
Biao dan Ayato sama-sama berlari kencang. Dua pria itu berhenti di titik tengah sebelum saling melayangkan satu pukulan. Biao berusaha menghindari pukulan Ayato. Sekilas Biao mulai ingat dengan sosok pria yang kini bertarung dengan dirinya. Teknik bertarung Ayato memiliki ciri khas sendiri hingga dengan mudah di ingat oleh Biao.
“Kau pria yang malam itu menyerangku?” ucap Biao sambil menatap tajam wajah Ayato.
“Ingatanmu cukup bagus, Biao. Apa kau menyesal karena saat itu tidak memeriksa dulu aku masih hidup atau sudah mati terbakar?” sindir Ayato dengan senyum yang di penuhi kebencian.
Biao mengukir senyuman tipis, “Saat itu aku memberimu kesempatan untuk hidup. Tidak di sangka kau justru tidak suka hidup dan lebih memilih untuk menyusul kematianmu saat ini.”
Ayato terlihat kesal dan sakit hati atas kalimat yang di ucapkan oleh Biao malam itu. Pria itu melayangkan tangannya menuju ke wajah tampan Biao. Dengan gerakan cepat dan tenaga yang kuat Biao menahan tangan Ayato yang beberapa centi lagi menyentuh wajahnya. Tidak ingin diam saja. Biao melayangkan satu pukulan yang berhasil menyerang bagian dagu Ayato.
Baku hantam itu terjadi dalam durasi yang cukup lama. Baik Biao maupun Ayato terus saja mengincar bagian tubuh lawannya untuk di kalahkan. Wajah mereka terdapat banyak lebam biru sebagai hasil dari pertarungan mereka.
Di sisi lain terlihat Mr. Paul yang terlihat sibuk memukul Kagawa. Berbeda dengan Biao. Mr. Paul tidak terkena luka sedikitpun di bagian wajah. Kali ini lawan yang di dapatkan oleh Mr. Paul memang tidak sehebat lawan yang di dapat Biao.
Mr. Paul bahkan masih sempat merapikan penampilannya di sela-sela pertarungan. Pukulan yang di berikan oleh Mr. Paul selalu tepat sasaran. Kini wajah Kagawa terlihat babak belur dan di penuhi luka.
“Berpikirah dua kali sebelum mencari masalah denganku!” ucap Mr. Paul dengan senyuman tipis. Kali ini pukulan dari Mr. Paul untuk Kagawa berasal dari kaki. Sepatu dengan ujung yang cukup keras mendarat cantik di wajah Kagawa.
Darah segar keluar dari mulut Kagawa. Pria itu terjatuh di tanah dengan posisi duduk. Tubuhnya terlihat tidak berdaya. Ia menggenggam sebuah pistol dan berusaha bangkit lagi dari posisinya. Kagawa tidak ingin kalah walau ia memang sudah terlihat tidak berdaya saat itu.
Mr. Paul lebih waspada. Kali ini lawan yang akan ia hadapi menggunakan senjata api. Sedikit saja ia ceroboh maka salah satu bagian tubuhnya bisa tertembak dan terluka, “Kali ini aku tidak akan mengampunimu lagi. Kau harus mati di tanganku!” teriak Mr. Paul penuh dendam. Pria itu juga memasang strategi untuk menyerang lawannya.
.
.
Ayato mundur beberapa langkah sebelum mengangkat kaki kirinya. Pria itu mengumpulkan seluruh tenaganya dan melayangkan satu pukulan ke perut Biao. Kali ini trik yang ia ambil cukup sempurna. Bagian perut Biao harus merasakan sakit yang luar biasa.
“Apa sekarang kau tidak sehebat dulu, Biao?” hina Ayato sambil menaikan satu alisnya. Ayato mengeluarkan sebuah pistol lalu mengarahkannya ke arah Biao. Dengan gerakan cepat Biao menahan tangan Ayato. Pistol itu mereka genggam sama-sama. Saling rebutan untuk mendapatkannya.
Tubuh Biao membelakangi Ayato. Kedua tangan Ayato kini berada di sisi kanan dan kiri tubuh Biao untuk merebut kembali pistol miliknya. Melihat pistol itu sangat sulit untuk ia dapatkan. Biao melayangkan satu pukulan ke wajah Ayato dengan menggunakan siku tangan.
Biao melepas genggamannya dari senjata api milik Ayato. Pria itu mendorong tubuh Ayato dengan sekuat tenaga. Dengan gerakan cepat Biao mengeluarkan senjata api yang ia bawa dan mengarahkan ujung senjata api itu tepat ke arah dahi Ayato.
Kali ini dua pria itu saling mengarahkan senjata api mereka ke arah dahi pria yang mereka anggap musuh. Sorot mata dua pria itu sangat tajam dan menakutkan. Napas mereka terputus-putus karena baru saja melewati pertarungan yang sengit tadinya.
“Aku pernah melewati kematin saat itu. Hari ini aku tidak lagi takut dengan kematian,” ucap Ayato dengan penuh kesombongan.
Biao menyunggingkan bibirnya, “Aku bahkan sudah sering menghadapi malaikat maut di hadapanku. Tapi, takdir belum memintaku untuk pergi meninggalkan dunia ini. Jika malam ini takdir ingin menjemputku, aku harap itu bukan karena dirimu.”
Ayato dan Biao sama-sama menarik pelatuk mereka secara bersamaan dan penuh perhitungan. Kali ini dua pria itu sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Mereka harus mengambil resiko dengan mengorbankan nyawa demi merenggut nyawa yang lain.
DUARR DUARR
Dua tembakan terdengar hingga memekakan telinga. Tembakan itu tidak terlalu jauh dari posisi Mr. Paul berada. Mr. Paul yang tadinya ingin mendaratkan satu pukulan maut ke wajah Kagawa harus menghentikan aktifitasnya sejenak.
Suara tembakan itu membuat perhatiannya teralihkan. Mr. Paul menatap ke arah Biao dan Ayato berada. Dua pria itu berdiri dengan posisi saling memandang satu sama lain. Mata mereka tidak berkedip sama sekali. Senjata api masih utuh di genggaman tangan mereka.
Mr. Paul semakin bingung dengan apa yang terjadi. Pria itu menatap satu persatu wajah dua pria itu dengan seksama. Ia berharap kalau bukan Biao yang celaka malam itu. Walau sempat benci dan bermusuhan. Tapi, Mr. Paul tidak ingin Sharin kehilangan pria yang dicintainya. Ia tidak akan sanggup melihat Sharin menderita karena merasa kehilangan.
Dalam hitungan detik Ayato terjatuh tersungkur ke tanah. Wajahnya miring ke samping dengan tubuh tengkurap. Ada darah yang membasahi punggungnya. Darah itu berasal dari bagian belakang kepala Ayato. Ada dua peluru yang berhasil menancap di bagian belakang pria itu. Kedua mata Ayato masih terbuka seolah menatap musuhnya dengan kebencian.
Sharin berdiri di belakang Ayato dengan tangan gemetar. Wanita itu tidak tahu dengan apa yang sudah ia perbuat. Sharin bangun di waktu yang sangat tepat. Senjata api yang ia temukan ia gunakan untuk menyelamatkan nyawa pria yang sangat ia cintai.
Bahkan di saat menembak saja Sharin menutup matanya. Ia takut tembakannya meleset dan akan membuat pria yang ia cintai yang menjadi terluka.
“Sharin,” ucap Biao. Dengan gerakan cepar Biao berlari untuk mendekati tubuh Sharin. Wajahnya sangat berseri karena bisa melihat wanita yang ia cintai berdiri dalam keadaan sehat. Biao ingin segera memeluk tubuh Sharin detik itu juga.
DUAAARRR!