CEO'S Prince

CEO'S Prince
Bersembunyi di Batu



Setelah Rimba keluar dari kamar tidurnya, Kinan memegang lengan tangan Andre. Membuat Andre menghentikan langkahnya dan menatap jemari tangan Kinan yang mencekal lengan tangannya.


"Ada apa, Kak? Apakah ada sesuatu hingga kita semua harus pergi ke suatu tempat yang tersembunyi?"


Andre mengambil nafas dalam-dalam lalu mengangguk pelan. Memilih berkata jujur kepada belahan jiwanya. "Ibu tiriku menyewa pembunuh bayaran profesional. Lebih baik, kita pergi menghilang sementara waktu. Aku sudah menyiapkan tempat yang aman untuk kita semua."


Kinan terkesiap kaget. Bibirnya yang mungil terbuka lebar. Buru-buru Kinan menutup dengan jemari tangannya. Jantungnya seperti ingin melompat keluar dari rongga dada saking kagetnya.


Apakah separah itu keserakahan dan kebencian Bu Ayu Sekar dan Ariani pada Kak Andre dan keluarga kecil yang baru saja bersatu ini? Hingga berusaha membumi hanguskan keluarga kecil ini, batin Kinan.


Andre memeluk Kinan untuk menenangkannya. "Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir."


Andre mengelus punggung Kinan dengan lembut.


"Kak Andre, sebenarnya setelah tahu kalau Kak Andre menang dalam rapat pemegang saham pagi ini, Kak Andre tetap dapat mempertahankan posisi Kak Andre sebagai CEO Ariandono Group, Kinan berencana akan tetap tutup mulut selamanya. Namun karena Bu Ayu Sekar dan Ariani masih merong-rong kehidupan bahagia kita, terpaksa Kinan harus memberitahu Kak Andre," ucap Kinan lirih.


Kinan sudah mantap untuk membalas dua orang yang kembali ingin menyingkirkannya. Sekarang Kinan adalah seorang Bunda berputra satu. Bunda yang akan menyelamatkan putranya dari serangan orang jahat. Ia tidak mau kedua orang itu melukai putranya secuil pun.


Andre melepaskan pelukannya, memegang bahu Kinan dengan jemari tangannya. "Ada apa, Kinan?"


Kinan menghembuskan nafasnya. "Kak Andre ingat tentang delapan angka sayembara teka teki angka yang jika dirangkai dapat menjadi titik koordinat untuk mencari harta warisan ayah Kak Andre?"


Andre mengangguk. Rangkaian delapan angka itu sempat tidak Andre pikirkan beberapa hari belakangan ini, karena Andre memilih rencana B daripada rencana A. Andre khawatir putranya celaka jika memaksa Rimba merangkai delapan angka tersebut.


"Memangnya ada apa, Kinan?" tanya Andre penasaran.


"Rimba sudah berhasil merangkainya, Kak. Dan titik koordinat dari delapan rangkaian angka itu adalah rumah dokter Song Hwa. Dokter penyakit dalam yang Kakak biasa temui tiap bulan," jawab Kinan.


"Apa? Rumah dokter Song Hwa?" tanya Andre kaget.


Ingatan Andre langsung kembali pada masa kecilnya. Sebelum ayah Andre meninggal, Andre pernah melihat ayahnya dan dokter Song Hwa berpegangan tangan di dalam kamar tidur.


Saat itu, Andre tidak punya pemikiran aneh-aneh tentang kedekatan ayahnya dan dokter Song Hwa. Karena dokter Song Hwa adalah dokter yang baik dan penuh kasih pada pasiennya. Pasti dokter Song Hwa juga baik pada ayah Andre karena memang ayah Andre sudah membayar mahal dokter Song Hwa sebagai dokter pribadinya.


Tapi setelah Kinan mengatakan bahwa koordinat delapan angka teka teki pemberian ayahnya adalah rumah dokter Song Hwa. Itu berarti dokter Song Hwa adalah orang yang sangat dipercaya ayahnya untuk membantu Andre menghancurkan ibu tirinya. Hubungan ayah Andre dan dokter Song Hwa pasti lebih dari sekedar pasien dan dokter.


"Iya, Kak. Rimba yang mengatakannya. Rumah dokter Song Hwa. Memang apa hubungan Kakak dengan dokter Song Hwa?" tanya Kinan ingin tahu.


"Dokter Song Hwa adalah dokter pribadi ayahku. Tapi aku akan menyelidikinya lagi. Kakak beradik yang mencurigakan," jawab Andre.


"Kakak beradik mencurigakan?"


"Profesor Rudolph adalah kakak dari dokter Song Hwa," jawab Andre.


"Apa? Benarkah? Ya ampun, kenapa aku sampai tidak tahu kalau mereka berdua adalah kakak beradik? Padahal dokter Song Hwa lah yang merekomendasikanku untuk bekerja di laboratorium Profesor Rudolph. Ish! Aku pasti tidak teliti," ucap Kinan.


"Sudahlah. Besok aku akan menyelidikinya lebih dalam lagi. Sekarang hari sudah larut malam. Besok kita harus pergi keluar kota. Lebih baik sekarang kau cepat sikat gigi dan berganti pakaian. Sebelum kau mendapati aku tertidur lebih dahulu," ucap Andre sambil menguap lebar.


***


Keesokan harinya.


Andre beserta keluarga kecilnya, plus tak ketinggalan Tina sudah dalam perjalanan keluar kota.


"Kita mau kemana, Ayah?" tanya Rimba penasaran saat mobil masuk ke jalan tol yang masih sangat lengang di pagi hari apalagi hari kerja, bukan weekend. Kalau weekend, jalan tolnya lumayan ramai.


"Ke villa Ayah di Batu," jawab Andre singkat.


"Kota Batu adalah sebuah kota kecil di provinsi Jawa Timur. Kota ini terletak 90 km sebelah barat daya Surabaya atau 15 km sebelah barat laut Malang. Wilayah kota ini berada di ketinggian 700 sampai 2000 meter dan ketinggian rata-rata yaitu 871 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celcius," jelas Rimba pada Tina.


Tina bertepuk tangan senang. Surabaya sedang panas-panasnya, pasti sangat nyaman berwisata di kota Batu yang adem hawanya.


"Villa ini adalah villa elite dengan keamanan maksimum. Tepat bersebelahan dengan villa putra sulung dari Hades. Namanya Ares. Ares sudah menikah. Istrinya bernama Athena, seorang dokter yang sedang mengandung bayi kembar," ucap Andre sembari memandang Kinan.


"Tuan Hades?" tanya Kinan tak percaya. Mata bulat Kinan mengerjab kaget. Bulu matanya yang lentik sedikit bergetar.


"Walaupun semasa muda Kinan itu cupu dan kurang update, tapi Kinan pernah membaca berita di koran dan melihat berita di televisi. Tuan Hades adalah seorang penguasa besar yang dapat membuat seseorang jatuh hanya dengan menjetikkan jarinya. Dalam sekejab dapat membuat Athena menjadi tersangka pembunuhan adik Ares, sesaat kemudian dapat membebaskan Athena dari semua tuduhan," tambah Kinan.


PS. Kisah Ares dan Athena dapat dibaca di novel karya Miss DK "Misteri Danau Kelinci Hitam" (hanya 35 bab dan masuk dalam daftar buku pilihan dari editor untuk Kasus Misteri VS Detektif Keren). Dijamin seru!


Andre mengangguk. Membawa keluarga kecil Andre ke villa di Batu memang sangat tepat. Andre berharap Black Phanter tidak macam-macam, main serudak seruduk membunuh Kinan dan Rimba karena Andre berencana membawa Kinan dan Rimba untuk bertandang ke villa Ares dan Athena. Membuat Kinan dan Rimba akrab dengan tetangganya. Sekaligus Andre ingin meminta perlindungan dan Ares.


Tak berapa lama, mobil SUV biru Andre memasuki halaman sebuah villa mewah yang tidak dibatasi pagar.


"Villanya megah dan besar sekali, Ayah. Rimba tidak sabar ingin berguling-guling bersama Tina di hamparan hijau rumput taman yang kelihatan super empuk itu," pekik Rimba yang sudah membuka jendela mobil hingga wajah tampannya terterpa hawa sejuk kota Batu.


Kinan dan Andre tersenyum mendengar ucapan Rimba.


Setelah Andre memarkiran mobilnya. Barang-barang yang ada di dalam mobil segera diturunkan oleh satpam villa dan dimasukkan ke dalam kamar masing-masing.


"Sudah hampir pukul delapan pagi, bagaimana jika kita bergabung untuk sarapan bersama di rumah tetangga sebelah?" tanya Andre yang memiliki janji sarapan bersama Ares dan Athena pagi ini.


Kinan hampir tidak mempercayai pendengarannya.


"Kak, bukankah seharusnya kita yang mengundang mereka sarapan di villa kita?" tanya Kinan sungkan sebagai tetangga baru malah numpang sarapan di rumah sebelah begitu menginjakkan kaki di Batu.


Andre tersenyum. "Kemarin, waktu aku menelepon Ares, mengatakan bahwa sementara kita akan tinggal di Batu, dia langsung meminta kita semua untuk sarapan bersama setelah sampai di Batu. Jadi kau tidak perlu sungkan dan malu. Mereka berdua sangat friendly sekali kok. Kalian berdua pasti langsung akrab dengan mereka."


Andre memandang Kinan dan Rimba bergantian. "Maaf, Tina tidak bisa ikut. Athena sedang mengandung, aku khawatir jika mereka ehm ... tidak suka jika ada ehm .... Kalian tahu sendiri kelanjutannya."


Rimba tersenyum. "It's okay, Ayah. Tina mengerti kok. Tina akan beristirahat saja di kamar."


"Terima kasih untuk pengertiannya, Sayang." Andre menggandeng Kinan dan Rimba. Pergi ke rumah tetangga sebelahnya. Ares dan Athena.