
Rendra bangkit berdiri dari duduknya. Ia membawa sebuah amplop cokelat berisi dokumen yang sangat tebal. Lalu memberikannya pada ketua sekelompok pengacara.
"Apa ini, Pak Rendra?" tanya ketua pengacara sembari menerima uluran amplop cokelat.
"Ini adalah dokumen pemegang saham Ariandono Group yang ada di luar negeri. Mereka juga akan ikut dalam memberikan suara pada rapat pemegang saham kali ini. Semua dokumen di dalam amplop ini berisi suara mereka dan sudah disahkan oleh pengacara mereka. Silahkan diperiksa," jawab Rendra tegas.
"Baik, Pak Rendra. Kami akan memeriksanya," balas ketua pengacara.
"Terima kasih." Rendra kembali duduk di kursinya.
Ketua pengacara membuka amplop cokelat dan memeriksa isinya. Dia mengangguk-anggukan kepalanya lalu memberikan isi amplop tersebut kepada pengacara yang lain untuk dicek lebih lanjut.
Setelah hampir setengah jam berlalu.
"Baiklah, setelah menunggu cukup lama. Saya akan segera mengumumkan siapa pemenang dari perolehan suara dalam rapat pemegang saham hari ini tanggal 17 Oktober 2021," ucap ketua pengacara dengan suara lantang.
"CEO Ariandono Group yang terpilih dalam rapat pemegang saham hari ini adalah Bapak Raden Andre Ariandono." Ketua pengacara menekan tombol remote slide dan layar putih di depan panggung terbuka.
Layar putih itu menunjukkan sebuah tulisan ucapan selamat kepada Andre, yang terpilih kembali menjadi CEO Ariandono Group.
Ketua pengacara kembali menekan tombol remote slide dan tampilan layar berubah. Perincian perhitungan suara terpampang jelas dalam sebuah list.
"Ibu Ayu Sekar Sari mendapat perolehan suara 40 persen, sedangkan Bapak Raden Andre Ariandono mendapat 46 persen suara. Dimana ada pemegang saham dengan saham 10 persen yang tidak hadir di sini untuk memberikan suaranya dan ada 4 persen suara abstain. Saya ucapkan selamat sekali lagi kepada Bapak Raden Andre Ariandono. Sekian dan terima kasih." Ketua pengacara turun dari podium.
Andre bertepuk tangan dengan kemenangan yang diperolehnya. Senyum kemenangan tercetak jelas di wajahnya yang tampan.
Setelah itu Rendra dan para pemegang saham yang lain segera menyusul bertepuk tangan. Terlihat sekali bahwa para pemegang saham sangat kaget dengan perolehan suara yang didapat Andre. Sehingga mereka terlihat canggung saat memberikan tepuk tangan. Mungkin karena mereka semua sudah memberikan suaranya untuk ibu Ayu Sekar Sari tapi kenapa junjungannya masih saja kalah.
Wajah Ayu Sekar Sari dan Ariani langsung memucat. Mereka tidak menyangka akan kalah sekali lagi padahal kartu As terakhir sudah dikeluarkan. Andre unggul 6 persen darinya.
Padahal selama ini Ayu Sekar Sari merasa Andre hanya akan memperoleh suara tidak lebih dari 25 persen. Dimana Andre memiliki saham sebesar 20 persen ditambah ada beberapa pemegang saham yang mungkin akan memihak dan mendukung Andre dalam rapat pemegang saham hari ini.
"Bagaimana bisa Andre mendapat 46 persen suara?" tanya Ariani penuh luapan emosi. Dengan marah terus menggertakkan giginya, dia segera mendatangi ketua pengacara, ingin meminta penjelasan.
"Begini Ibu Ariani. Bapak Rendra memberikan sebuah amplop cokelat berisi suara para pemegang saham yang ada di luar negeri. Kami sudah memeriksanya dengan baik. Suara ini sah. Jumlahnya adalah 25 persen. Itu berarti Pak Andre sudah mengantongi 45 persen suara. Dan dari dalam negeri sendiri, Pak Andre mendapat tambahan satu persen suara lagi. Itu berarti total Pak Andre mendapat 46 persen suara," jelas ketua pengacara.
"Tidak mungkin. Kurang ajar! Andre begitu cerdas. Mata-mata di rumah Andre tidak ada yang tahu kemana Andre pergi beberapa hari lalu. Ternyata Andre sengaja menutupi kepergiannya ke luar negeri. Membuatku terlena hingga melupakan kemungkinan Andre ke luar negeri untuk mengumpulkan suara para pemegang saham di luar negeri," gumam Ayu Sekar Sari langsung lemas begitu mendengar penjelasan ketua pengacara. Betapa bodohnya Ayu Sekar. Tidak memperhitungan semuanya dengan cermat. Mungkin dulu nilai matematikanya di sekolah kurang bagus.
"Keputusan hasil rapat pemegang saham hari ini sudah final, Bu. Silahkan ibu dan Ariani pulang ke rumah masing-masing. Jangan lagi melakukan hal bodoh yang dapat kalian sesali di kemudian hari. Dan saya ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mengganggu keluargaku dan Ariandono Group lagi. Jika kalian tetap nekat melakukannya, aku akan membekukan semua aset milik kalian dan kalian berdua akan hancur berkeping-keping," ucap Andre dengan wajah dingin dan penuh penekanan.
Wajah Ayu Sekar dan Ariani kembali memucat. Andre yang dulu idiot dan tidak dapat melawan saat disiksa. Sekarang berubah menjadi cerdas dan memiliki kekuatan besar yang membuat mereka kembali kalah.
"Sungguh menyebalkan. Kita kalah lagi, Bu!" ucap Ariani begitu sudah jauh dari Andre.
"Ibu juga kesal, Ariani. Lebih baik kita pulang dan kita pikirkan apa rencana kita berikutnya. Ibu tidak rela Andre hidup bergelimang harta dan bahagia bersama Kinan dan putranya. Ibu ingin Andre hidup miskin dan menderita," ungkap Ayu Sekar kesal.
"Sepertinya saya punya akal, Bu. Kita harus menyewa seorang pembunuh bayaran. Kita buat Andre kembali idiot dan kita bunuh saja Kinan dan Rimba. Pasti hidup Andre akan menderita dan sengsara," cetus Ariani sembari tersenyum licik.
"Ide yang bagus, Putriku. Ibu punya kenalan pembunuh bayaran yang jauh lebih hebat dari pada detektif sialan itu. Ibu yakin pembunuh bayaran kali ini dapat menyingkirkan Kinan dan putranya untuk selamanya," ucap Ayu Sekar senang.
"Bagus, Bu."
***
Setelah semua pasien selesai diperiksa, Kinan kembali membaca catatan-catatan penelitian saat bekerja di laboratorium Profesor Rudolph. Mengisi waktu sambil menunggu panggilan penting dari suaminya.
Ddrrt! Begitu ponsel Kinan bergetar, Kinan segera mengangkatnya.
"Bagaimana, Kak? Apakah Kakak menang?" tanya Kinan antusias.
"Puji Tuhan, semuanya berjalan dengan baik. Aku menang enam persen dari ibu tiriku," jawab Andre setenang lautan tak berombak.
"Syukurlah, Kak! Kinan turut senang demgan berita ini. Selamat ya, Kak," pekik Kinan kegirangan.
"Terima kasih, Sayang. Apakah kau sekarang ada di klinik?" tanya Andre.
"Ya, Kak. Aku di klinik dan sebentar lagi akan pergi menjemput Rimba pulang sekolah," jawab Kinan sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah rapat pemegang saham selesai, Profesor Rudolph berniat datang ke klinik hewan Kinan. Membawa beberapa hewan percobaannya yang lesu dan tidak bersemangat hidup lagi.
Jadi, sebelum Profesor Rudolph datang, Kinan berharap Rimba sudah dijemput pulang rumah dan siap untuk membantu Kinan berbicara dengan para hewan penelitian di klinik hewan Kinan.
"Tunggu aku, Kinan. Mari kita jemput Rimba bersama-sama," ajak Andre yang sudah resmi menjadi ayah Rimba beberapa hari lalu.
"Tentu, Kak. Rimba pasti senang dijemput oleh ayahnya," balas Kinan bahagia. Akhirnya Rimba memiliki seorang ayah yang begitu sayang dan perhatian padanya. "Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Sayang. Aku berangkat sekarang ya," ucap Andre ingin mengakhiri panggilan teleponnya.
"I love you, Kak Andre." Kinan buru-buru menutup panggilan teleponnya setelah mengungkapkan isi hatinya. Malu!
Astaga! Kenapa harus malu kalau sudah resmi menjadi suami istri?