
Bruk! Seorang anak perempuan gemuk tersungkur jatuh di sebuah gang sempit yang ada di dekat sekolah. Gang itu sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang lalu lalang di sana.
Dan karena bagian tulang ekor Leony membentur jalan gang sempit dengan keras dan sangat sakit, ia pun menangis tersedu-sedu.
Tas sekolah Leony yang baru saja dibelikan oleh ibunya diaduk-aduk oleh segerombolan anak laki-laki yang tubuhnya lebih besar daripada Leony.
"Mana dompetnya? Apakah kalian sudah menemukannya?" tanya pemimpin segerombolan anak laki-laki itu. Tubuhnya paling gemuk dibandingkan kawan-kawannya.
"Tidak ada, Ketua," jawab seorang anak laki-laki kurus dan tinggi.
Ketua dengan langkah berat segera berjalan ke arah Leony yang masih terus menangis. Rasa sakit dan rasa takut seakan bercampur aduk, membuat air mata Leony tidak berhenti mengalir membasahi pipinya yang tembem dan kemerahan itu.
"Berikan uangmu, cepat! Jika kau tidak memberikan uangmu, aku akan merobek bajumu dan membuang tas sekolah barumu," ancam Ketua dengan nada ketus.
"Aku tidak membawa uang hari ini, Kak. Maafkan aku," balas Leony ketakutan.
"Bohong! Pasti kau sembunyikan uangmu di balik bajumu. Akan kurobek bajumu!" bentak Ketua.
Gerombolan anak laki-laki di belakang Ketua langaing bersorak sorai, "Ya, buka saja bajunya, Ketua. Pasti dia menyembunyikan uangnya di perutnya yang gendut itu."
Prang! Klontang!
Beberapa batu kecil tiba-tiba melesat di sekitar Ketua. Dan mengenai beberapa tong besar yang ada di dekat Leony jatuh terduduk. Leony yang ketakutan dengan banyaknya serangan batu-batu yang menimbulkan suara yang berisik, langsung meringkuk ketakutan. Melindungi wajahnya dengan tangannya yang putih dan gemuk.
"Aduh! Aduh! Tolong! Tolong!" pekik Ketua dan gerombolan anak laki-laki ketakutan. Mereka kaget dengan serangan batu-batu kerikil bak hujan meteor. Jatuh bertubi-tubi dari langit. Begitu mengerikan.
"Lari! Lari!" pekik Ketua mengomando anak buahnya untuk segera meninggalkan Leony di gang sempit.
Setelah semua anak pengganggu Leony pergi. Seseorang berlompatan turun dari atas atap bangunan yang mengapit gang sempit. Seorang anak laki-laki dengan wajah tampan dengan rambut panjang kecokelatan. Ia menghampiri tas sekolah milik Leony. Memunguti semua benda-benda milik Leony yang tercecer di jalanan. Membersihkannya dulu lalu memasukkannya ke dalam tas sekolah Leony.
"Ini tasmu, Leony. Ayo pulang bersamaku! Aku akan mengantarmu pulang lebih dahulu," ucap anak laki-laki itu lembut.
Leony menengadahkan wajahnya saat mendengar suara lembut seorang anak laki-laki.
"Rimba!" pekik Leony kaget melihat Rimba, teman sebangkunya ada di gang sempit.
Rimba mengulurkan tangannya, berusaha membantu Leony berdiri. Tapi Leony malah terpukau pada ketampanan Rimba, penolongnya.
"Leony, ayo bangun!" pinta Rimba dengan suara halus. Seorang pria haruslah menyayangi seorang perempuan. Apalagi yang lemah, sering dibully oleh teman-teman, seperti Leony.
Leony dengan malu-malu meletakkan jemari tangannya ke tangan Rimba. Dan hap! Tubuh Leony yang gemuk ditarik dengan cepat oleh Rimba hingga Leony dalam sekejab sudah berdiri di atas aspal jalan gang sempit.
"Pakai tasmu," pinta Rimba yang sekarang menyodorkan sebuah tas berbentuk kepala unicorn pada Leony.
"Terima kasih banyak, Rimba. Kau sudah menolongku," ucap Leony.
"Sama-sama. Leony, apakah mereka sudah lama memgganggumu?" tanya Rimba tanpa bermaksud ingin mengejek dan merendahkan Leony.
Leony mengangguk pelan.
"Apakah kau pernah melaporkannya kepada orang tuamu atau kepada bu Paula?" tanya Rimba lagi.
Leony menggelengkan kepala. "Mereka mengancamku. Jika aku melapor kepada orang dewasa, mereka akan menerorku," jelas Leony.
Rimba menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau begitu, biarkan aku yang melaporkan hal ini kepada Bundaku. Bukan kamu yang melapor pada orang dewasa, tapi aku. Jadi jika mereka mau meneror, biar saja mereka yang menerorku," balas Rimba.
Leony tertunduk malu.
"Leony, perkara bullying seperti ini harus kita laporkan kepada orang dewasa. Sehingga mereka dapat segera bertindak dan membantu korban bullying. Jika korban bullying tidak melaporkan, maka pelaku bullying akan semakin menjadi-jadi. Seperti tadi. Mereka tidak hanya ingin meminta uang padamu, tapi juga ingin melecehkanmu," jelas Rimba.
"Ya, kebetulan hari ini Bunda tidak dapat menjemputku pulang sekolah. Karena Bunda harus membantu seekor kuda melahirkan si peternakan. Jika saja Bunda hari ini tidak berhalangan, pasti aku tidak akan lewat di dekat sini dan mendengar jerit ketakutanmu, Leony," jelas Rimba.
Leony menatap wajah tampan Rimba dengan hangat. "Terima kasih, Rimba. Kau sudah menolongku."
"Jika kau memiliki masalah besar, berbagilah dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Contohnya dengan orang tuamu atau dengan guru di sekolah. Sebagai orang tua dan guru yang baik, mereka pasti akan menolong memecahkan masalah putra putrinya," jelas Rimba.
"Rimba, apakah aku boleh berbagi masalah denganmu?" tanya Leony memelas.
Rimba mengangguk. "Tentu saja. Katakan masalahmu. Jika aku dapat menolongmu, aku akan menolong. Tapi jika tidak dapat menolongmu, aku akan meminta bantuan Bundaku."
"Rimba, kau sangat beruntung memiliki seorang Bunda yang begitu menyayangi dan memperhatikanmu. Sungguh berkebalikan denganku. Bundaku tidak memiliki waktu untuk menemaniku. Bundaku terlalu sibuk bekerja di kantor karena ayahku sudah pergi dari rumah sejak aku masih bayi. Kasihan Bunda, dia memikul tanggung jawab untuk menjadi kepala keluarga juga," balas Leony.
Rimba mengangguk mengerti.
Masalah yang dihadapi Leony memang tidak mudah diselesaikan. Jadi aku harus membantunya, batin Rimba.
"Aku juga belum pernah sekalipun bertemu Ayahku, Leony. Tapi jangan bersedih. Mulai sekarang Rimba akan menjaga dan melindungi Leony. Rimba juga akan membantu Leony jika Leony punya masalah," janji Rimba.
"Terima kasih, Rimba." Leony memeluk Rimba dengan erat hingga Rimba kesulitan bernafas.
"Ayo sekarang Rimba antar pulang yuk!" ajak Rimba.
"Ayo pulang!" Leony menggandeng tangan Rimba dan mereka berjalan bersama meninggalkan gang sempit.
Sambil berjalan kaki, mereka berdua terus lanjut mengobrol.
"Rimba, bagaimana caranya melempar batu-batu kecil secepat dan sekeras itu tanpa melukai Ketua dan anak buah yang sudah membullyku tadi?" tanya Leony penasaran.
"Dahulu saat aku masih tinggal di pulau asing, aku sering melakukan itu untuk melindungi diriku dan keluargaku," jawab Rimba.
"Apakah kau belajar tehnik melempar batu dari Bundamu?" tanya Leony lagi.
Rimba menggelengkan kepala.
"Aku mempelajarinya dari pengamatanku terhadap hewan-hewan di hutan. Apa yang mereka lakukan saat dalam keadaan terjepit dan hendak dimangsa oleh hewan buas? Ada yang berlari ketakutan tapi juga ada yang melawan. Caranya bermacam-macam. Dan aku mempelajarinya bersama Tina agar dapat menjadi yang terhebat di hutan," jawab Rimba.
"Oh, wow, keren sekali." Leony bertepuk tangan mendengar cerita Rimba.
"Aku akan mengajarkan sedikit padamu. Sehingga ke depan, Leony dapat melindungi diri sendiri jika keadaan tidak aman," ucap Rimba.
"Terima kasih, Rimba."
"Walaupun aku memiliki kemampuan untuk bertahan diri dari mahluk lain, tapi aku tidak boleh menyakiti mahluk lain. Karena mahluk di dunia ini memiliki orang tua yang melahirkan dan membesarkan. Orang tuanya akan marah jika ada seseorang yang menghukum anak mereka terlalu berlebihan," jelas Rimba.
"Oh begitu. Makanya tadi kamu hanya membuat para pembully itu ketakutan dengan hujan batu meteor, Rimba," ucap Leony mengerti.
"Benar, Leony. Kalau aku menyakiti mereka dengan memukul, menendang atau menggigit mereka. Orang tua mereka pasti akan marah dan itu akan merepotkan Bundaku," jelas Rimba.
Leony mengangguk paham.
"Dulu saat masih di hutan, aku pernah melakukan kesalahan. Aku pernah menyakiti anak buaya yang menggigit anak burung yang terjatuh di air sungai saat pertama kali belajar terbang. Dan sejak itu ibu buaya menaruh dendam padaku. Aku hampir celaka saat bermain di dekat sungai. Untunglah Bunda dan Tina menolongku. Bunda sempat terluka karena sabetan ekor buaya. Tapi syukurlah, lukanya tidak parah. Sejak itu, aku selalu berhati-hati dalam bertindak. Semuanya harus dipikirkan lebih dahulu dengan baik, jangan langsung menuruti emosi dan perasaan," jelas Rimba.
"Rimba, kau sangat luar biasa. Kau sangat bijaksana dan dapat mengontrol emosimu dengan baik," ucap Leony lirih dan penuh kekaguman.
Rimba tersenyum mendengar pujian Leony.
Jika kau hidup di hutan selama bertahun-tahun bersama keluargamu, pasti kau akan mengerti bagaimana cara untuk bertahan hidup dengan sebaik mungkin di alam liar. Sulit. Tapi jika memang kau ikhlas pasti semuanya bisa dilalui dengan baik, batin Rimba.