
Keesokan harinya.
"Bunda! Bunda! Bunda!" panggil Rimba yang tidak berhasil menemukan Kinan di seantero rumah. Sejak Rimba bangun tidur hingga saat makan pagi tiba, Rimba masih belum melihat bundanya.
"Kemana, Bunda?" tanya Rimba yang terus berjalan tiba-tiba berbelok dan menabrak sesuatu yang cukup keras. Dan sesuatu yang ditabraknya itu terpental ke lantai.
"Aduh!" pekik seorang pria mengaduh kesakitan. Perut bagian bawahnya dan tulang ekornya senut senut nyeri sekali. Wajah Rendra sampai merah tak kuasa menahan sakit di dua area sekaligus.
"Om Rendra, selamat pagi! Maafkan Rimba tidak hati-hati saat berjalan," ucap Rimba sambil menggosok-gosok dahinya yang baru saja membentur tubuh sekertaris ayahnya.
"Bantu Om berdiri dong," pinta Rendra sambil mengulurkan tangannya. Maksud hati ingin menarik tubuh Rimba ke dalam pelukan lalu menggelitiknya. Hitung-hitung hukuman kecil buat putra atasannya yang lucu dan menggemaskan.
Rimba segera menyambut tangan Rendra, menariknya dengan kuat hingga Rendra langsung berdiri tegak. Rendra yang sebenarnya masih belum rela memaafkan putra atasannya dan ingin memberi sedikit hukuman pada Rimba, malah berubah menjadi kaget dengan kekuatan lengan tangan seorang bocah berusia lima tahun.
Seorang bocah dengan berat badan tidak sampai 25 kilogram berhasil menarik seorang pria dengan bobot 80 kilogram. Luar biasa!
Jangan-jangan di hutan dia beradu kekuatan dengan gajah atau banteng. Pantas saja kepala dan tangannya begitu kuat dan bertenaga, batin Rendra.
"Om Rendra, ngapain pagi-pagi sudah datang ke rumah?" tanya Rimba yang memandang Rendra lekat-lekat. Pakaian yang dikenakan Rendra terlihat sangat rapi. Tidak seperti semalam, dasinya miring, lengan kemeja terlipat dan tidak memakai jas. Pagi ini, Rendra terlihat keren dengan jas hitam dan dasi abu-abu.
"Om Rendra harus menjemput ayahmu. Ada meeting penting yang harus kami hadiri. Oh iya, kenapa Rimba berjalan tergesa-gesa hingga menabrak Om sampai Om jatuh?" Rendra membungkuk, menatap manik mata Rimba dari dekat dan mencolek pipi Rimba yang sekarang lebih cubby dari sebelumnya.
"Rimba mencari Bunda tapi sudah dicari di kamar Tina, tidak ada. Di dapur, tidak ada. Di halaman belakang juga tidak ada. Kira-kira kemana Bunda pergi ya?" tanya Rimba memutar bola mata. Telunjuknya menekan pelipis seakan berpikir keras ruangan mana yang belum ia kunjungi.
"Sudah mencari bunda di kamar ayah?" tanya Rendra sambil nyengir lebar.
"Bunda di kamar ayah? Itu tidak mungkin, Om," ucap Rimba sambil geleng-geleng kepala.
"Kemarin ayah mengatakan kalau bunda harus tidur sekamar dengan Rimba. Di kamar yang didesain khusus untuk bunda, padahal Rimba sudah meminta ayah dan bunda untuk tidur satu kamar saja," sambung Rimba.
"Oh ya? Pak Andre bilang begitu?" tanya Rendra sambil terkekeh.
"Ayahmu itu sok-sokan jual mahal, Rimba. Begitu melihat bundamu secantik bidadari, langsung deh semalam ngajak tidur satu kamar," ucap Rendra terkekeh makin keras. "Atau mungkin saat Rimba sedang tertidur pulas, bunda yang berpindah tidur ke kamar ayah."
"Maksud Om, bunda berjalan dalam tidur masuk ke kamar ayah dan tidur di sana?" tanya Rimba tidak percaya bundanya bisa berpindah tidur tanpa ia sadari. Sewaktu di hutan, sekecil apapun suara langkah kaki, derit pintu yang terbuka, isak tangis bundanya, selalu membuat Rimba terjaga dari tidur pulasnya. Jadi mana mungkin Rimba tidak tahu Bunda berjalan keluar kamar dan berpindah ke kamar ayah tengah malam.
Rimba kembali geleng-geleng kepala. "Om Rendra ngaco deh. Ngasal bikin kesimpulan."
"Ih, ini bocil dikasih tahu kok tidak percaya." Rendra tersenyum lalu menggandeng tangan Rimba. "Mari kita buktikan. Apakah yang Om katakan benar atau salah?"
"Okay. Siapa takut?" balas Rimba.
Rendra mengajak Rimba naik ke lantai dua. Menuju ke kamar raja Ariandono Group.
Tok! Tok! Tok!
"Rendra, ada apa?" tanya Andre dengan suara serak.
"Selamat pagi, Pak. Semuanya sudah siap. Kita berangkat sekarang ya, Pak?" tanya Rendra dengan senyum selebar daun kelor.
Jelas terlihat jika rambut Pak Andre masih acak-acakan, belum disisir rapi dan wajahnya masih bau bantal. Sepertinya Pak Andre barusan bangun tidur. Ih, padahal biasanya Pak Andre selalu bangun pagi dan sudah siap jika Rendra datang menjemputnya.
Hmm ... Ngapain aja semalam, Pak? Main monopoli dengan Bu Kinan ya? batin Rendra.
"Setengah jam lagi aku siap," jawab Andre buru-buru menutup pintu kamarnya. Namun sebelum pintu terkunci rapat, putranya yang tenaganya melebihi tenaga dua ekor kuda penarik kereta kencana, mendorong pintu kamar ayahnya. Alhasil Andre terdorong ke belakang dan pintu kamar Andre terbuka penuh.
Secepat kilat mata elang Rendra melihat ke dalam ruangan kamar Andre. Batas ruang pandang Rendra terbatas. Tapi selain melihat Andre hanya mengenakan celana panjang warna putih, Rendra sempat melihat sebuah jubah tidur wanita berwarna senada teronggok di atas karpet.
Aih! Jubah tidur siapa tuh? Bu Kinan? Berarti benar kan dugaanku? Bu Kinan semalam tidur di kamar Pak Andre, batin Rendra.
"Good morning, Ayah. Apakah bunda masih tidur di kamar Ayah? Karena sedari pagi, Rimba belum bertemu bunda," tanya Rimba cepat, yang langsung membuat Andre menatap sinis ke arah sekertarisnya.
Rendra langsung menundukkan kepala sambil terus mengukir senyum kemenangan sudah berhasil memergoki atasannya berbagi kamar dengan seorang wanita cantik.
"Pagi, Putraku. Bunda Rimba masih tidur, Sayang. Jangan ganggu Bunda tidur ya. Semalam Bunda tidur larut malam. Lebih baik Rimba turun dulu sama Om Rendra ya. Sarapan. Sebentar lagi Ayah akan menyusul," ucap Andre sambil mengusap lembut rambut putranya.
"Jadi benar ya kata Om Rendra? Semalam bunda tidur di kamar ayah ya?" tanya Rimba ingin membuktikan kebenaran tebakan Rendra.
Andre mengangguk kecil. Berharap anggukannya tidak dilihat sekertaris kurang ajar yang sudah membuat putranya memergoki ayah bundanya tidur sekamar semalam.
Rimba bersorak senang sambil bertepuk tangan. "Apakah itu berarti Rimba akan segera punya adik bayi, Ayah?"
Rendra tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan Rimba.
"Rendra, ajak Rimba sarapan!" hardik Andre yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Malu bercampur marah teraduk-aduk rata.
Awas kau, Sekertaris Busuk! Kupastikan gajimu minus bulan ini, batin Andre kesal.
Sebelum Andre bertambah marah, Rendra langsung menyambar tubuh kecil putra atasannya, menggendongnya dan berlari sepanjang koridor lantai dua. Turun ke ruang makan untuk sarapan.
Andre mendengus setelah bayangan Rendra dan Rimba lenyap lalu menutup pintu kamarnya dan mengambil jubah tidur Kinan di lantai. Melipatnya dan meletakkannya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Berharap saat Kinan bangun nanti, ia dapat segera berpakaian dan pindah ke kamarnya sendiri.
Andre kemudian duduk di atas tempat tidurnya yang berukuran king size. Memandangi seorang wanita cantik berambut cokelat panjang yang masih bergelung pulas di dalam selimut tebal silvernya.
Andre mengelus surai kecokelatan itu. Mengecup kening Kinan dengan lembut. "Tidurlah lebih lama. Semalam kita berdua terlalu banyak bertukar cerita hingga lupa waktu dan baru tertidur saat matahari hampir terbit di ufuk timur."
Yah, penonton kecewa. Maaf, Rimba. Bahan-bahan untuk membuat adik bayi masih belum ditakar beratnya.