
Biao melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kedua matanya terus saja memandang mobil yang membawa Sharin. Di belakang mobil Biao ada mobil Mr. Paul yang tidak kalah cepat dengan Biao. Pasukan dua pria itu juga masih setia mengikuti mereka dari belakang.
Mobil-mobil itu saling kejar-kejaran satu sama lain. Hari sudah semakin larut malam. Jalanan juga sudah mulai sunyi. Kejar-kejaran mobil itu terasa semakin menyenangkan saat melihat jalanan raya kota San Fransisco sunyi.
Kabut malam yang dingin terus-terusan mereka tembus. Mobil yang membawa Sharin melaju cepat melewati jembatan Golden gate. Ujung jembatan itu menuju ke Marin Headlands. Sebuah perbukitan yang terletak di utara San Fransisco.
Tebalnya kabut saat berada di daerah perbukitan membuat pandangan Biao terhalangi. Pria itu terlihat sangat kesal dan kecewa saat melihat mobil yang sejak tadi ia incar tidak lagi terlihat. Hanya kabut yang cukup tebal yang malam itu bisa ia pandang.
“Aku tidak akan pernah mengampuni orang yang berani menyentuh istriku!” ucap Biao dengan hati di penuhi emosi. Pria itu tidak ingin menyerah. Ia terus-terusan menambah laju mobilnya agar tidak kehilangan jejak terlalu jauh.
Beberapa saat kemudian.
Biao menghentikan laju mobilnya di sebuh bukit yang menghadap ke lautan. Pria itu keluar dari dalam mobil dengan sebuah pistol di tangannya. Mobil yang sempat ia lihat membawa Sharin telah terparkir tidak jauh dari posisi mobil Biao berada.
Mr. Paul dan yang lainnya juga baru saja tiba di lokasi tersebut. Semua orang keluar dari dalam mobil dan berkumpul di lokasi tersebut. Mr. Paul memandang keadaan sekitar dengan sorot mata yang sangat tajam. Pria itu juga mmengeluarkan senjata apinya untuk jaga-jaga kalau bahaya tiba-tiba menyerangnya.
“Kalian periksa di sana,” perintah Mr. Paul kepada bawahannya. Beberapa pasukan Mr. Paul berlari kencang untuk memeriksa perbukitan itu.
Baik Biao maupun Mr. Paul sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Mereka saling gengsi hingga hanya berdiaman saja di tempat itu. Telinga mereka terpasang dengan begitu peka. Sedikit saja suara Sharin terdengar maka mereka akan segera berlari untuk menolong Sharin.
Tapi, seakan harapan itu hanya sebuah harapan. Seluruh anak buah Biao dan Mr. Paul telah memeriksa lokasi tersebut dan tidak berhasil menemui keberadaan Sharin.
Malam itu Biao semakin murkah. Dengan wajah di penuhi emosi, Biao berjalan ke tepian bukit. Pria itu menatap lautan yang terlihat tenang dan menyeramkan. Jika siang hari lautan itu terlihat biru, tapi ketika malam tiba lautan itu justru terlihat gelap.
Biao merasa sesuatu yang aneh dari bagian bawah perbukitan tersebut. Dengan gerakan hati-hati Biao berjalan turun. Di belakang Biao ada Mr. Paul yang setia menemaninya. Walau tidak untuk melindungi Biao. Tapi, kelakuan Mr. Paul berhasil membuat Biao merasa di temani.
Seperti apa yang dipikirkan Biao. Di rerumputan yang cukup rimbun, Sharin telah tergeletak di sana. Wanita itu memejamkan mata dengan kondisi tidak sadarkan diri.
“Sharin,” ucap Biao dan Mr. Paul bersamaan.
Dua pria itu berjalan mendekati posisi Sharin berada. Namun, baru beberapa meter melangkah, tangan Biao sudah di tarik paksa oleh Mr. Paul. Gerakan yang di lakukan Mr. Paul berhasil membuat Biao terjatuh di atas rerumputan juga.
“Apa yang kau lakukan?” protes Biao tidak suka.
“Mereka memasang jebakan,” ucap Mr. Paul sambil memperhatikan tali yang hampir saja di pijak Biao tadi. Tidak tahu apa fungsi tali itu. Tapi, setidaknya Mr. Paul sudah berhasil mencegah Biao agar tidak masuk ke dalam mala bahaya.
“Sayang, bangun,” ucap Biao dengan nada memohon. Pria itu berulang kali mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sharin sebagai bentuk rasa khawatirnya.
“Kita harus membawa Sharin ke rumah sakit,” ucap Mr. Paul sambil menatap wajah Sharin.
Saat Biao dan Mr. Paul telah sibuk mengurus Sharin. Di atas bukit telah terdengar tembakan yang begitu mengerikan. Biao menatap wajah Mr. Paul dengan seksama.
“Mereka tidak akan membiarkan kita pergi dari tempat ini dalam keadaan selamat,” ucap Biao sambil mempererat pelukannya di tubuh Sharin.
“Aku akan mengatasi mereka. Sebaiknya, kau segera membawa Sharin ke rumah sakit. Aku akan berusaha menghalangi mereka agar tidak menyerangmu.” Mr. Paul menaikan senjata apinya. Pria itu siap bertempur dengan orang-orang yang berniat mencelakainya.
Sedangkan Biao berjalan menuju ke mobil. Pria itu meletakkan Sharin di dalam mobil lalu memakaikannya sabuk pengaman. Biao berdiri di samping mobil. Ia melihat semua orang sedang bertarung dengan begitu menegangkan.
Biao merasa tidak enak jika ia harus pergi dan menghindar. Sambil menggulung lengan kemejanya, Biao berjalan mendekati beberapa musuhnya yang telah bertarung melawan bawahan Biao.
DUAARR DUARR
Entah dari mana tembakan itu berasal, yang pasti suara tembakan itu sungguh memekakan telinga. Ayato dan Kagawa kembali muncul di lokasi pertempuran. Dua pria itu memegang senjata api berukuran panjang dengan ratusan peluru di dalamnya.
Tidak mau menunggu lama. Ayato dan Kagawa menyerang seluruh pasukan milik Biao dan Mr. Paul secara bersamaan. Dalam hitungan detik, ratusan peluru yang mereka keluarkan berhasil membuat semua musuhnya lumpuh tak berdaya.
Di perbukitan itu hanya tersisa Biao dan Mr. Paul. Dua pria tangguh itu berdiri saling bersampingan. Mereka menghadap ke arah Ayato dan Kagawa. Walau terbilang senjata api yang merek miliki tidak ada apa-apanya. Tapi, mereka berjuang keras untuk memenangkan pertarungan.
Biao dan Mr. Paul mengeluarkan tembakan ke arah Ayato dan Kagawa berada. Mereka juga melakukan gerakan untuk menghindari peluru yang terus-terusan mengincar mereka dengan sadis dan mengerikan.
“Biao, awas!” Mr. Paul mendorong Biao saat melihat beberapa peluru mengincartubuh pria tangguh itu.
Biao menatap peluru yang hampir saja melukainya, “Terima kasih.”
“Kita harus bekerja sama kali ini. Aku akan menghadapi pria yang kanan dan kau yang kiri,” ucap Mr. Paul kepada Biao.
“Baiklah, aku setuju.” Biao menatap wajah Ayato. Memang pria itu yang akan menjadi lawannya. Biao mulai mempersiapkan dirinya sebelum berlari untuk menyerang. Tangannya terkepal kuat dan siap memberi hadiah kepada musuhnya sebuah pukulan yang menyakitkan.