CEO'S Prince

CEO'S Prince
Good Bye Kim Sun Ho



Rimba sibuk mengerjakan PR-nya sambil menunggu Bundanya melakukan operasi pada monyet yang sudah kelihatan tua. Jauh lebih lanjut usia daripada Tina. Sementara Andre, ayah Rimba sudah kembali ke kantor untuk bekerja.


Tiba-tiba terdengar bunyi telepon di ruang tamu. Rimba pun segera meletakkan pensil warnanya di meja tulis dan bergerak mendekati telepon untuk mengangkatnya.


"Hallo!" salam Rimba di telepon. Tapi tidak ada jawaban dari seberang. Hanya terdengar isak tangis kecil yang menyayat hati. Dari suara isak tangis, Rimba tahu siapa penelepon yang sejak tadi bungkam seribu bahasa.


"Leoni, ada apa, Temanku?" tanya Rimba dengam suara lembut dan menenangkan.


"Bu Gam Ri meninggal dunia, Rimba," jawab Leoni kembali terisak sedih.


"Bu Gam Ri, si nenek baik hati yang ada di drakor Hometown Cha Cha Cha?" tanya Rimba dapat menebak arah pembicaraan Leoni. Leoni memang beberapa bulan ini lagi suka banget nonton drakor Hometown Cha Cha Cha. Ceritanya ringan, lucu dan pemain utamanya berlesung pipi. So cute drakornya! Rimba saja sampai ikut nonton drakor tersebut.


"Iya, kasihan banget, Rimba. Kenapa sih sutradaranya jahat banget? Kenapa tokoh sebaik Bu Gam Ri harus dibuat meninggal di episode 15? Leoni sebel banget!" pekik Leoni tidak terima.


Rimba tersenyum. "Supaya darkor itu semakin memberi kesan mendalam di hatimu, Leoni. Eh, maksudnya supaya bikin emosi penonton naik turun sebelum episode finalnya tayang."


"Huaaa ... Leoni juga sedih bukan hanya karena Bu Gam Ri meninggal. Tapi juga karena Mrs. A menyebalkan, dia menjatuhkan nama baik Kim Sun Ho. Aktor kesayangan Leoni setelah tampil cemerlang di drakor Start Up," gerutu Leoni lagi.


"Sekarang semua perusahaan men-take down foto dan iklan Kim Sun Ho. Beberapa film yang akan dibintangi Kim Sun Ho akan diganti aktor lain. Entah kapan Kim Sun Ho akan kembali berakting lagi. Good bye, Kim Sun Ho," tambah Leony super sedih.


"Sebenarnya kedua-duanya bersalah, Leoni. Baik Mrs A maupun Kim Sun Ho, keduanya bersalah. Kim Sun Ho bersalah karena meminta Mrs A untuk aborsi. Dan Mrs A juga bersalah karena memakai media sosial untuk menjatuhkan nama seseorang. Dari kisah mereka, kita dapat memetik pelajaran berharga," jelas Rimba.


"Pelajaran berharga apa itu, Rimba?" tanya Leoni penasaran.


"Kalau nanti kita sudah dewasa dan menjadi sepasang kekasih, pacaran tidak boleh melenceng dari jalurnya. Supaya kejadian aktor kesayangan kita tidak terjadi pada kehidupan kita," jawab Rimba.


Terdengar suara tawa ceria di seberang sana. Sepertinya Leoni sudah tidak menangis lagi karena dari kata-kata yang diucapkan Timba ada sinyal-sinyal kalau Rimba menyayangi Leoni dan akan menjaganya sepenuh hati sampai akhir nanti.


"Leony, apakah kau sudah membuat PR dari Bu Paula? Jangan kebanyakan nonton drakor sampai lupa waktu ya!" seru Rimba.


"Sudah dong. Sebelum lanjut nonton drakor sudah selesai semua kok PR dan masaknya," balas Leony.


"Masak apa? Apakah Rimba boleh mencicipinya besok?" tanya Rimba langsung semangat mendengar Leony sudah selesai memasak.


"Leony masak sesuatu spesial buat Rimba," jawab Leony.


"Asyik!" Rimba girang setiap Leony memasak sesuatu yang khusus buatnya.


"Leony membuat gulali berbentuk lingkaran, di tengahnya Leony cetak bentuk heart. Besok Leony bawa ke sekolah. Rimba harus bisa membuat heart itu utuh keluar dari lingkaran seperti I Jun memberikan heart pada Bo Ra," ucap Leony.


"Astaga, sahabatku bener-bener kemakan drakor Squid Game dan Hometown Cha Cha Cha," ucap Rimba sambil menepuk jidat.


PS. Author membuat part ini tanggal 21 Okt 2021 dan ingin mengucapkan Good Bye, Kim Sun Ho. Love you, muach.


***


Profesor Rudolph yang ikut mendampingi selama operasi hewan penelitiannya, sekarang sibuk mencatat di buku tebal yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi.


"Kinan, saat kau pergi enam tahun yang lalu, ada seekor orang utan yang juga menghilang. Apakah kau tahu hal itu?" tanya Profesor Rudolph sambil melepas kaca mata yang terlihat berat bersandar di atas hidung mancungnya.


Kinan mengangguk. "Namanya Tina, Prof."


"Oh ya, benar. Namanya Tina," ucap Profesor Rudolph lalu menulis kembali di bukunya. "Kira-kira bagaimana keadaannya saat ini ya?"


"Memang kenapa Profesor ingin tahu kabarnya?" tanya Kinan segera mendekati Profesor Rudolph.


"Orang utan yang bernama Tina itu mendapatkan cairan injeksi yang sama dengan cairan injeksi yang diinjeksikan Andre. Tapi Tina mendapat injeksi yang lebih banyak dari Andre. Aku ingin tahu apakah Tina masih hidup sampai sekarang?" tanya Profesor Rudolph langsung menohok Kinan.


Kinan merasa bersalah, ia tidak mengembalikan Tina ke laboratorium Profesor Rudolph setelah kembali ke Surabaya. Malah terus hidup bersama Tina.


Aku dan Rimba, tidak mungkin sanggup berpisah dengan Tina. Tina adalah segalanya bagi kami, batin Kinan.


Kinan menelan ludahnya sebelum membuka mulut. "Profesor, saya minta maaf sebelumnya. Tina ada bersama saya sampai sekarang. Enam tahun yang lalu, Tina menyelamatkan saya dan terdampar bersama saya di pulau terasing. Tina banyak sekali membantu saya, Prof. Jadi, saya mohon ijinkan Tina untuk tetap tinggal bersama saya dan Rimba. Kami berdua sudah menganggap Tina lebih dari sekedar hewan peliharaan. Tina sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri."


Profesor Rudolph berdehem cukup keras. Wajahnya terlihat mengeras, kurang suka dengan permintaan Kinan. Hewan penelitiannya seharusnya kembali ke laboratoriumnya jika masih ditemukan hidup. Profesor Rudolph berniat untuk menganalisa Tina lebih lanjut.


"Apakah Tina baik-baik saja? Apakah dia tidak sakit seperti hewan-hewan penelitianku?" tanya Profesor Rudolph.


"Tina, baik dan sangat sehat, Prof. Tidak ada masalah psikologis maupun masalah kesehatan. Mungkin karena Tina sempat tinggal di hutan selama enam tahun. Dia juga terbiasa hidup bebas bersama manusia, tidak terkurung di dalam kandang seperti hewan penelitian Profesor," jawab Kinan yang selalu memantau perkembangan Tina.


Karena selama di hutan, Kinan selalu memikirkan bagaimana hanya dalam waktu semalam, Andre dapat berubah drastis dari seorang idiot menjadi orang yang berbeda. Cerdas dan berkharisma dengan nada suara yang berbeda dari sebelumnya. Pasti karena sebuah ampul berisi cairan alzheimer yang tergeletak kosong di kamar tidurnya. Andre pasti menyuntik dirinya dengan cairan obat itu, hingga malamnya gairah asmara Andre meningkat dan merenggut kehormatan Kinan.


Kinan tahu jika Profesor Rudolph mengembangkan formula obat alzheimer khusus untuk disuntikkan pada Tina. Karena Kinan lah yang selama ini menyuntik dan membuat laporan perkembangan Tina.


"Kinan, apakah selama di hutan Tina pernah kawin dengan orang utan? Apakah Tina pernah hamil dan melahirkan?" tanya Profesor Rudolph.


Kinan mengangguk. "Tina pernah jatuh cinta pada seekor orang utan. Tapi saat sedang proses kawin, entah mengapa Tina sangat agresif dan mencelakai sang pejantan. Orang utan jantan itu mati menggenaskan dengan sekujur tubuh penuh luka karena perbuatan Tina. Tak berapa lama kemudian, Tina hamil. Namun sayang, bayi Tina meninggal karena Tina stress telah membunuh kekasihnya sendiri. Itulah mengapa Tina sangat menyayangi Rimba dan selalu ada di dekat Rimba."


Profesor Rudolph terkesiap kaget mendengar cerita Kinan. Sebuah rasa sesal merayap di hati Profesor Rudolph. Bayi Tina meninggal, padahal dia sangat ingin meneliti bayi Tina. Apakah bayi Tina juga sejenius Rimba?


Padahal jika saja anak Tina itu jenius tanpa disuntik obat alzheimer itu berarti obat alzheimer buatannya akan menjadi obat yang luar biasa, karena dapat menciptakan anak-anak jenius.


Tidak, aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Obat alzheimerku harus berhasil, tidak hanya membuat hewan atau manusia menjadi cerdas, namun juga membuat keturunan mereka menjadi jenius, batin Profesor Rudolph.


"Bagaimana kalau Tina kita kawinkan sekali lagi?" tanya Profesor Rudolph.


Kinan terbatuk mendengar pertanyaan Profesor Rudolph. Ia tidak menyangka kalau Profesor Rudolph begitu berminat untuk membuat Tina mempunyai keturunan sekali lagi. "Saya akan membicarakannya dengan Tina lebih dahulu, Profesor. Saya tidak dapat sembarangan mengambil keputusan. Karena Tina, saya anggap seperti adik saya sendiri."