CEO'S Prince

CEO'S Prince
Janji Membuatmu Bahagia Selamanya



Hari sudah beranjak sore, namun pasangan suami istri yang baru menikah masih tertidur di atas peraduan yang sudah acak-acakan. Kelopak mawar biru beserta hiasan handuk berbentuk sepasangan angsa bertebaran di lantai. Belum lagi setelan jas, dasi dan kemeja terlempar ke segala arah.


Perlahan Andre membuka kelopak matanya yang masih mengantuk berat. Rasa lapar dan dahaga membuat perut Andre bergolak minta diisi. Butuh asupan energi tambahan setelah mengerahkan energi habis-habisan selama dua setengah jam.


Andre menyibakkan selimutnya, berjalan tanpa suara menuju ke arah kulkas tempat surga makanan dan minuman sehat disimpan.


Brrr! Udara dingin kulkas membelai tubuh Andre yang polos tanpa sehelai benang pun. Cepat-cepat Andre mengambil apel segar dan sebotol air mineral dingin, lalu menutup pintu kulkas. Menikmati kudapan sehatnya dengan lahap.


Sambil makan, Andre memandangi wanita cantik berambut cokelat yang masih tertidur pulas. Andre tersenyum. "Hidupmu begitu berat dan kau sudah bekerja keras. Kini saatnya kau duduk sambil meluruskan kaki dan menikmati hidup."


Pencarian Kinan selama enam tahun akhirnya berbuah manis. Wanita cantik yang begitu hebat, berani membesarkan putranya seorang diri di pulau asing kini telah menjadi soulmatenya seumur hidup. "Aku akan membuatmu bahagia selamanya."


Andre meneguk isi botol air mineral hingga tandas lalu berjalan ke ruang wardrobe-nya, mengambil pakaian santai. Celana pendek cokelat dengan kemeja cream lengan pendek. Memakainya dan segera keluar dari kamarnya. Ia harus menemui Pak Broto. Pasti Tante Komang sudah menitipkan pesannya pada Pak Broto.


***


Di kamar tidur Andre.


Aroma fresh woody parfum yang disemprotkan Andre di titik nadi tubuhnya berhasil membangunkan Kinan dari mimpi indahnya. Mata bulat dengan bulu mata lebat dan lentik Kinan mengerjab, mengusir kantuk yang masih menghantuinya padahal sudah tertidur begitu lama.


"Mau kemana, Kak? Kok sudah rapi?" tanya Kinan sambil meregangkan tangannya ke atas. Selimut silver tebal yang menutupi tubuhnya langsung melorot ke bawah, membuat Andre langsung mengalihkan fokus pandangannya ke tubuh polos Kinan.


Ups! Kinan langsung menyilangkan tangannya, menutupi area yang siang tadi dieksplore habis-habisan oleh suaminya. Andre yang melihatnya tertawa kecil menertawakan kegugupan Kinan.


Aku sudah melihat seluruhnya siang tadi, jadi tak usah lagi menutupinya, batin Andre.


"Ikut yuk! Makan malam bersama Om dan Tante Komang. Mungkin akan ada dua atau tiga teman Om Komang juga akan datang. Berpakaian kasual saja. Sepuluh menit waktumu untuk mandi dan berpakaian," ajak Andre sembari memasang arloji mewah di pergelangan tangannnya.


Di atas nakas sudah ada kaos biru langit dan celana jeans untuk Kinan, senada dengan pakaian yang Andre kenakan malam ini.


"Astaga! Hanya sepuluh menit?" pekik Kinan buru-buru menyibakkan selimutnya dan turun dari peraduan. Berlari kecil ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun.


Andre terkekeh lalu duduk di sofa, menunggu istrinya mandi dan berdandan kilat. Andre mengambil ponselnya dan menelepon Rendra.


"Selamat malam, Pak Andre," salam Rendra dengan suara serak. Pasti Rendra habis bangun tidur. Mumpung hari Minggu, tidak ada lembur kerja, ya dipakai tidur lah setelah sesiangan main games online bersama putra atasannya.


"Rendra, berapa besar saham yang dimiliki oleh Om Komang dan beberapa teman dekatnya di Ariandono Group?" tanya Andre.


"Tunggu sebentar, Pak! Saya baca dulu listnya. Sebelum pergi ke San Fransisco, saya sudah merekapnya," jawab Rendra cepat-cepat mencari lembaran-lembaran kertas berisi daftar nama para pemegang saham Ariandono Group yang tinggal di Indonesia.


"Ketemu! Om Komang, paman anda, memiliki 0.5% saham Ariandono Group, Pak. Dan jika digabung dengan saham milik tiga orang teman dekat Om Komang, berarti jumlah seluruhnya 2%, Pak," sambung Rendra.


"Berapa persen saham Pak Hendra Wibisono?" tanya Andre.


"Kalau Pak Hendra Wibisono, beliau punya 2% saham, Pak."


"Pak Erickson memiliki saham 3%, Pak. Tapi Pak Erickson adalah mantan kekasih Bu Ayu Sekar, sebelum Bu Ayu Sekar menikah dengan ayah Bapak. Saya rasa kecil kemungkinan, beliau berpindah hati dan memihak Bapak," jawab Rendra.


Andre berdehem. "Kira-kira siapa yang akan memihak padaku saat rapat pemegang saham besok?"


"Song Rudolph, Pak. Saya sudah menyelidikinya. Ternyata Song Rudolph adalah Profesor Rudolph, kakak dari dokter Song Hwa. Enam tahun lalu Profesor Rudolph mulai sedikit demi sedikit membeli saham Ariandono Group. Dan sekarang total saham yang dimiliki adalah 1%. Saya yakin Profesor Rudolph akan memihak Bapak setelah melihat kedekatan Bapak dengan dokter Song Hwa," jawab Rendra.


Andre menganggukkan kepala. "Aku akan meminta bantuan Kinan untuk menghubungi Profesor Rudolph. Kurasa Profesor Rudolph masih mengingat jasa besar yang Kinan lakukan saat masih bekerja di laboratoriumnya. Semoga saja beliau mau berpihak padaku."


"Baik, Pak. Apakah ada sesuatu yang dapat saya bantu?" tanya Rendra.


"Doakan saja supaya rencana yang kususun malam ini berhasil," jawab Andre.


"Siap, Pak."


Panggilan telepon ditutup tepat bersamaan dengan Kinan yang sudah berpakaian kasual. Rambut cokelatnya masih basah tapi tidak ada waktu untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Waktu sepuluh menit untuk mandi keramas dan berpakaian benar-benar sangat minim. Kinan butuh tambahan waktu lima menit lagi.


"Aku bantu mengeringkan rambutmu," ucap Andre langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah Kinan.


"Duduklah dan aku yang akan mengeringkan rambutmu." Andre meletakkan tangannya di bahu Kinan dan meminta Kinan duduk dengan nyaman di atas kursi meja rias. Di atas meja rias ada bedak dan sebuah lipstik. Kinan segera memoleskan bedak dan lipstik ke wajah cantiknya.


Ngung! Ngung! Ngung! Bunyi hair dryer membuat suasana malam pengantin baru ini makin romantis. Sepuluh menit kemudian mereka berdua sudah on the way ke rumah Om dan Tante Komang.


Beberapa menit kemudian, Andre dan Kinan tiba di rumah Om dan Tante Komang.


"Kinan, setelah makan malam, aku, Om Komang dan teman-temannya akan berbicara tentang bisnis. Kalau kau tak keberatan, apakah kau mau ikut berbincang-bincang bersama kami?" tanya Andre.


"Aku akan ikut kemana pun Kak Andre mengajakku. Sama seperti Rimba, aku juga suka hal baru yang menarik dan menantang. Tidak ada salahnya dokter hewan untuk belajar urusan bisnis perkantoran yang bergerak di bidang real estate," jawab Kinan.


Andre tersenyum. "Terima kasih. Kita dengarkan apa yang akan mereka bicarakan malam ini. Setelah itu, ada satu hal yang ingin kuminta darimu."


"Satu hal? Asal Kinan sanggup melakukannya, Kinan akan membantu Kak Andre. Tapi kalau Kinan tak sanggup, Kinan akan terus berusaha."


"Sungguh beruntung aku memilikimu," balas Andre sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi Kinan.


Hati Kinan bahagia sekali. Jarang ada suami atau pria yang mau berbagi cerita dengan istri atau wanitanya jika punya masalah. Tapi Andre berbeda, sebelum menikah, Andre sudah mengajaknya berdiskusi untuk menyelesaikan masalahnya. Andre ingin menjatuhkan ibu dan adik tirinya dan dia membutuhkan bantuan Rimba.


Dan siang tadi, Andre mengungkapkan kekhawatirannya. Andre tidak merahasiakannya dari Kinan jika dia dapat dilengserkan sebagai CEO Ariandono Group jika dalam rapat pemegang saham besok, dia kalah dalam perolehan suara.


Malam ini, Andre mengajak Kinan untuk bertemu dan berbincang-bincang bersama para pemegang saham sebelum rapat pemegang saham.


Sebagai suami istri, Kinan senang dilibatkan dalam menghadapi suka dan duka kehidupan rumah tangga.


Tolong doakan kami agar lancar negosisasinya, doa Kinan dalam hati.