CEO'S Prince

CEO'S Prince
Pertempuran Dimulai



Keesokan harinya. Di kamar tidur Andre.


"Kak, Kinan bantu pasang dasinya ya?" tawar Kinan langsung bangkit dari peraduannya begitu melihat suaminya sudah rapi berpakaian setelan jas biru navy.


Andre tersenyum, melirik Kinan dengan pandangan nakal. Istrinya mengenakan baju tidur warna biru muda yang sangat seksi, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih aduhai walaupun sudah memiliki seorang putra. Mungkin benar kata Rimba, resep tidak makan nasi selama enam tahun bisa membuat tubuh selalu langsing. Jangan ditiru lho ya!


"Kemarilah!" Andre mengijinkan Kinan mendekat dan memasangkan dasi biru bergarisnya.


Begitu Kinan berjarak tak jauh darinya, jemari tangan Andre langsung meraup pinggang ramping Kinan. Mengikis jarak di antara mereka, hingga Andre dapat melihat wajah polos istrinya yang baru saja bangun tidur. Selalu tetap cantik dan menawan.


Kinan meringis geli dan sedikit menggeliat saat Andre mendaratkan morning kiss kilat ke pipinya. Semoga tadi malam aku tidak ngiler sampai membasahi pipiku, batin Kinan.


Dengan cekatan Kinan membuat simpul pada dasi bergaris biru Andre. Ia sudah terbiasa memasang dasi untuk Profesor Rudolph jika ada seminar atau simposium penting yang mengharuskan Profesor Rudolph berpakaian setelan jas rapi.


"Kenapa Kakak suka warna biru?" celetuk Kinan sembari menarik simpul dasi ke atas kemeja putih Andre.


"Sejak kecil, aku sering sendirian. Aku tidak punya teman dan waktu luangku kuhabiskan dengan memandang langit biru penuh awan. Langit yang begitu luas dan warna biru selalu menentramkan hatiku yang diliputi kesedihan dan kesepian," jawab Andre jujur.


Kinan memperbaiki letak dasi Andre hingga benar-benar lurus. "Dan apakah sekarang Kakak masih kesepian?"


Manik mata Andre langsung menyorot tajam ke arah Kinan. "Tidak. Aku tak lagi kesepian dan sendiri setelah kau dan Rimba datang dalam hidupku." Kenapa Kinan bertanya hal yang jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya? batin Andre.


Kinan tersenyum bahagia dengan jawaban Andre. Sebersit rasa muncul di hati Kinan, ia senang dianggap menjadi sosok penting dan dibutuhkan dalam kehidupan Andre. Membuat kupu-kupu di dalam perutnya yang masih belum sarapan, beterbangan tinggi.


Begitulah wanita, suka menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah dia ketahui dengan jelas. Hanya untuk membuat hatinya lebih bahagia jika pria memuji dan mengatakannya berulang kali.


"Kalau begitu bagaimana jika besok kakak berpakaian setelan jas warna kuning saat pergi ke kantor?" tanya Kinan sambil tertawa kecil membayangkan pria tampan itu memakai setelan pakaian kerja warna kuning seperti warna bus sekolah Rimba. Pasti semua orang di kantor akan terbelalak kaget, terutama Rendra.


"Boleh. Siapa takut?" tantang Andre balik.


"Ok, besok kuning. Lusa merah. Dan tiga hari lagi hijau. Bagaimana, Kak?" tanya Kinan masih terkekeh senang berhasil menjahili Andre.


"Tentu saja, tidak ada yang mustahil, aku akan menuruti semua keinginanmu," jawab Andre sambil tersenyum manis.


Kinan menepuk-nepuk jas Andre. "Terima kasih, Kak. Sekarang Kakak sudah tampan dan super keren. Hanya perlu satu lagi. Doa dari istri dan anak. Good luck, Kak. Semoga Tuhan memberkati Kakak, Kakak tetap menjadi CEO Ariandono Group."


Andre terenyum dan mengecup kening Kinan. Berpamitan dan pergi ke kantor Ariandono Gorup untuk memulai pertempuran besar dengan adik dan ibu tirinya.


Suasana di ruang rapat pemegang saham riuh rendah. Beberapa pemegang saham asyik berbincang-bincang satu sama lain. Saling menyapa, basa-basi, bertukar pikiran membicarakan bisnis yang punya prospek menguntungkan di masa depan.


Mereka semua langsung hening dan duduk di kursinya masing-masing di balik meja kayu panjang, begitu mendengar deheman khas Rendra. Menandakan beberapa saat ke depan CEO Ariandono Group, Raden Andre Ariandono yang dikenal dingin dan cerdas itu akan segera datang menduduki singgasananya. Kursi yang paling ujung dan menjulang tinggi yang menandakan siapa saja yang duduk di sana akan menjadi pemimpin yang dihormati.


Seperti dugaan mereka, Andre datang bersama ibu dqan adik tirinya, Ariani. Diikuti sebuah rombongan yang sangat besar, sederet pengacara hebat yang akan menjadi saksi rapat pemegang saham. Semua mata dan perhatian langsung tertuju ke depan bak melihat pawai di jalan raya.


"Apakah itu istri alamarhum Raden Mas Eko? Kenapa dia terlihat sangat berubah? Dulu dia secantik bidadari turun dari khayangan. Tapi sekarang dia terlihat seperti seorang nenek tua. Apakah selama enam tahun belakangan ini Pak Andre sudah membuatnya susah dan hidup menyedihkan?" bisik seorang pemegang saham kepada rekan yang duduk di sebelahnya.


"Ya, kudengar Andre memang pernah mengasingkannya dalam sebuah vila kecil di pegunungan. Dan kabar terbaru mengatakan kalau Ayu Sekar dirawat di sebuah panti wredha. Pantas saja wajahnya jadi kurang perawatan seperti itu. Tidak suntik botox dan tarik benang," jawab rekannya.


"Lalu kenapa putrinya tidak menyelamatkan ibunya?" bisik pemegang saham yang lain.


"Ariani terlalu egois. Dia lebih mementingkan keselamatannya sendiri daripada ibu kandungnya. Dia takut jika membela ibu kandungnya, Andre juga akan mengasingkannya bersama ibunya. Jelas dia lebih memilih diam untuk sementara," jawab rekannya.


"Dasar anak muda, seperti kacang lupa akan kulitnya," gumam pemegang saham kesal.


"Selamat pagi, Bapak dan Ibu Pemegang Saham Ariandono Group. Terima kasih banyak atas waktu yang anda sekalian luangkan sehingga kita semua dapat berkumpul di ruangan ini. Sekali lagi, saya ucapkan selamat datang," salam Andre seraya menunduk memberi hormat.


Para pemegang saham memberikan aplause panjang untuk Andre.


"Sebagaimana yang kalian semua ketahui, hari ini telah diadakan rapat pemegang saham setelah ibu saya, Ayu Sekar Sari mengajukan permintaan pada petinggi Ariandono Group untuk membuka rapat pemegang saham. Dengan agenda, pemilihan CEO Ariandono Group. Tak ingin berlama-lama, saya persilahkan Bapak dan Ibu sekalian untuk memberikan suaranya. Tetap memilih saya sebagai CEO Ariandono Group atau memilih CEO yang baru," jelas Andre.


Rendra dengan cekatan segera memberikan secarik kecil kertas kosong kepada semua anggota rapat.


"Kami persilahkan Bapak dan Ibu untuk menulis pilihan anda masing-masing pada kertas tersebut. Lalu menggulungnya dan dikumpulkan di tabung kaca yang akan Rendra edarkan," titah Andre.


Suara gumaman para pemegang saham terdengar. Bunyinya hampir mirip drngan dengungan lebah. Mengobrol singkat dengan teman sebelah duduk, kemudian beramai-ramai menulis pilihan mereka di secarik kertas dan memastikan kembali kalau mereka tidak salah memilih pemimpin. Atau mereka akan mengalami kerugian besar di kemudian hari.


"Baiklah, saya lihat beberapa dari kalian sudah selesai menulis, silahkan dikumpulkan. Dan pada pengacara pilihan kami akan segera memgumumkan siapa pemenang," ucap Andre tegas dan lantang.


Rendra segera maju, berkeliling meja kayu besar untuk mengumpulkan satu persatu kertas.


Setelah semua terkumpul, perhitungan suara pun dimulai disaksikan oleh sekelompok pengacara. Semua orang yang hadir di sana, memasang wajah tegang. Apalagi Ayu Sekar dan Ariani. Apakah mereka dapat memenangkan suara hari ini dan melengserkan Andre untuk selamanya?