Tidak ada banyak perubahan pada tubuhnya. Masih tetap langsing dan singset. Walaupun enam tahun silam pernah mengandung dan melahirkan seorang putra yang wajahnya sangat mirip dengan Andre. Hanya rambutnya saja yang berwarna kecokelatan, persis dengan warna rambut wanita itu.
"Kinan," panggil Andre yang masih menggendong putra tampan Kinan.
Kinan menoleh perlahan ke arah sumber suara. Matanya yang bulat langsung dipenuhi genangan air yang turun seperti kristal jernih. Bibirnya yang disapu lip tint peach coral terlihat bergetar menggaungkan nama pria yang terus dicarinya sejak menginjakkan kaki di bumi Surabaya. "Kak Andre."
Walaupun kakinya bergetar dan lemas, Kinan tetap memaksakan diri untuk bangkit berdiri mendekat pada pria dan putra tunggalnya yang terus bergelanyut manja dalam gendongan.
"Kalian baik-baik saja? Kenapa kalian basah kuyup begini?" tanya Kinan begitu melihat wajah pucat Rimba, bibirnya membiru beku.
"Di luar sedang hujan deras, Kinan. Putramu mengejar mobilku agar kita dapat bertemu," jelas Andre merasa perlu menjelaskan bahwa putra Kinan kehujanan demi mempertemukan Kinan dengan dirinya. Berharap Kinan tidak memarahi putranya atau dirinya.
"Rimba, kau baik-baik saja, Nak?" tanya Kinan dengan wajah cemas.
Sejak kecil, Kinan selalu memprotektif Rimba untuk tidak berhujan-hujanan selama tinggal di pulau asing. Selain karena hujan dan angin dingin di pulau asing dapat menyebabkan hipotermia (turunnya suhu tubuh), hutan juga sangat berbahaya jika hujan lebat. Tanah menjadi lumpur dan jika tidak berhati-hati saat berjalan dapat tersedot masuk ke dalam lumpur. Nyawa dapat melayang kapan saja. Jadi tubuh kecil Rimba yang jarang kehujanan langsung beraksi buruk saat kehujanan.
"Kak Andre, tolong bawa Rimba ke UGD. Rimba harus mendapatkan pengobatan. Aku khawatir dia mengalami hipotermia," ajak Kinan dengan raut wajah khawatir.
"Hipotermia?" tanya Andre tak percaya.
Hujan di luar memang lebat tapi kami hanya kehujanan sebentar saja, bagaimana mungkin langsung hipotermia secepat ini? batin Andre.
"Kak Andre, Rimba berbeda dengan anak kecil yang lain. Dia lahir di hutan dan aku tidak pernah mengijinkannya hujan-hujanan karena takut dia sakit, kesulitan dalam pengobatan dan macam-macam pertimbangan lainnya," jelas Kinan yang ingin segera mengakhiri perdebatan ini.
Oh! Sebelah tangan Andre langsung terulur ke depan Kinan, berharap Kinan mau menggenggam tangannya, berlari bersama menuju UGD.
Dua detik Kinan terdiam melihat uluran tangan Andre, detik berikutnya mereka sudah bergandengan mesra hingga membuat perawat dan pengunjung rumah sakit kembali bergunjing.
"Sedari tadi pria tampan dan wanita cantik ini berlari-lari di sepanjang koridor rumah sakit. Kalau mau pacaran, tolong cari tempat yang lebih romantis dong! Masak lari-lari di rumah sakit kayak film India saja sih?" ucap pengunjung rumah sakit yang super julid.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga tiba di UGD. Rimba segera ditangani oleh para dokter UGD. Mereka melepas pakaian basah Rimba, mengukur suhu tubuh Rimba yang lebih rendah daripada normal lalu membungkus tubuh mungil Rimba dengan selimut elektrik yang hangat. Perawat juga memberikan teh manis hangat untuk Rimba.
"Putra ayah dan bunda sekarang sudah boleh dibawa pulang. Selalu berikan makanan dan minuman hangat padanya. Pakai mantel atau baju yang lebih tebal. Dan jangan lupa untuk memakai payung atau jas hujan saat hujan," ucap seorang dokter muda yang bertugas di UGD.
"Saya boleh melihatnya, Dokter?" tanya Kinan meminta ijin untuk mendekati putranya yamg terbaring di dalam ruangan yang ditutup korden warna kuning.
"Tentu, Bunda. Ayah dan Bunda boleh menjenguknya sekarang. Untuk urusan administrasi, tolong diselesaikan sebelum pulang." Dokter muda berpamitan untuk memeriksa pasien yang lain.
"Terima kasih, Dokter," ucap Andre karena Kinan sudah melesat ke dekat Rimba sebelum mendengar ucapan terakhir dari dokter. Dengan perasaan yang selalu ingin membalas semua budi kebaikan Kinan, Andre tanpa ragu berjalan ke kasir dan membayar semua biaya pengobatan Rimba. Rimba sakit karena dirinya, jadi sudah sewajarnya Andre membayar semua biaya pengobatan Rimba.
Setelah selesai dengan urusan bayar membayar di kasir, Andre masuk ke ruangan tempat Rimba dirawat. Pria kecil itu tertidur, mungkin dokter memberinya obat yang membuatnya mengantuk. Hahaha ... Padahal itu hanya akal-akalan Rimba yang ingin memberi waktu untuk ayah dan bunda agar dapat bercengkrama. Dokter tidak pernah memberikan obat apapun pada Rimba.
Andre mengusap-usap rambut Rimba yang masih lembab. Ada desir aneh yang melanda hatinya. Sebuah perasaan ingin melindungi dan menjaga pria kecil yang rapuh oleh air hujan. "Maaf, seharusnya aku mengeringkan tubuh dan rambutmu dulu di dalam mobilku, baru mengajakmu ke hadapan bundamu. Baju basah, masuk ke ruang ber-ac, pasti tambah kedinginan. Maafkan aku."
Hello, Andre yang dingin, suka mengancam Rendra dengan kata-kata potong gaji tiap Rendra berbuat salah, kenapa dengan begitu mudahnya mengucapkan kata maaf pada seorang anak kecil berumur lima tahun? Apakah setelah diguyur hujan deras ada sesuatu yang menggelitik pikiran dan perasaan Andre hingga berubah total? Sepertinya bukan karena hujan deh. Tapi karena sifat kebapakan yang ada di dalam dirinya mulai berkecambah perlahan-lahan.
"Kak Andre, ini bukan kesalahan Kakak. Semuanya adalah kesalahan Kinan. Kinan terlalu protektif pada Rimba jika menyangkut urusan hujan," sela Kinan yang terus menggenggam tangan Rimba dan menempelkannya di pipinya yang mulus tanpa noda. Seperti ingin menyalurkan kehangatan pelukan bunda di setiap sentuhan lembutnya.
Andre memandangi Kinan yang kini sudah berubah menjadi pribadi yang lebih perhatian dan keibuan. Sebuah senyum terukir di bibir Andre. "Kukira aku tak kan pernah bertemu denganmu kembali. Karena kita sudah terpisah di alam yang berbeda."
"Maksud, Kak Andre?" tanya Kinan bingung.
"Sekertarisku mengatakan bahwa baru-baru ini namamu terdaftar dalam laporan kematian. Tubuhmu sudah dikremasi dan abumu disimpan di sebuah rumah duka mewah. Aku bahkan sudah menghentikan tugas untuk mencari tahu tentang kematianmu karena aku ingin melupakanmu," jawab Andre. "Tapi syukurlah, berkat Rimba, aku dapat bertemu denganmu secara langsung, Malaikat Penolongku."
Wajah Kinan memerah mendengar sebutan yang disematkan Andre padanya. Andre mendekati Kinan dan mengelus pucuk kepala Kinan.
"Kata Rimba, selama ini kalian hidup di pulau asing. Apakah itu benar?" tanya Andre ingin mendengar semua kebenarannya dari bibir mungil Kinan. Bibir yang pernah ia cumbu mesra enam tahun yang lalu. Dan ...
Astaga! Kenapa pikiranku jadi melayang-layang ke kejadian malam romantis itu? batin Andre buru-buru menurunkan tangannya yang sudah berani menyentuh tubuh lawan jenis yang bukan ibu maupun adik perempuannya.
OMG, please fokus dengan pertanyaanmu, Andre.