
Seperti tidak ada habisnya. Jumlah musuh Biao terus bertambah hingga akhirnya aula pesta itu di penuhi dengan pasukan bersenjata yang siap membunuh siapa saja yang ada di hadapan mereka.
Mr. Paul menaikan satu alisnya saat melihat pasukan Yakuza kini memenuhi lokasi tersebut. Beberapa pengawal Mr. Paul berbaris rapi untuk melindungi Mr. Paul dari bahaya. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa jika sang majikan tidak memberi perintah apapun.
Mr. Paul terlihat menyelidiki lokasi pesta tersebut. Ia tahu segerombolan orang yang kini ada di depan matanya. Tapi, ia bingung. Kenapa geng yakuza yang terkenal kejam itu berniat menyerang Biao malam itu.
“Serahkan wanita itu pada kami, maka kami akan membebaskan nyawa kalian semua,” teriak seorang pria bertato dengan wajah penuh percaya diri. Dari kejauhan, Kagawa memperhatikan bawahannya dengan wajah tenang. Ia akan bertindak saat keadaan telah mengijinkannya untuk bertindak.
Biao terlihat geram dan emosi saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh pria sok hebat itu. Dengan gigi saling beradu Biao menembak pria itu tanpa ampun. Tembakan yang di lakukan Biao membuat semua pasukan milik Ayato menaikan senjata mereka. Beberapa tamu undangan yang tersisa terlihat tiarap dan bersembunyi di bawah meja karena ketakutan.
“Anda tidak akan bisa menang melawan kami. Jumlah kami jauh lebih banyak,” ucap pria itu dengan senyuman tipis.
Biao memandang sekelilingnya. Benar apa yang di katakan oleh pria itu. Hari ini mereka kalah jumlah. Sejak awal mereka hanya membawa pasukan untuk berjaga-jaga jika Mr. Paul kembali mengganggu Sharin. Tidak di sangka, malam itu justru pasukan Yakuza yang menyerang mereka secara tiba-tiba.
“Anda terlalu peraya diri. Ada kami di sini,” ucap Mr. Paul dengan suara lantang. Tentu saja Mr. Paul tidak akan tinggal diam jika masalah ini menyangkut nama Sharin. Pria itu memberi perintah kepada seluruh bawahannya untuk mengangkat senjata api milik mereka, “Jika seperti ini jumlah kita seimbang. It’s show time,” perintahnya dengan senyuman tipis.
Tembakan demi tembakan di keluarkan oleh pasukan milik Mr. Paul. Di bantu dengan pasukan milik Biao. Pertempuran itu terlihat sangat seimbang. Biao dan Mr. Paul juga larut dalam pertarungan itu. Tangan Biao menggenggam tangan Sharin dan tidak membiarkan wanita itu menjauh darinya. Biao membawa Sharin ke balik meja yang sengaja ia gunakan sebagai pelindung.
“Sharin, aku akan melindungimu,” ucap Biao sambil memegang kedua pipi Sharin, “Jangan takut.”
Sharin mengangguk dengan wajah ketakutan. Napasnya terputus-putus dengan mata yang memerah ingin menangis. Ia tidak tahu, kenapa harus ada orang jahat yang kini mengincar nyawanya.
Sharin dan Biao menatap wajah Mr. Paul. Kini pria itu mengangkat senjatanya dan siap menembak ke arah Biao.
DUARR
Satu tembakan di keluarkan oleh Mr. Paul. Tapi bukan untuk Biao. Melainkan untuk pria yang berdiri di belakang Biao dan Sharin. Biao memutar tubuhnya lalu menatap ke arah belakang.
“Terima kasih,” ucap Biao kepada Mr. Paul.
“Kita harus membawa Sharin pergi dari sini,” ucap Mr. Paul, “Aku akan membantumu melindungi Sharin.”
“Kalian pikir bisa dengan mudah lolos dari incaranku?” ucap Kagawa dengan senyum simpul menghina.
“Siapa kalian?” ucap Biao sambil menatap wajah musuhnya secara bergantian, “Apa yang kalian inginkan?”
Kagawa menatap tajam wajah Biao, “Apa kau lupa dengan perbuatanmu, Biao. Hari ini kami kembali untuk balas dendam kepadamu.”
“Kenapa kau membawa Sharin? Bukankah kau dendam kepada Biao? Kau bisa melukainya saja, kenapa harus mengincar Sharin,” sambung Mr. Paul dengan ekpresi wajah yang santai.
Biao menatap wajah Mr. Paul dengan tatapan tidak suka sebelum menatap tajam wajah Kagawa lagi.
“Aku takut, apa mereka ingin membunuh kita?” ucap Sharin kepada Biao. Wanita itu merangkul lengan suaminya dengan hati yang sangat takut.
“Tidak akan, ada aku di sini,” ucap Biao sambil mengusap lembut wajah Sharin.
Mr. Paul membuang tatapannya. Ia sungguh menyesal sudah membantu Biao. Andai saja sejak awal ia tahu kalau kini gerombolan Yakuza itu mengincar Biao maka ia tidak ingin turun tangan.
Biao memandang wajah Mr. Paul, “Jaga Sharin. Aku akan menghadapi mereka sendirian.”
“Jangan,” tolak Sharin. Wanita itu menggeleng sambil meneteskan air mata.
“Sayang, aku akan baik-baik saja. Kita harus menyelesaikan semuanya hari ini juga. Aku tidak ingin mereka terus-terusan mengganggu hidup kita.” Biao mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sharin, “Aku akan baik-baik saja.”
Sharin mundur beberapa langkah dan melepas genggaman tangannya dari tubuh Biao. Ia sangat takut. Tapi, tidak ada pilihan lain selain melawan musuh yang kini menghalangi langkah mereka.
Mr. Paul melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah depan. Pria itu terlihat sangat tertarik dengan pertunjukan yang akan tersaji di depan matanya.
“Mr. Paul, aku mohon. Bantu Biao. Aku akan baik-baik saja di sini,” pintah Sharin dengan wajah memelas.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu. Bukankah pria itu menyuruhku untuk menjagamu di sini,” jawab Mr. Paul tanpa mau memandang wajah Sharin.