
Duar! Terdengar suara petir menggelegar. Membuat siapa saja yang mendengarnya kaget.
"Dik, apakah adik baik-baik saja?" Kali ini petugas keamanan di pintu masuk rumah sakit yang menanyakan kondisi Rimba. Wajahnya terlihat khawatir. Namun sedetik kemudian berubah menjadi lega karena melihat anak kecil itu berpelukan dengan seorang pria yang dipanggil dengan nama ayah berkali-kali.
"Syukurlah, putra bapak baik-baik saja. Jantung saya rasanya mau copot melihat putra bapak ...." Petugas keamanan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Rimba meletakkan jari telunjuknya di bibir tanda memintanya untuk diam alias merahasiakan apa yang baru saja dilakukan Rimba.
Petugas keamanan mengangguk. "Pak, tolong kalau punya putra, jangan ditinggal sembarangan. Dilihat dulu, sudah masuk belum ke mobil, baru jalan mobilnya. Kasihan kan anak sekecil ini sampai harus seperti itu mengejar-ngejar mobil Bapak."
Andre yang mendengar ucapan petugas keamanan hanya geleng-geleng kepala. "Maaf, Pak. Dia bukan putra saya. Saya bahkan tidak mengenalnya." Buru-buru Andre melepaskan Rimba yang terus memeluk tubuhnya.
"Pak, kenapa bapak tidak mau mengakuinya sebagai putra? Wajah bapak sangat mirip dengan wajah anak kecil ini. Tanpa tes DNA-pun saya yakin anak kecil ini adalah putra bapak. Sudah akui saja, Pak." Suara petugas keamanan terdengar kesal melihat ada orang tua yang tega meninggalkan dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
"Mirip? Wajah saya mirip dengan dia?" tanya Andre jengkel seperti dipermainkan. "Mirip dari mana? Memang kami sama-sama ganteng, Pak. Tapi sekali lagi saya bukan ayahnya." Andre masih bersikukuh dengan pendiriannya.
Andre berjongkok dan menjajarkan diri di hadapan Rimba. Manik mata Andre menatap tajam ke arah manik mata Rimba. "Katakan siapa ayahmu sebenarnya, Nak! Jangan membuat petugas keamanan berburuk sangka kepadaku. Aku belum menikah. Bagaimana bisa memiliki seorang putra yang sudah sebesar dirimu?"
Rimba menggigit bibirnya yang bergetar kedinginan diterpa hujan lebat. Hatinya bersorak senang mengetahui ayahnya masih belum menikah sampai saat ini. Jadi bunda masih memiliki kesempatan untuk menjadi istri dari ayahnya. Dan mereka bertiga bisa menjadi keluarga yang utuh. Untuk itu jawaban yang keluar dari mulut kecil Rimba harus benar-benar dipikirkan baik-baik. Jangan sampai membuat ayahnya pergi dan tidak mau mengakuinya.
"Nama ayahku Andre. Dan nama bundaku Kinan Lee. Apakah Ayah lupa dengan nama bundaku? Kinan Lee, Kinan Lee adalah bundaku, Ayah Andre."
Bagai disambar petir, Andre terkejut mendengar nama Kinan Lee disebut oleh anak kecil itu. Kinan Lee adalah wanita yang banyak berjasa untuk Andre dan sekarang dia sudah meninggal. Ternyata sebelum meninggal, Kinan Lee melahirkan seorang putra dan sudah tumbuh sebesar ini.
Jika anak kecil ini adalah putra Kinan Lee, aku harus merawatnya dengan baik sebagai balas budiku, batin Andre.
"Aku mengenal Kinan Lee dengan baik, Nak. Kami pernah bertemu dengannya enam tahun lalu. Kinan banyak menolongku. Dan sekarang aku akan membalas semua budi baiknya kepadaku lewat putranya," jawab Andre sendu. Ia tidak ingin mengungkit kembali kisah sedih dan pilu seorang anak yang telah kehilangan ibunya baru-baru ini.
"Balas budi kepada bunda?" Rimba yang melihat perubahan sikap Andre yang awalnya mengingkari kenyataan bahwa Rimba adalah putranya, sekarang menjadi sendu dan ingin membalas budi baik Kinan lewat tangan putranya.
"Ya. Kinan Lee sudah pergi ke alam lain. Jadi aku akan merawatmu sebagai ucapan terima kasih atas semua pertolongannya enam tahun silam," jawab Andre.
Rimba menepuk dahinya.
Astaga! Ayah salah paham, Bunda belum meninggal, batin Rimba.
"Sekarang ikutlah bersamaku. Aku akan memberikan semua yang kau perlukan," ajak Andre.
Rimba memperhatikan mimik muka Andre. Rimba menyadari bahwa ayah tidak menangis atau bahagia bertemu dirinya. Malah terus menerus mengatakan ingin membalas budi.
Astaga! Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menyatukan mereka kembali. Aku harus membuat ayah mencintai bunda. Apapun caranya, batin Rimba yang berinsting tajam.
"Pak, tanam benih di lahan yang subur, walaupun cuma sekali sembur bibit pasti akan langsung bertumbuh. Berapa usiamu, Dik? Biar Pak Satpam tebak ya! Lima tahun?" tanya petugas keamanan pada Rimba.
Rimba langsung mengangguk cepat.
"Tuh, Pak. Tebakan saya benar lagi. Anak kecil ini adalah putra bapak. Sudah cepat dibawa pulang, Pak. Kasihan dia kedinginan seperti itu. Oh iya, sampai lupa saya. Adik ke rumah sakit ini dengan siapa? Dengan om, tante atau saudara?" tanya petugas keamanan.
Rimba kembali menganggukkan kepala. "Dengan bunda. Sekarang bunda sedang menunggu ayah di dalam rumah sakit."
"Apa? Kinan Lee masih hidup?" tanya Andre tak percaya.
"Iya, bunda memang pergi dari Surabaya enam tahun yang lalu. Tapi bukan pergi ke alam baka, Ayah. Bunda dan aku terkurung di sebuah pulau asing selama enam tahun. Kami baru saja kembali ke Surabaya. Eh salah. Sudah hampir dua minggu tepatnya kami di Surabaya. Tapi kami tidak berhasil mencari keberadaan ayah. Selalu saja banyak halangannya. Syukurlah hari ini Tuhan mengijinkan kita bertemu di rumah sakit," jawab Rimba dengan wajah bahagia.
"Antar aku menemui Kinan sekarang!" Andre segera menggendong Rimba dan melempar remote kunci mobilnya ke arah petugas keamanan. "Tolong parkirkan mobil saya, Pak. Saya harus masuk ke rumah sakit dan menemui kawan lama saya."
"Ya ampun, Pak. Pacar lama bukan kawan lama." Petugas keamanan tertawa dan melihat pria berjas biru laut itu menembus hujan deras bersama putranya kembali ke rumah sakit.
Rimba yang berada di dalam gendongan ayahnya segera melingkarkan tangannya ke leher Andre.
Pantas saja Tina suka bergelanyut di bahuku. Rasanya berbeda dengan bergelanyut di leher bunda. Gendongan ayah terasa sangat nyaman, hangat dan terlindungi, batin Rimba.
Dengan jarak sedekat ini, Rimba juga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencium aroma tubuh ayahnya yang harum dan menyimpannya di dalam memorinya. Seperti layaknya hewan di dalam hutan, mengenali induk mereka dari aromanya.
"Ke arah mana, Nak?" tanya Andre setelah berada di dalam gedung rumah sakit.
"Ruang tunggu klinik dokter Song Hwa, Ayah." Rimba terus memandangi lekuk wajah ayahnya. Wajah ayahnya sangat bersih.
Lelaki dewasa memiliki rambut halus di wajah yang harus dirapikan agar terlihat lebih tampan dan bersih. Hmm ... Ayah pasti rajin bercukur tiap pagi seperti yang ada di tayangan televisi. Tidak hanya tampan, ternyata ayah adalah orang yang menyukai kebersihan dan sangat wangi. Bunda memang tidak salah pilih, batin Rimba. Ia tersenyum bahagia di dalam gendongan ayahnya. Tidak memperhatikan pada pengunjung rumah sakit yang sibuk bergunjing tentang dirinya.
"Lihat! Itu anak yang bergelantungan di atas tiang lampu seperti tarzan. Pasti dia tersengat listrik dan pingsan. Butuh penanganan dokter secepat mungkin," ucap seorang wanita tua yang mulai menebar hoax kemana-mana.
"Iya, untung ada pria tampan baik hati yang mau menolongnya. Kalau tidak, bisa-bisa tidak ada yang tahu dimana anak kecil itu terjatuh dan pingsan karena disengat listrik," ucap teman wanita tua.
"Semoga saja anak kecil itu selamat."
"Iya, semoga selamat dan lekas pulih."