
Beberapa hari kemudian.
Biao telah di perbolehkan pulang dan beristirahat di rumah. Keadaan selama beberapa hari ini terlihat aman dan tentram. Tidak ada teror yang datang dari Mr. Paul. Bahkan, pria itu juga di kabarkan telah meninggalkan kota San Fransisco. Semua orang berpikiran kalau Mr. Paul telah menyerah dan tidak akan mengganggu Sharin lagi.
Namun, Biao tidak percaya begitu saja. Pria itu cukup yakin kalau Mr. Paul tidak pergi kemana-mana. Ia tahu kalau Mr. Paul masih ada di San Fransisco. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan Biao hari ini. Seorang pengawal mengatakan kalau ia melihat secara langsung Mr. Paul pergi beberapa hari yang lalu. Lelaki itu di kabarkan pergi ke benua Eropa dan tidak tahu kapan akan kembali.
Di sebuah Apartemen mewah milik Biao, semua orang telah berkumpul dengan canda tawa. Ada Sharin, Tama, Anna, Tuan dan Ny. Edritz. Semua orang terdekat Biao ada di hadapan Biao. Mereka telah sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan Sharin dan Biao yang akan berlangsung dua hari lagi.
Ny. Edritz adalah orang yang paling bersemangat dalam pesta pernikahan ini. Wanita itu juga sudah meminta Daniel dan Serena agar datang tepat di hari pernikahan Biao dan Sharin berlangsung. Semua pengawal dari kelas elit telah di sewa Ny. Edritz agar pesta pernikahan itu berjalan lancar tanpa kendala.
“Paman tampan, apa kau mau minum?” Sharin memandang wajah Biao yang sejak tadi terlihat bingung.
“Aku ingin minum air putih,” jawab Biao dengan suara yang pelan. Ia masih belum boleh terlalu banyak bergerak. Bekas operasi pada bagian kepalanya masih belum sembuh secara total. Lelaki itu lebih memilih duduk bersandar di sofa sambil memperhatikan yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.
“Baiklah. Akan aku ambilkan,” ucap Sharin dengan senyuman indah. Wanita itu berjalan pelan menuju ke dapur.
“Biao, apa kau punya permintaan khusus dengan dekorasi gedung nanti?” ucap Tama dengan posisi siap mencatat.
Biao menggeleng pelan, “Aku serahkan semuanya padamu. Bagiku, pesta pernikahan ini berjalan lancar itu sudah lebih dari cukup.”
“Hmm, baiklah. Kalau begitu aku akan tanya Sharin saja.” Tama berjalan menuju ke arah dapur diikuti Anna di belakangnya.
Biao memandang wajah Tuan dan Ny. Edritz yang terlihat lelah. Sepasang suami istri yang sudah cukup tua itu kini duduk berdampingan dan saling berpegangan tangan. Ada ukiran senyum bahagia di kerutan wajah mereka. Tatapan mata yang sudah lelah itu memandang Biao dengan mata berkaca-kaca.
“Kami sangat bahagia Biao. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan kepadamu,” ucap Tuan Edritz dengan wajah yang cukup serius. Pria paruh baya itu memandang wajah istrinya sekilas sebelum memandang Biao lagi, “S.G. Group cabang San Fransisco akan menjadi milikmu seutuhnya. Tama akan membantumu untuk mengurus segala berkas yang di perlukan.
Biao sedikit kaget saat mendengar pernyataan yang baru saja di ucapkan oleh Tuan Edritz. Sejak awal ia hanya menginginkan Sharin. Bahkan pria itu berencana untuk mengembalikan S.G Group yang kini ia pimpin kepada Daniel setelah pesta pernikahannya berlangsung. Biao ingin membawa Sharin kembali ke Sapporo dan bekerja menjadi pengawal Daniel lagi seperti dulu. Ia juga ingin berada di samping Tama seperti kehidupannya dulu.
“Siapa yang mengatakan kau tidak pantas menerimanya?” protes Ny. Edritz dengan ekspresi wajah yang cukup serius juga.
“Saya hanya seorang pengawal, Nyonya.” Biao menundukkan kepalanya dengan rasa segan yang tak terkira. Pesta pernikahan mewah ini sudah membuatnya syok. Di tambah lagi hadiah sebuah perusahaan yang tidak pernah ada di dalam mimpinya.
“Kau malaikat kami, Biao. Jika dulu kami tidak bertemu denganmu maka kami juga tidak akan mungkin duduk di kursi ini di kota ini bersamamu.” Ny. Edritz menghela napas sambil memandang wajah Biao yang belum mau memandangnya, “Setidaknya ini ucapan terima kasih kami kepadamu. Kami sudah menganggapmu sebagai anak kami sendiri selama ini.”
Biao mengangkat kepalanya untuk memandang wajah Tuan dan Ny. Edritz. Kalimat yang baru saja ia dengar cukup menyentuh hingga ke lubuk hati yang paling dalam. Ia sedih, bahagia bahkan ingin teriak kegirangan. Biao tidak pernah menyangka ada yang masih ingin mengakui keberadaannya bahkan menganggapnya sebagai anak. Air mata haru menetes di pipi pria tangguh itu. Tangannya terkepal kuat untuk menekan air mata yang akan menetes lebih deras lagi.
“Terima kasih, Nyonya.”
“Biao, kau juga boleh memanggilku Mama.” Ny. Edritz beranjak dari duduknya. Wanita paruh baya itu membuka lebar kedua tangannya untuk memeluk Biao sebagai putranya, “Mulai sekarang kau adalah putraku.”
“Mama ....” ucap Biao dengan bibir gemetar. Seluruh tubuhnya merasa ada aliran aneh yang menjalar. Kalimat itu sangat sulit dan berat ia sebutkan. Bahkan Biao sendiri tidak tahu sudah berapa lama ia tidak menyapa seseorang dengan sebutan tersebut. Mama adalah sosok yang ia rindukan dan ia benci sejak kecil. Biao kesal dan marah karena berada di jalan dan di tinggalkan oleh orang yang telah melahirkannya.
“Ya, Biao. Kau bisa memanggilku Papa seperti Daniel memanggil kami. Mulai sekarang kau bagian dari keluarga Edritz. Kau bukan lagi seorang pengawal yang bekerja melindungi Daniel. Tapi, kau adalah seorang Kakak yang harus melindungi keluargamu sendiri.” Tuan Edritz beranjak dari duduknya, “Kemarilah, Biao. Kau harus memeluk kedua orang tuamu. Mulai sekarang kau tidak boleh merasa sendiri lagi. Ada kami yang akan selalu mendengarkan kebahagiaan dan kesedihan yang kau rasakan.”
Biao berjalan ragu mendekati Tuan dan Ny. Edritz. Di usianya yang sudah menginjak 31 tahun rasanya cukup bingung mendapat pernyataan indah seperti ini. Pria itu terus berjalan hingga berdiri di hadapan Tuan dan Ny. Edritz. Matanya berkaca-kaca karena terlalu bahagia.
“Kau Putra kami, Biao.” Ny. Edritz memeluk Biao lebih dulu. Di ikuti oleh Tuan Edritz dengan perasaan bahagia. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang sudah lama terpisah dan baru detik ini berjumpa. Ada terdengar isak tangis dan tawa kecil yang muncul secara bergantian.
Dari arah dapur, Sharin, Tama dan Anna juga melihat momen indah itu dengan hati yang bahagia. Air putih yang ingin di berikan Sharin kepada Biao masih ada di cengkramannya. Ia tidak mau mengganggu momen indah yang tersaji di depan matanya. Air mata satu persatu menetes karena terharu melihat kekasihnya memiliki keluarga.
“Andai aku juga di beri kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tuaku lagi. Andai mereka masih ada di dunia ini,” gumam Sharin di dalam hati.
Like 1k nanti aku tambahi...😁 GK deng. 500 aja Uda seneng.😘