Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 28



Biao kembali duduk di meja kerja miliknya. Satu nama yang kini tersimpan di dalam hatinya adalah nama Tama. Namun, melihat dari waktu yang mereka miliki sudah berbeda jauh. Membuat Biao mengurungkan niatnya. Dilihat dari waktu yang ia miliki saat ini, sahabatnya di Sapporo masih tertidur pulas.


Biao membuka layar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Bagaimanapun juga ia bukan Daniel yang bisa sesuka hati dengan pekerjaannya. Bahkan antara hubungan cinta dan pekerjaannya saat ini sama-sama hal yang tidak bisa di pilih salah satunya. Berbeda dengan Daniel. Lelaki itu bisa dengan bebas melempar pekerjaannya kepada bawahannya karena ia anak pemilik saham utama.


Rapat semalam itu sudah cukup membuktikan keterbatasan yang ia miliki dalam menjaga Sharin. Walau begitu, Biao tidak ingin hal yang sama terulang kembali. Baginya itu hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya. Ia tidak ingin Sharin mengalami kejadian buruk seperti itu lagi.


Sebelum memulai pekerjaannya, Biao kembali melirik wajah Sharin melalui cctv. Lelaki itu mengukir senyuman bahagia saat membayangkan momen indah dirinya bersama Sharin beberapa waktu yang lalu.


“Sharin. Kau sudah menjadi milikku. Selamanya akan menjadi milikku. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai hidupku sendiri. Masa depanku hanya ada namamu. Tidak ada nama lain di sini selain namamu.” Biao memegang bagian dadanya yang lagi-lagi berdetak cepat.


Namun, dalam sekejab ekspresi wajah lelaki itu berubah. Ia kembali ingat dengan Mr. Paul. Ada dendam dan sakit hati di dalam hatinya saat rekan bisnisnya itu memuji kekasihnya tepat di hadapannya.


Biao mengeluarkan ponselnya dari dalam saku untuk menghubungi bawahannya. Ia ingin memberi perintah untuk membantunya menyelidiki masalah Mr. Paul.


“Aku ingin semua tentang Mr. Paul,” ucap Biao singkat. Lelaki itu meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku sebelum melanjutkan pengintaiannya camera cctv.


Biao kembali mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari. Hatinya cukup cemburu saat melihat ada karyawan pria yang berani mendekati Sharin. Biao bersandar di kursinya sambil memikirkan cara selanjutnya. Ia ingin setiap saat melihat wajah Sharin.


Tiba-tiba saja pertanyaan Mr. Paul kembali mengingatkannya akan sesuatu, “Sekretaris pribadi. Ya, kau bisa menjadi sekretaris pribadiku,” ucap Biao sambil tertawa bahagia. Pria itu sudah membayangkan rasa bahagianya saat melihat Sharin selalu ada di depan matanya. Prestasi yang dimiliki Sharin juga bisa dipertimbangkan agar tidak menimbulkan kecurigaan di antara karyawan lain.


Biao mengambil teleponnya yang ada di atas meja. Lelaki itu memberi perintah kepada karyawan miliknya untuk mengatur meja kerja Sharin di dalam ruangannya, “Kau pasti bahagia mendengar kabar baik ini, Sharin,” ucap Biao dengan cukup percaya diri.


Di sisi lain.


Sharin duduk di meja kerjanya dengan wajah sedih. Wanita itu memandang meja kerja milik Amelia dengan rasa kecewa. Ia tidak pernah menyangka kalau Amelia akan seperti itu terhadap hidupnya. Andai saja ia memiliki sifat yang tidak mudah percaya kepada orang lain, maka semua ini tidak akan terjadi.


Tawa dan canda Amelia seakan mengiang di telinganya. Cukup sulit melupakan bayang-bayang itu. Di tambah lagi, orang pertama yang menyambutnya di S.G. Group adalah Amelia. Semua hal yang berhubungan dengan perusahaan ini juga ia ketahui melalui Amelia. Amelia sudah seperti sosok kakak bagi Sharin.


“Andai saja ia tidak melakukan kejahatan itu maka semua tidak akan terjadi,” ucap Sharin pelan sebelum melanjutkan pekerjaannya.


Baru beberapa menit ia melanjutkan pekerjaannya, wanita itu sudah di kejutkan dengan sosok pengganti yang duduk di meja kerja milik Amelia. Setahu karyawan S.G.Group, Amelia mengundurkan diri sejak kemarin. Hari ini masuk karyawan baru yang memiliki wajah cukup ramah yang sama dengan Amelia. Bedanya, kali ini sosok itu seorang pria.


Sharin menggeleng kepalanya saat melihat pria yang duduk di meja Amelia. Sudah cukup baginya untuk dekat dengan orang asing. Ia tidak ingin terlalu percaya dengan orang yang baru ia kenal lagi.


Sorot matanya dipenuhi selidik saat pria itu justru berjalan ke posisinya berada saat ini. Ada senyum manis dari pria Amerika itu sebelum mengeluarkan sapaan terhadap Sharin.


“Selamat pagi. Apa benar anda Nona Sharin?” ucap lelaki itu.


“Hmm, Ya. Panggil Sharin saja,” jawab Sharin dengan senyum menyeringai.


“Perkenalkan. Namaku Edo. Aku karyawan baru di S.G. Group untuk menggantikan pekerjaan wanita bernama Amelia.” Lelaki itu mengulurkan tangannya di hadapan Sharin.


Edo menurunkan tangannya yang sempat terangkat. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat uluran tangannya tidak di sambut oleh Sharin, “Ya. Aku butuh data ini. Pekerjaan yang aku lakukan selalu berhubungan denganmu. Jadi, aku mohon kerja samanya, Sharin.”


“Baiklah, aku akan membantumu,” jawab Sharin cepat. Wanita itu mengotak-ngatik keyboard komputernya sesuai dengan data yang dibutuhkan oleh Edo. Tidak butuh waktu lama bagi Sharin untuk menyelesaikannya, “Kau bisa mencontoh data ini untuk pekerjaan selanjutnya.”


“Terima kasih, Sharin.” Edo menerima berkas itu dengan senyuman. Menaikan sedikit kacamatanya sebelum memperhatikan data yang baru saja ia terima.


“Maaf, Edo. Apa kau bisa membacanya di meja kerjamu saja,” ketus Sharin tanpa memandang.


Edo memperhatikan lagi berkas yang ada di genggaman tangannya sebelum melangkah pergi. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita cantik yang cukup galak seperti Sharin, “Sayang sekali ia bukan wanita yang ramah,” gumam Edo di dalam hati.


“Apa ia cukup kesal melihat tingkahku?” Sharin menggeleng kepalanya pelan sebelum melanjutkan pekerjaannya.


Dari arah lift seorang pria baru saja keluar dan kini datang menemui Sharin. Lelaki utusan Biao itu mengukir senyuman manis sebelum menyapa Sharin, “Selamat pagi, Nona Sharin. Presdir Bo memanggil anda kerungannya.”


“Presdir Bo?” celetuk Sharin kaget.


“Ya, Nona. Sebaiknya anda menemui Presdir Bo secepatnya.”


“Hmm, baiklah,” jawab Sharin.


“Saya permisi dulu, Nona.” Pria itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan lantai tempat Sharin bekerja.


Sharin memandang wajah karyawan yang kini menatapnya dengan tatapan tidak suka. Hanya Sharin yang terlalu sering keluar masuk ruangan Presdir Bo. Jelas saja hal itu membuat seluruh karwan S.G. Group cukup curiga. Di tambah lagi berita kedekatan Sharin beberapa hari yang lalu.


“Paman tampan, apa lagi yang kau inginkan? Kenapa kau tidak bisa membuatku tenang sebentar saja,” gumam Sharin di dalam hati sebelum beranjak menuju ke arah lift. Walau sedikit tidak nyaman dengan tatapan mata yang kini memperhatikannya. Tapi, sebisa mungkin ia bersikap tidak peduli dengan semua itu.


Sharin masuk ke dalam lift lalu menekan nomor lantai yang akan menghubungkannya ke ruangan Biao. Pintu lift kembali terbuka saat ia sudah tiba di antai yang ia tuju. Wanita itu melangkah cepat dan siap untuk memarahi pria yang ia cintai itu. Tangannya terkepal kuat dengan segala umpatan-umpatan di dalam hati yang siap untuk ia lampiaskan kepada Biao.


Pintu ruangan bertuliskan Presdir ia dorong dengan cukup kuat. Wanita itu masuk dengan langkah yang gusar, “Paman tampan! Kenapa kau terus-terusan mengerjaiku seperti ini!” teriak Sharin dengan suara cukup keras hingga memenuhi ruangan kerja milik Biao.


Dalam hitungan detik. Sharin mematung. Ada beberapa karyawan S.G. Group di ruangan itu yang sedang sibuk mendesain ruang kerja Biao. Beberapa karyawan itu menatap wajah Sharin dengan tatapan penuh tanya.


Sharin menyeringai dengan tawa kecil, “Maaf.” Sharin menunduk malu sambil memejamkan mata, “Kenapa bisa ada banyak orang di ruangannya,” gumam Sharin di dalam hati.


Biao membuang tatapannya ke arah jendela sebelum tertawa kecil, “Sharin, Sharin. Setiap harinya kau terlihat semakin menggemaskan.”


**Hai Readers... Babang Biao ikut lomba novel fiksi pria. jadi butuh like yg banyak... jangan pelit2 bagi likenya ya...


Buat Mr. Paul. Dia akan berperan penting dalam Novel ini. Siap-siap mengomel-ngomel...🤣🤣**....