
Kinan terdiam, lidahnya kelu saat Andre memberikan pertanyaan yang seharusnya tidak dia tanyakan pada seorang wanita.
"Apakah pertanyaan seperti ini harus Kinan jawab?" gumam Kinan lirih. Malu dong menjawab pertanyaan Andre. Itu sama saja dengan menyatakan isi hatinya. Mengungkapkan kalau Kinan menginginkan hubungan mereka lebih jauh daripada malaikat penolong dan pihak yang berhutang.
"Tentu. Aku ingin bibir ini menjawabnya," jawab Andre mengangkat dagu Kinan hingga Andre dapat melihat jauh ke dalam mata Kinan. Seketika wajah Kinan menjadi ungu. Ia malu bukan kepalang.
Pasti Kak Andre sudah tahu kalau aku butuh pengakuan cinta darinya. Ish! Sangat memalukan sekali. Aku ngambek dan marah besar saat Kak Andre tidak kunjung memberikan sinyal ke arah mana hubungan kami akan berlabuh, batin Kinan.
"It's okay, Kinan, kalau kau tidak ingin menjawabnya saat ini. Tapi kuharap kau tidak kembali mengungkit masalah ini di kemudian hari. Karena aku sudah menanyakannya tapi kau bungkam tak mau menjawab. Jadi, jangan salahkan aku," ucap Andre usil ingin mengerjai malaikat penolongnya.
Kinan menggigit ujung bibirnya.
Jawab tidak ya pertanyaan Kak Andre? Kalau dijawab, itu berarti aku mengungkapkan cinta lebih dahulu pada Kak Andre. No, no, no. Lelaki harus lebih dahulu mengucapkan kata cinta. Terserah aku dibilang kuno oleh readers. Tapi memang begitulah aku. Aku ingin Kak Andre lebih dahulu yang menyatakannya. Bukan aku, batin Kinan.
Kinan pura-pura menguap. "Aku ngantuk. Mau tidur. Selamat malam, Kak Andre." Kinan buru-buru ingin menyelinap pergi.
Seperti yang anda perkirakan, seorang Andre tidak semudah itu menyerah jika ingin mendapatkan sebuah jawaban dari seseorang. Apalagi jika orang itu sudah memukul perasaannya cukup dalam beberapa menit yang lalu. Mau main kabur begitu saja? Tidak semudah itu, Marimar.
Tangan Andre langsung mencekal pergelangan tangan Kinan, menarik tubuh ramping Kinan hingga terduduk di dalam pangkuannya. Tanpa meminta ijin lebih dahulu, Andre menyerang bibir mungil Kinan dengan rakus. ********** tanpa ampun, hingga pemiliknya tidak punya kesempatan untuk protes.
Walaupun Kinan terus mendorong tubuh tinggi kekar Andre menjauh darinya, namun pria yang satu ini bak tembon beton yang tidak bergeser satu inchi sedikitpun, kalau sudah meraup apa yang diinginkannya. CEO dingin penuh ambisi kok dilawan? Tentu saja dokter hewan hanya bisa menolak dengan merintih di sela-sela helaan nafasnya.
Tak berhenti di bibir saja, tangan kekar dan berotot itu makin berani, masuk ke dalam baju turtleneck lengan panjang berwarna kuning yang dikenakan Kinan, menyentuh apa yang tidak boleh disentuh hingga membakar percikan asmara yang makin menggelora di hati Kinan.
Kinan merutuk dalam hati, jangan sampai mulutnya berani berucap 'I love you'. Sedahsyat apapun korek api cinta digesekkan, jangan sampai ada nyala api berkobar di atas pentol koreknya. Kinan menekuk bibir yang bervolume ke dalam rongga mulut, memastikan mulutnya tertutup rapat-rapat hingga Andre tidak dapat mengecap rasa manis bibir mungil itu lagi.
Aish! Kenapa wanita yang satu ini begitu sulit ditaklukkan? Mau jual mahal? Katanya tadi dia butuh pengakuan cintaku, tapi kenapa sekarang dia menolak ciumanku? batin Andre.
Ddrrtt ... Ponsel Andre bergetar, membuat Andre mengendurkan lingkaran tangannya yang terus mengungkung tubuh ramping Kinan. Bagai mendapat kesempatan emas, Kinan langsung melompat dan berlari meninggalkan Andre sendirian di bangku taman rumah kaca. Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Andre tersenyum tipis. Rendra menelepon memintanya segera pergi ke bandara Juanda.
"Bye, Kinan. Kita berjumpa lagi minggu depan," gumam Andre segera pergi meninggalkan rumah kaca. Melesat dengan mobil biru mewahnya membelah keheningan malam.
***
Sinar matahari pagi masuk dari celah-celah jendela kamar Kinan. Kinan membuka matanya perlahan, menguap lebar dan kembali bergelung di dalam selimutnya.
"Good morning, Bunda." Rimba dengan santun menyapa bundanya yang semalam tidur larut malam. Rimba tahu semalam bunda banyak menangis. Lihat saja, kelopak mata bunda bengkak dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Morning, Rimba. Kenapa Rimba tidak sarapan di ruang makan saja?" tanya Kinan setelah melihat putranya bersama Tina sedang sarapan di atas meja oval yang ada di tengah kamarnya.
"Ruang makan sepi, Bunda. Lebih baik makan di kamar sambil melihat Bunda tidur," jawab Rimba yang tadi pagi sudah turun ke ruang makan untuk sarapan. Tapi karena ingat kalau ayahnya dan Om Rendra sudah berangkat ke Amerika, Rimba meminta pelayan mengirimkan sarapannya ke kamar saja.
"Apakah ayahmu belum bangun tidur?" tanya Kinan ingin tahu mengapa Rimba mengatakan ruang makan sepi, padahal biasanya sepagi ini Andre sudah duduk di ruang makan menikmati secangkir kopi susu.
"Ayah tidak ada di kamar, Bunda. Ayah sudah pergi ke San Fransisco tadi malam," jawab Rimba enteng. Maaf Om Rendra, Rimba tidak bisa menutupi apapun dari Bunda. Apalagi main rahasia-rahasiaan. Rimba selalu jujur kalau ditanyai Bunda.
Apa? Kak Andre pergi ke San Fransisco? Pergi meninggalkanku begitu saja tanpa memberitahuku? Keterlaluan! Menyebalkan! batin Kinan kesal. Jemari tangannya mencengkeram kasar selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Bunda marah karena tidak diajak ayah ke San Fransisco?" tanya Rimba.
Kinan memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Tapi sangat kaku dan jelek.
"Ayah pergi untuk berbisnis, Bunda. Om Rendra juga ikut kok. Oh iya, Om Rendra berjanji akan pulang membawa banyak oleh-oleh. Jadi Bunda jangan marah pada ayah karena ayah tidak mengajak Bunda ke luar negeri," sahut Rimba cepat agar kemarahan Bunda segera menguap ke udara dan senyum Bunda kembali cantik seperti biasanya.
Kinan menggigit bibirnya. Ia ingin mengucapkan kata dusta. Memberitahu Rimba kalau dirinya tidak marah walau sudah ditinggalkan begitu saja oleh Andre tanpa ijin. Tapi Kinan tak sampai hati mengucapkan dusta pada putranya yang masih polos dan suci. Sebagai orang tua, Kinan sadar ia tidak boleh mengajarkan hal yang buruk pada putranya. Agar putranya selalu menjadi orang yang lurus bukan orang yang suka berbohong demi menutupi rasa malu.
Kina mengambil nafas. "Kalau begitu, Bunda juga akan sarapan di kamar saja. Setelah ini, Rimba ikut Bunda ke klinik ya. Rimba harus membantu Bunda. Kan Kak Lusi sudah resign kemarin."
"Siap, Bunda. Rimba senang membantu Bunda di klinik," ucap Rimba.
***
Di klinik hewan Kinan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, Kinan dan Rimba berniat menutup klinik. Tapi seorang gadis berpakaian oranye, datang tergopoh-gopoh sambil membawa seekor kucing berbulu tebal dengan kaki terluka, penuh darah.
"Dokter, dokter, tolong selamatkan kucing ini," pinta gadis itu dengan wajah cemas ketakutan. Menilik dari pakaian yang dikenakan gadis itu, Kinan tahu kalau gadis itu bekerja sebagai cleaning servis perumahan yang biasanya dipanggil untuk bekerja di beberapa rumah mewah.
"Kucingnya kenapa, Dik?" tanya Kinan langsung mengambil kucing berbulu tebal dari gendongan gadis itu.
"Saat saya mau pulang setelah bersih-bersih di rumah Bu Komang, kucing ini nyelonong keluar. Kakinya tertabrak mobil yang melintas, Dok." Wajah gadis itu menunduk ketakutan, tubuhnya gemetar.
Kucing berbulu tebal itu mengeong berkali-kali dalam gendongan Kinan. Rimba yang ada di sebelah Kinan mendengarkan suara kucing itu dan mengartikannya apa yang diucapkan si kucing pada Kinan.
"Kakak cleaning servis tidak berbohong, Bunda. Si kucing mengatakan bahwa kecelakaan ini adalah kecerobohannya. Si kucing berlari sesuka hati begitu melihat pintu terbuka, tidak melihat ke kanan dan ke kiri saat akan menyeberang sehingga tertabrak mobil," bisik Rimba.
"Terima kasih, Pangeran Hutan," bisik Kinan balik.
Kinan menengadah dan tersenyum lembut pada gadis cleaning servis.
"Saya periksa dulu, Dik. Sepertinya ini hanya luka luar kok, tidak sampe patah tulang. Tapi saya tetap rontgent kakinya dulu agar lebih pasti," ucap Kinan.
Gadis berpakaian oranye itu langsung memegang tangan Kinan sebelum Kinan berbalik untuk pergi. "Dokter, saya tahu kalau saya salah dan biaya pengobatan kucing ini seharusnya saya yang menanggung. Tapi saya tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan kucing ini, Dok."
Kinan tersenyum. "Jangan khawatir. Pengobatannya gratis kok. Ini memang bukan kesalahanmu. Si kucing yang nakal, main kabur keluar rumah, persis seperti Kak Andre. Masalah semalam belum selesai, Kak Andre main kabur keluar negeri. Lain kali kamu harus berhati-hati saat bekerja, jangan sampai hal ini terulang kembali, okay?"
Gadis cleaning servis itu mengangguk dan wajahnya langsung ceria. Senyum lebar langsung menghias wajah bulatnya. "Terima kasih banyak, Dokter."
"Sama-sama." Kinan pergi membawa kucing untuk diperiksa.
"Ngomong-ngomong siapa itu Kak Andre?" gumam gadis cleaning servis sedikit bingung dengan arah pembicaraan Kinan.
"Dia ayahku," jawab Rimba bangga.
"Oh." Kepala gadis cleaning servis itu mengangguk-angguk. Dia paham. Dokter hewan yang baik dan cantik ini sedang bertengkar dengan suaminya. Dan suaminya kabur keluar negeri to?
"Ternyata ayah yang membuat bunda menangis semalam. Aku akan meneleponnya setelah ayah tiba di San Fransisco. Aku harus tahu, ada masalah apa antara ayah dan bunda. Lalu mendamaikannya. Bertengkar lama itu capek hati dan pikiran," gumam Rimba.
"Anak kecil mau tahu aja urusan orang tua," tukas gadis cleaning servis sambil mengusap rambut cokelat Rimba.