
Beberapa saat kemudian.
Sharin dan Biao sudah ada di meja makan. Keduanya sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Kini sepasang kekasih itu melahap makan malamnya dengan penuh keheningan. Sesekali Biao menatap wajah Sharin dengan satu senyuman. Biao membawa Sharin makan di restoran ternama yang berada tidak jauh dari apartemennya berada.
Sharin tidak ingin tidur di apartemen Biao malam itu. Setelah makan malam, Sharin meminta Biao untuk mengantarnya kembali ke apartemen.
Biao menggenggam tangan Sharin dengan satu senyuman. Lelaki itu cukup rindu dengan Sharin. Ia ingin kembali menceritakan alasan kepulangannya ke kota Sapporo yang terbilang mendadak.
“Sharin, apa semua baik-baik saja?” ucap Biao pelan.
Sharin mengukir senyuman manis sebelum menganggukkan kepalanya, “Apa Paman tampan juga baik-baik saja? Apa ada masalah hingga Tuan Daniel memanggil kau pulang ke Sapporo?”
Biao menggeleng kepalanya, “Tuan Daniel hanya ingin mengajariku cara memimpin perusahaan yang baik. Ia mengenalkanku beberapa rekan bisnis dari Amerika yang kebetulan berkunjung ke Jepang.”
Biao menatap wajah Sharin dengan seksama. Ia sudah tahu kalau Sharin mengunjungi Mr. Paul hari ini. Anak buah yang ia kirim telah berhasil menyelidiki semuanya. Namun, Biao tidak tahu apa yang terjadi dengan Sharin. Bahkan ia juga tidak menyangka, kenapa Sharin membohonginya. Kini ia ingin menanyakan hal itu langsung kepada Sharin.
“Sharin, apa kau yakin tidak ada hal penting yang ingin kau katakan padaku?” ucap Biao sekali lagi. Ada penekanan di dalam pertanyaan lelaki itu. Hatinya merasa sedikit kecewa karena kekasihnya tidak jujur saat menemui pria lain.
“Tidak ada, Paman tampan,” jawab Sharin pelan. Ia masih belum berani menerima resiko besar itu.
“Sayang ....”
Tiba-tiba saja suara seseorang muncul dari samping meja sepasang kekasih itu. Mr. Paul dan beberapa pengawalnya berdiri dengan tatapan penuh arti.
“Selamat malam, Tuan Biao. Senang bertemu dengan anda,” ucap Mr. Paul dengan senyuman. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah Sharin yang kini terlihat kaget saat melihat wajahnya, “Selamat malam, Sayang.”
Biao melepaskan genggamannya dari tangan Sharin. Sorot matanya berubah tajam detik itu juga. Giginya saling beradu dengan kepalan tangan yang hampir memutih, “Selamat malam, Mr. Paul. Ada yang bisa saya bantu?”
Mr. Paul mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Lelaki itu mengeluarkan gelang milik Sharin dengan satu tatapan jahat. Ia memang memiliki rencana untuk merusak hubungan antara Sharin dan Biao malam itu, “Sayang, kau meninggalkan gelangmu di kamarku. Apa kau tadi terlalu terburu-buru karena tahu lelaki ini akan segera datang ke rumahku?” ucap Mr. Paul dengan tatapan yang sensual.
Sharin beranjak dari duduknya, “Jaga ucapan anda, Mr. Paul!” teriak Sharin tidak terima.
“Kau berubah Sayang. Padahal tadi siang kau terlihat menikmati ciumanku,” tambah Mr. Paul dengan segala trik jahatnya.
Biao melayangkan satu pukulan ke arah wajah Mr. Paul. Namun, pukulannya di tahan oleh lelaki berbadan kekar yang memang bertugas melindungi Mr. Paul malam itu.
“Biao, kau tidak perlu marah. Aku hanya membantumu memberi tahu hubungan kami.” Mr. Paul menatap wajah Sharin lagi, “Sayang, kau tidak mengatakan apapun padanya? Kau pergi dari gedung S.G. Group dengan supir yang aku kirim karena kau ingin bertemu denganku?”
Biao tidak lagi ingin mengeluarkan kata. Lelaki itu memukul pria berbadan tegab yang menghalanginya. Tangannya memang sudah tidak sabar untuk mendaratkan satu pukulan di wajah Mr. Paul saat itu.
Mr. Paul menatap tajam wajah Biao. Memang ini rencananya. Membuat Biao emosional agar lelaki itu melukainya. Seluruh kerja sama yang terjalin akan segera batal dan Daniel akan membayar denda yang cukup fantastis.
Sharin menutup mulutnya dengan tangan. Pemandangan yang ada di depan matanya sungguh menakutkan. Biao memukul lawannya tanpa belas kasih dan tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk bangkit.
Setelah beberapa pengawal Mr. Paul kalah, Biao berjalan menuju ke arah Mr. Paul. Kali ini ia ingin memberi pelajaran yang pantas untuk Mr. Paul.
Mr. Paul memiliki kemampuan yang cukup hebat dalam bela diri. Tapi malam itu ia tidak ingin melawan. Beberapa orang suruhannya sudah siap untuk merekam semua kejadian yang akan terjadi. Rencana licik Mr. Paul diketahui Sharin. Wanita itu tahu kalau kini di dalam restoran itu ada banyak orang memegang kamera. Dengan gerakan cepat Sharin berlari untuk menghalangi Biao agar tidak terjebak dengan rencana licik Mr. Paul.
“Jangan lakukan itu. Aku mohon,” ucap Sharin dengan nada takut. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di pinggangang Biao. Tubuhnya menahan Biao agar tidak melukai Mr. Paul.
“Sharin, menyingkirlah. Aku akan membunuh lelaki Kepa*rat ini!” ucap Biao dipenuhi emosi.
“Anda marah pada saya karena saya menyentuh wanita anda, Tuan?” Mr. Paul mengangkat satu alisnya.
“Hentikan omong kosong anda, Mr. Paul!” teriak Sharin dengan wajah kesal bercampur amarah. Sharin mendongakkan wajahnya untuk memandang wajah Biao, “Ayo kita pergi dari tempat ini.”
Biao menatap wajah Sharin sekilas. Namun, dengan gerakan cepat ia menyingkirkan kedua tangan Sharin yang sempat menghalanginya hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Hatinya akan merasa kesal jika tidak berhasil memukul wajah Mr. Paul malam itu juga.
Biao menarik kerah kemeja Mr. Paul. Tatapannya yang tajam menatap kedua bola mata Mr. Paul malam itu, “Seharusnya kau berpikir dua kali sebelum memiliki keberanian untuk menyentuh Sharinku yang berharga!” Tanpa menunggu lagi, Biao melayangkan satu pukulan di wajah lelaki itu. Bercak darah segar keluar dari sudut bibir Mr. Paul.
Tubuh Mr. Paul jatuh terduduk di lantai. Lelaki itu tertawa kecil sambil mengusap lembut darah yang keluar dari sudut bibirnya. Biao kembali berjalan untuk memberi pukulan berikutnya kepada Mr. Paul.
Namun, lagi-lagi Sharin menghalanginya. Kali ini wanita itu berdiri di hadapan Biao.
“Hentikan!”
“Kau membelanya!” teriak Biao tidak terima.
.
.
.
Bab Selanjutnya jam 12 siang. Vote ya reader .. biar aku semangat ngetiknya.. like juga jgn lupa... terima kasih.