
Ddrrt! Ponsel Rendra bergetar. Layar ponsel menunjukkan bahwa pelayan rumah Nona Ariani adalah peneleponnya. Wanita paruh baya itu memberitahu Rendra bahwa Ariani mau pulang dari RS dan sepanjang pagi mengatakan bahwa dia membenci seseorang bernama Kinan.
"Kinan? Apakah kau yakin kalau Ariani membenci Kinan?" gumam Rendra sedikit heran dengan kebetulan ini.
Kok bisa ya Nona Ariani membenci Kinan? Memang mereka pernah ketemu sebelumnya? batin Rendra.
"Iya, Pak Rendra. Kinan. Nona Ariani jelas-jelas marah pada Kinan," ucap pelayan rumah Ariani ngotot.
"Ok, terima kasih infonya. Kalau begitu ikuti Nona Ariani terus dan laporkan pada saya, apa yang Nona Ariani lakukan setelah pulang dari RS," titah Rendra.
"Baik, Pak Rendra. Akan saya infokan begitu saya punya kesempatan menelepon bapak." Pelayan rumah Ariani menutup teleponnya.
Begitu panggilan telepon berakhir, Rendra segera menghubungi detektif referensi pamannya.
***
Di kamar tidur Andre.
Kinan membuka kedua belah matanya setelah tertidur nyenyak sampai pukul sembilan pagi. Kinan melirik ke samping dan tak menemukan Andre di sebelahnya.
"Kesiangan sih! Pantas saja kamar Kak Andre sudah sepi. Pasti Kak Andre sudah pergi ke kantor," ucap Kinan sambil meregangkan kedua lengannya ke atas dan menguap lebar.
Tubuhnya terasa sangat segar. Apalagi perasaannya. Sangat bahagia. Semalam, ia berbincang-bincang, melepas rindu dengan Andre. Pria tampan yang selalu ia rindukan selama ini.
"Hei! Kemarin malam, Kak Andre juga menciumku!" seru Kinan sambil menelusuri bibirnya dengan jari jemarinya yang lentik.
"Apakah itu berarti Kak Andre mulai mencintaiku? Atau ciuman itu hanya tanda balas budi kepadaku?" tanya Kinan yang teringat pada ucapan Rimba. Menurut Rimba, Andre hanya berniat untuk membalas budi baik Kinan yang sudah menolong dan menyelamatkannya dari racun yang diberikan ibu tiri Andre. Tidak lebih dari itu.
"Tidak mungkin! Di dunia ini, ciuman adalah tanda menyukai seseorang. Mana ada orang membalas budi dengan ciuman?" Kinan tersipu malu hingga wajahnya memerah panas.
"Sepertinya Rimba salah deh kali ini." Kinan membuka selimut dan turun dari peraduan.
Ada sebuah note dengan tulisan Andre di samping jubah tidurnya yang terlipat di atas nakas.
Selamat pagi, My Angel.
Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Maaf, aku tidak membangunkanmu sebelum aku pergi ke kantor. Jangan marah ya!
Oiya ... karena kebetulan sekolah Rimba sedang libur, aku pun mengajak Rimba ke kantor untuk ikut meeting supaya dia tidak bosan di rumah seharian.
Ok, itu saja pesanku.
Cepat mandi, sarapan dan berangkat bekerja. Pasien-pasienmu sudah antri tidak sabar ingin berobat.
Love,
Andre.
Kinan tersenyum dan buru-buru mengambil jubah tidurnya. Memakainya dan pindah ke dalam kamarnya. Langsung mandi agar tidak terlambat ke klinik.
Saat sedang menikmati sarapan di ruang makan, Kinan kembali melamun memikirkan peristiwa semalam.
"Aargh! Sepertinya semalam aku terlalu cepat membalas ciuman Kak Andre. Seharusnya aku sedikit jual mahal, agar Kak Andre penasaran dan akhirnya memohon kepadaku untuk kembali menciumku. Itu berarti Kak Andre benar-benar mencintaiku. Next time, aku harus menolaknya jika ia mendaratkan bibirnya di sini," ucap Kinan kembali menelusuri bibirnya dengan jari.
Aduh, kenapa pakai sistim tarik ulur sih? Gemes deh!
***
Di ruang kerja Andre.
Andre membereskan dokumen-dokumen persetujuan kontrak yang baru saja ditanda tangani kedua belah pihak. Setelah beres, Andre melirik arloji mewah yang melingkar di tangannya. "Sudah hampir jam makan siang. Aku harus cepat sebelum terlambat."
Andre bangkit berdiri dari singgasananya. Menuju ke ruangan Rendra untuk menjemput Rimba dan Tina.
"Hai, Rimba! Kita pergi makan yuk!" ajak Andre.
"Asyik! Ayo kita pergi, Yah." Rimba men-shut down laptop Rendra. Bersama Tina, keluar mengikuti Andre.
Sesampainya di dalam mobil mewah biru Andre, Rimba kembali melontarkan pertanyaan. "Apakah kita akan makan bersama bunda?"
Andre mengangguk. "Ayah sudah pesan banyak makanan di restoran. Semuanya dikirim ke klinik bunda. Bunda pasti kaget melihat banyaknya makanan yang sudah Ayah pesan."
"Asyik! Kita akan makan siang bersama. Kau senang, Tina?" tanya Rimba pada orang utan yang duduk di kursi belakang.
"Uuu ...." Tina bertepuk tangan kegirangan.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga tiba di klinik hewan milik Kinan. Rimba dengan cepat segera turun dari mobil. "Kakimu masih sakit, Rimba. Jangan berlari terlalu cepat," pelik Andre khawatir luka di kaki Rimba semakin membengkak.
Rimba tertawa riang malah melambai pada Andre agar cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya. Andre tersenyum dan mengikuti Rimba hingga ke ruang tamu.
"Rumah Rimba bagus juga ya," ucap Andre kagum dengan dekorasi rumah milik Kinan.
"Ini kan rumah Ayah. Bagaimana mungkin Ayah lupa dengan rumahnya sendiri?" Rimba balik memutar pertanyaan.
Andre mencekal bahu Rimba dan memandangi Rimba dengan tatapan tajam penuh selidik. "Ayah tidak punya rumah di kawasan ini."
"Tidak mungkin, Ayah. Bibi Ariani mengatakan bahwa ini adalah rumah Ayah yang dapat kami tinggali selama Ayah berada di luar negeri," jawab Rimba polos.
"Siapa yang bilang? Bibi Ariani?" tanya Andre kaget.
Rimba mengangguk. "Bibi Arianilah yang membawa kami pindah kemari. Sebelumnya kami tinggal di rumah Nenek Levi, Ayah."
Andre benar-benar kaget mendengar penuturan Rimba. "Jadi Kinan sempat bertemu Ariani sebelum bertemu denganku?" tanya Andre ingin meyakinkan dirinya lagi.
"Betul sekali. Bunda dan Rimba pernah bertemu Bibi Ariani di rumah nenek Levi sekitar dua minggu yang lalu. Saat pertama kali Rimba bertemu Bibi Ariani, Rimba sudah memperingatkan Bunda. Bibi Ariani itu punya maksud jahat pada Bunda dan Rimba. Tapi Bunda tidak percaya. Karena Bibi Ariani banyak membantu Bunda. Bibi Ariani memberikan rumah ini, ATM, ponsel, mengurus sekolah Rimba bahkan memberikan peralatan dan perlengkapan untuk mendirikan klinik," jelas Rimba.
Ah! Pantas saja Kinan tidak mau memberitahukanku alasan kenapa dia pindah ke rumah ini. Ternyata Kinan tidak ingin aku berburuk sangka pada adik tiriku. Kinan, Kinan, tanpa kau mengatakannya, aku sudah memiliki penilaian tersendiri untuk Ariani. Adik tiriku itu sama licik dan jahatnya dengan ibu tiriku, batin Andre.
"Hallo, semuanya," ucap seorang gadis berambut pendek tiba-tiba muncul di dekat Andre dan Rimba.
"Hallo, Kak Lusi," sapa Rimba. "Ayah, ini Kak Lusi, perawat yang membantu bunda di klinik."
Andre berdehem dan mengacuhkan uluran tangan Lusi yang ingin berjabat tangan dengan Andre. Lusi mengerucutkan mulutnya, tak menyangka pria tampan di hadapannya begitu dingin dan sombong.
Menyebalkan sekali! Untung ganteng, batin Lusi. Kembali mengagumi pesona ketampanan dewa Yunani yang ada di hadapannya.
"Kak Andre, Rimba, kalian sudah datang," ucap Kinan dari ambang pintu.
"Bundaaa." Rimba berlari memeluk Kinan dan Kinan membungkuk mencium kedua belah pipi cubby Rimba.
Andre berjalan mendekati Kinan dan Rimba. Begitu Kinan berdiri tegak setelah berpelukan dengan Rimba, Andre langsung menyambar pinggang ramping Kinan dan mendaratkan sebuah ciuman kilat di pipi Kinan.
"Aku merindukanmu," bisik Andre lembut di daun telinga Kinan.
Rimba yang melihat dan mendengar bisikan ayahnya, tersenyum bahagia. Sementara Lusi terlihat makin kesal. Pria tampan itu ternyata adalah suami dokter hewan Kinan Lee.
Sampai kapan aku akan hidup menjomblo? Karena tiap kali ada pria tampan, pasti sudah ada yang punya. Haish! batin Lusi.