
"Apakah sekarang kau sudah percaya pada ucapan Om Rendra?" tanya Rendra sambil menikmati sarapan pagi yang super lezat, hanya berdua dengan Rimba.
Rimba yang mulutnya masih penuh dengan wonton goreng isi daging ayam, menjawab pertanyaan Rendra dengan anggukan kepala dan mengacungkan dua ibu jarinya.
Rendra tersenyum bangga. Lalu memanggil kepala pelayan. Ada info penting yang harus disampaikannya.
"Iya, ada apa, Pak Rendra?" tanya kepala pelayan. Pria tua berkepala botak, kira-kira usianya lima puluh tahunan.
"Begini, Pak Broto. Nanti pukul sembilan, desain interior akan datang dan mulai merenovasi kamar yang ada di depan kamar Pak Andre. Lalu pukul sepuluh akan ada kontraktor yang akan memasang permainan outdoor di halaman belakang. Saya sudah menginfokan hal ini ke satpam. Jadi tolong segera diantar ke lokasi jika mereka sudah datang ya, Pak. Agar mereka dapat segera bekerja. Mohon kerja samanya, Pak Broto," jawab Rendra.
"Baik, Pak Rendra. Kira-kira mereka akan bekerja berapa lama ya, Pak?" tanya Pak Broto.
"Mereka selesai bekerja pukul lima sore. Ehm ... mungkin butuh waktu sekitar seminggu untuk menyelesaikan semuanya,' jawab Rendra.
"Baik, Pak. Jadi selama seminggu saya akan meminta koki dapur untuk menyiapkan makan siang dan camilan untuk para desaign interior dan pekerja kontraktor. Kira-kira berapa jumlah seluruhnya, Pak?" tanya Pak Broto.
"Tujuh orang."
"Baik, Pak."
"Oiya, Pak Broto. Mungkin sekitar tengah hari, ada staf kantor yang akan mengirim beberapa buku kemari. Tolong letakkan buku-buku tersebut di kamar Rimba," pinta Rendra.
"Baik, Pak."
"Sudah itu saja yang ingin saya sampaikan. Bapak boleh kembali bekerja," ucap Rendra.
Kepala pelayan membungkuk hormat lalu pergi ke dapur. Banyak hal yang harus ia persiapkan karena akan ada tambahan tujuh orang yang akan makan siang di rumah hari ini.
Rimba yang sekarang sedang makan bakpau isi daging sapi kembali mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Rendra. Lalu membuat tanda hati dengan ibu jari dan jari telunjuk.
"Terima kasih kembali, Rimba. Saya hanya menjalankan perintah dari Pak Andre." Rendra mengusap rambut cokelat Rimba. "Setelah sarapan, apa kegiatan Rimba selanjutnya? Membaca buku di ruang kerja Pak Andre?"
Rimba mengunyah bakpaonya lalu menyeruput teh pahit hangat di dalam cangkir. Setelah mulutnya kosong, Rimba baru berbicara.
"Rimba mau ikut ayah dan Om Rendra ke kantor," jawab Rimba enteng.
"Apa? Mau ikut Ayah ke kantor?" tanya Andre yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. Andre menarik kursi di sebelah Rimba dan duduk di sana. Mengabaikan secangkir kopi susu hangat yang sudah menanti Andre sedari tadi.
"Iya, Rimba mau ikut meeting bersama Ayah." Rimba kembali memasang muka pingin kepada Andre. Tapi kali ini hati Andre tidak semudah itu luluh. Kantor bukanlah tempat yang cocok untuk anak-anak.
"Apakah Rimba mengetahui apa itu meeting?" tanya Rendra yang sekarang mengerti kenapa kemarin malam Rimba menanyakan jadwal kegiatan Andre pagi ini. Ternyata mau ikut ayahnya kerja to?
"Meeting adalah suatu pertemuan untuk membahas proyek penting. Dalam dunia perusahaan, meeting adalah hal yang sering dilakukan. Meeting dilakukan untuk membahas suatu proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan tapi bisa juga untuk mengevaluasi kinerja perusahaan." Rimba dengan lancar menjelaskan arti kata meeting.
Rendra mengerjabkan matanya dan langsung menyambar segelas air putih. Meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena syok dengan ketepatan jawaban Rimba.
Sepertinya aku salah memberi pertanyaan, anak jenius kok dilawan? Batin Rendra.
Andre berdehem sambil menatap Rendra dengan kesal. Rendra langsung menunduk.
"Bagus, Rimba. Jawabanmu tepat sekali. Tapi apakah Rimba tahu kalau meeting itu hanya untuk pegawai kantor dan pemilik perusahaan yang berhubungan dengan proyek penting?" tanya Andre yang tak ingin mengajak putranya ke kantor.
Bisa kacau balau kantor kalau tetiba Rimba datang dan mengatakan kalau dirinya adalah putra Andre. Dapat dibayangkan rumor apa yang langsung beredar di kalangan karyawan kantor dan para pemegang saham. Aish! Jangan sampai berita ini mempengaruhi harga saham di pasar modal.
"Rimba tahu. Dan sebagai putra dari ayah, bukankah itu berarti Rimba juga termasuk orang yang boleh ikut terlibat dalam proyek penting perusahaan ayah?" tanya Rimba dengan raut wajah mengiba.
Andre berdehem. Ini anak pinter banget menjawab pertanyaanku, batin Andre.
"Putraku, tentu saja kau boleh terlibat dalam urusan bisnis ayah. Namun bukan sekarang. Usiamu masih lima tahun. Anak berusia lima tahun itu seharusnya belajar di taman kanak-kanak bersama teman sebaya. Bukan ikut meeting di kantor bersama orang dewasa," jawab Andre.
"Tapi sekolah Rimba kan sedang libur, Ayah. Para guru sedang retret di luar kota. Tiga hari pula. Daripada Rimba bosan di rumah, lebih baik Rimba ikut ke kantor," sahut Rimba.
"Satu lagi, Yah. Area bermain outdoor dan kamar hutan rimba baru akan dikerjakan hari ini. Butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya. Rimba bingung mau ngapain sepanjang hari ini," tambah Rimba.
"Bagaimana kalau ikut bunda saja? Kata bunda kemarin malam, bunda ada operasi penyambung tulang nanti siang. Bukankah Rimba adalah asisten terbaik bunda?" tanya Andre berusaha mengalihkan tugas menjaga Rimba pada bundanya.
Rimba menggelengkan kepalanya. "Karena klinik bunda cukup ramai, bunda sudah merekrut seorang perawat. Rimba rasa kehadiran seorang perawat dapat membantu bunda lebih baik daripada Rimba. Jadi hari libur ini akan Rimba pakai untuk belajar di kantor Ayah."
Deng! Andre mati kutu. Tidak mungkin menang berdebat dengan putranya.
Seharusnya aku membangunkan Kinan supaya dia bisa mencegah Rimba ikut meeting di kantor. Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali. Keadaan pasti tidak akan sekacau pagi ini, batin Andre.
"Rimba ikut ayah saja ya? Kalau ternyata meeting itu membosankan, Rimba tidak akan mengganggu ayah lagi ke depan," ucap Rimba.
Andre menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ucapannya.
"Ehm ... Baiklah, Rimba boleh ikut meeting di kantor tapi ada syaratnya. Rimba tidak boleh banyak bicara saat berada di kantor. Jika ada yang menanyakan siapa Rimba, jangan dijawab ya. Cukup dibalas dengan senyum manis. Bagaimana? Bisa?" tanya Andre.
"Tentu saja bisa. Rimba tidak akan mengatakan bahwa Rimba adalah putra Ayah pada siapapun. Ayah tidak perlu khawatir. Rahasia ini hanya Om Rendra saja yang tahu. Terima kasih, Ayah," jawab Rimba senang keinginanya terkabul.
Andre tersenyum mendengar jawaban Rimba.
Anak ini ternyata memahami perasaanku. Dia tahu posisinya masih belum diakui secara sah secara hukum. Jadi dia paham kalau identitasnya belum boleh diberitahukan kepada orang lain, batin Andre.
Rimba segera menghabiskan sarapannya. Kali ini misinya, selain ingin mengembangkan wawasan, Rimba juga ingin melihat situasi kantor ayahnya dan siapa orang-orang yang berhubungan dengan ayahnya. Apakah di kantor, ayah punya patner kerja wanita yang dapat menghambat hubungan ayah dan bunda? Rimba berharap tidak ada seorang wanita pun yang menjadi pesaing bundanya. Btw, di rumah ayah semua pelayan, tukang kebun dan satpam adalah pria. Jadi, kondisi lingkungan rumah sudah dipastikan aman, tidak ada pesaing sama sekali. Sekarang Rimba hanya perlu memeriksa lingkungan kerja ayahnya.
"Oh iya, Tina juga mau ikut, Ayah," pinta Rimba dengan wajah menggemaskan.
"Kalian berdua sudah satu paket, tidak mungkin dapat dipisahkan. Ayah sudah tahu kalau ujung-ujungnya kamu pasti mengajak Tina ke kantor. Jadi, ayah akan menambah persyaratannya," ujar Andre.
"Apa syaratnya, Ayah?" tanya Rimba.
"Jangan membuat geger kantor," jawab Andre langsung menyeruput kopi susunya.
"Beres, Ayah."