
Sharin menatap wajah Biao dengan seksama. Wanita itu berpikir keras agar Biao tidak salah paham dengannya. Untuk beberapa detik ia mengatur napasnya dan membuang rasa takutnya agar bisa mengendalikan Biao. Kini lelaki yang ia cintai sedang emosi pada level tinggi. Kata rayuan nan manja yang selama ini ia gunakan tidak akan berhasil.
“Aku tidak membelanya. Dia ingin menjebak kita!” teriak Sharin tidak kalah kuat dengan suara Biao.
Biao mengatur emosinya sambil menatap wajah Sharin, “Apa kau benar-benar telah berciuman dengan lelaki baji*ngan ini, Sharin?” tanya Biao dengan hati menahan amarah.
“Aku-” ucapan Sharin tertahan, “Maafkan aku karena tidak jujur sejak awal.”
Mr. Paul tertawa dengan suara yang kencang, “Apa kau tidak memberi tahu Biao sentuhanku yang lainnya, Sayang.”
Biao memajukan langkah kakinya lagi untuk menambah pukulannya di wajah Mr. Paul. pancingan dari Mr. Paul memang cukup berhasil membuat Biao lupa diri. Bahkan kata-kata yang terucap dari bibir Sharin tidak terlalu ia pedulikan.
“Aku mohon, hentikan. Jangan mau masuk dalam jebakannya!” ucap Sharin sambil memeluk tubuh Biao lagi. Wanita itu benar-benar frustasi dengan wajah Biao yang berubah menyeramkan. Ia putus asa dan kehilangan akal untuk membujuk Biao agar mau mendengarkan perkataannya, “Ayo kita pergi dari sini.” Sharin menenggelamkan kepalanya di dada Biao. terdengar jelas debaran jantung Biao yang kini tidak karuan. Bahkan napas yang memburu dengan begitu panas kini memenuhi bagian rambut Sharin.
Mr. Paul beranjak dari duduknya. Lelaki itu mengukir senyuman menantang kepada Biao. Bukti yang kini ia dapatkan sudah cukup untuk menghancurkan Biao di depan seluruh investor terbaik milik Daniel. Ia cukup yakin kalau secepatnya Daniel akan mengusir Biao dari perusahaan S.G. Group cabang Amerika.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Biao. Aku akan selalu menang dan mendapatkan apa yang aku inginkan.” Mr. Paul melirik ujung kaki hingga ujung rambut bagian tubuh Sharin, “Bahkan wanita yang kau cintai juga akan menjadi milikku.”
Sharin memperkuat genggamannya di kemeja Biao. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk mengulang bujukannya kepada Biao. Ini bujukan terakhirnya dan menurut Sharin cukup beresiko. Tapi, ia harus mengatakan ancaman itu dan berharap Biao takut dengan ancamannnya.
“Jika kau masih ingin memukulnya, pukul saja. Tapi, jangan biarkan dia hidup. Pastikan nyawanya melayang malam ini!” ucap Sharin dengan napas yang cukup sesak. Ia tidak pernah menyangka kalau berpacaran dengan pria seperti Biao bisa mengubah sifat lemahnya menjadi berani.
Biao menundukkan kepalanya untuk menatap wajah Sharin, “Apa kau yakin dengan ucapanmu?”
Mr. Paul memasukkan satu tangannya ke dalam saku. Kalimat yang di ucapkan Sharin membuatnya berubah waspada. Jika memang Biao akan mengabulkan permintaan Sharin, maka ia siap untuk melawan Biao dan bertarung habis-habisan dengan Biao malam ini.
“Ya. Aku cukup yakin dengan apa yang aku katakan. Tapi, aku akan pergi dari sini. Kau lakukan pembantaian keji itu di belakangku. Karena aku tidak ingin melihat adegan kekerasan seperti itu. Perkelahian membuat hidupku menjadi trauma dan sulit untuk menjani hidup.” Sharin melepas genggamannya dari tubuh Biao. Kalimat itu hanya ancaman. Sharin sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika setelah ia pergi Biao bukan mengejarnya justru melakukan aksi yang ia minta sebelumnya, “Kau bisa melakukannya setelah aku menjauh dari tempat ini.”
Sharin berjalan ke arah meja untuk mengambil barang miliknya. Tatapannya teralihkan kepada beberapa pengunjung dan karyawan restoran yang kini memandangnya dengan tatapan tidak terbaca, “Kenapa ia tidak melakukan apapun. Kenapa ia tidak mengejarku atau mengikuti pergi?” gumam Sharin di dalam hati.
“Bodoh! bodoh! Seharusnya aku tahu kalau ancaman seperti ini tidak akan berhasil. Bagaimana kalau setelah aku keluar dari restoran ini ia benar akan membunuh Mr. Paul? Tidak! Tidak. Aku tidak bisa membiarkannya membunuh dan di penjara,” gumam Sharin di dalam hati.
Sharin menghentikan langkah kakinya saat tubuhnya sudah hampir dekat dengan pintu keluar. Dengan gerakan cepat Sharin memutar tubuhnya untuk mencegah Biao dan membujuk lelaki itu sekali lagi. Tiba-tiba saja kepalanya terbentur dada Biao yang sudah ada di belakangnya. Wanita itu mendongakkan kepalanya dengan perasaan lega.
Biao tidak lagi mau mengeluarkan kata. Satu tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan Sharin sebelum menyeretnya cepat meninggalkan restoran. Ancaman Sharin cukup berhasil untuk membuat Biao mengurungkan niatnya. Lelaki itu tidak ingin Sharin celaka saat berada jauh dari pandangan matanya.
Sharin mulai mengatur napasnya untuk kembali normal. Wanita itu tidak tahu dengan keadaan yang akan ia terima nanti. Apa Biao akan marah padanya, membencinya atau akan memutuskannya. Satu hal yang pasti, untuk detik ini Biao tidak lagi berkelahi. Hal itu sudah cukup membuat Sharin bisa menghirup udara segar dengan tenang.
Biao membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Sharin. Wanita itu masuk ke dalam tanpa mau banyak kata lagi. Kepalanya menunduk takut setelah berada di dalam mobil.
Biao mengambil ponselnya dari dalam saku. Lelaki itu melekatkan ponselnya untuk menghubungi anak buahnya. Sejak awal, Biao memang sudah mengirim anak buahnya untuk mengepung rumah Mr. Paul. Bahkan Biao sudah berencana untuk mengunjungi Mr. Paul di rumahnya setelah melewati makan malam dengan Sharin. Tidak di sangka, lelaki yang ingin ia temui justru lebih dulu untuk menemuinya.
“Tinggalkan tempat itu. Aku sudah bertemu dengannya!” ucap Biao sambil berjalan menuju ke arah bangku kemudi.
[Tuan, apa anda baik-baik saja?] Suara bawahan Biao terdengar panik. Satu keadaan yang di luar dugaan. Di saat Biao sendirian justru ia mendapat serangan mendadak dari musuh yang ingin mereka habisi.
“Aku baik-baik saja.” Biao memutuskan panggilan ponselnya. Lelaki itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku sebelum masuk ke dalam mobil.
Setelah berada di dalam mobil, Biao tidak lagi mau mengeluarkan kata. Lelaki itu hanya fokus ke jalan yang ada di depan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sharin yang di penuhi rasa bersalah hanya bisa menunduk takut. Bibirnya terkunci dengan perasaan yang campur aduk. Ia hanya berharap untuk segera tiba di rumah dan beristirahat. Sharin ingin melupakan kekacauan besar yang telah terjadi hari ini.
Like dan Vote jangan sampai Lupa ya reader... Aku gak akan semangat ini up-nya kalau bukan karena Biao ada di rangking atas terus.
terima kasih.