
Biao tidak bisa mengeluarkan kata. Sorot matanya yang tajam memandang wajah Sharin dengan seksama. Kedua tangannya berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlalu berat menindi*h tubuh Sharin. Kedua telinganya terasa sangat sakit ketika mendengar teriakan Sharin yang cukup memekakan telinga.
“Menyingkirlah!” teriak Sharin sekali lagi saat Biao hanya diam mematung sambil memandang wajahnya, “Apa kau terlalu nyaman dengan posisi seperti ini hingga tidak bergerak sedikitpun?” sambung Sharin lagi.
“Ya. Posisi ini cukup nyaman,” jawab Biao polos. Biao sengaja menjaga kedua matanya agar tidak memandang bagian tubuh Sharin yang terbuka. Ia berusaha untuk memandang wajah cantik Sharin saja.
Sharin terdiam sambil menelan salivanya. Debaran jantungnya tidak lagi normal hingga membuat napasnya tidak beraturan. Sorot mata Sharin juga menatap wajah Biao yang kini menatapnya tidak berkedip.
“Habislah aku. Apa yang harus aku lakukan,” gumam Sharin di dalam hati. Posisinya seperti terkunci hingga membuat Sharin susah bergerak. Cukup sulit untuk mendorong dan menyingkirkan Biao secara paksa.
Sharin takut Biao terjatuh hingga membuat kepala pria itu terbentur lagi. Sharin seperti tidak punya pilihan lain, selain diam membisu. Di tambah lagi jawaban Biao cukup membuatnya tidak tahu mau berbicara lagi.
Biao menaikan satu alisnya saat melihat istri yang paling ia cintai hanya diam seolah pasrah. Ada rasa geli hingga membuatnya ingin tertawa detik itu juga. Namun, sekuat mungkin Biao menahan tawanya. Pria itu mengecup pipi Sharin sebelum beranjak dari atas tubuh Sharin. Ia tidak akan melewatkan malam pertamanya di dalam bak mandi. Apa lagi dalam kondisi tidak sengaja seperti itu.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Biao saat sudah berhasil berdiri di samping bak mandi. Dengan pakaian yang basah kuyup Biao pergi meninggalkan kamar mandi. Tidak banyak kata yang bisa ia ungkapkan saat itu. Ia hanya memilih menyimpannya di dalam hati.
Sharin memandang punggung Biao dengan rasa bingung. Detik itu hatinya tersentuh hingga membuat rasa bersalah yang sangat besar di dalam hatinya. Sharin menatap tubuhnya lalu kembali melamun.
“Dia memang pria yang sangat baik. Aku sudah sangat keterlaluan menyiksanya dengan cara seperti ini,” ucap Sharin sebelum menghela napas. Wanita itu juga beranjak dari bak mandi untuk segera menyelesaikan mandinya yang sudah terlalu lama.
Biao mengganti pakaiannya sambil mengukir senyuman. Masih terbayang jelas wajah panik Sharin saat tubuhnya menind*ih wanita itu. Sambil mengancing satu persatu kancing bajunya, Biao tertawa kecil.
“Sharin, Sharin. Kau memang sangat menggemaskan.”
Tidak berselang terlalu lama Sharin juga keluar dari kamar mandi. Ada handuk yang melilit tubuh mulus Sharin malam itu. Ia keluar sambil memandang wajah Biao yang masih berdiri di depan lemari. Dengan ekspresi wajah canggung, Sharin membuka pintu lemari.
“Maafkan aku,” ucapnya dengan nada lirih, “Aku baru saja datang bulan. Kita juga tidak mungkin melakukannya,” sambung Sharin sambil memilih-milih pakaian yang akan ia kenakan.
Biao menutup pintu lemari. Pria itu berjalan pelan untuk mendekati Sharin. Bibirnya mengukir senyuman sebelum mengusap lembut pipi Sharin, “Aku tunggu di meja makan.” Satu kecupan di daratkan Biao di pucuk kepala Sharin sebelum memutar tubuhnya. Jika menyangkut soal hubungan di atas tempat tidur, Biao memang tidak terlalu ingin membahasnya lebih jauh lagi.
Sharin memandang Biao dengan wajah sedih. Ia tidak tahu harus senang atau sedih karena tamu bulanannya tiba-tiba datang hari ini. Dalam waktu satu minggu ia bisa menghilangkan rasa bersalahnya karena tidak bisa bersentuhan dengan pria berstatus suaminya.
***
Beberapa menit kemudian.
Sharin dan Biao sudah ada di meja makan untuk menyantap makan malam mereka. Ada yang beda bagi Biao malam itu. Sharin lebih banyak diam dan menunduk saat makan malam. Ocehan kecil yang selama ini ia dengar dari bibir Sharin seakan hilang. Ia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat istrinya murung tanpa sebab seperti itu.
Biao lebih memilih menyelesaikan makan malamnya sebelum bertanya labih jauh kepada Sharin. Semua hal harus ia selesaikan agar tidak menimbulkan masalah yang berlarut-larut.
Dengan gerakan cepat, Biao mencengkram tangan Sharin. Pria itu menarik tubuh istrinya hingga duduk di atas pangkuannya, “Apa yang kau pikirkan? Apa aku melakukan kesalahan?” bisik Biao dengan hati yang sangat tulus. Ia bertekad meminta maaf jika benar telah melukai hati istrinya.
Sharin menggeleng pelan, “Aku yang melakuan kesalahan,” jawab Sharin dengan suara pelan.
“Soal di bak mandi tadi?” sambung Biao dengan wajah bingung.
Sharin menggeleng lagi, “Bukan hanya itu. Tapi soal kesalahanku yang melarangmu untuk-” ucapan Sharin terhenti. Wanita itu memandang wajah Biao sambil mengusap lembut pipi suaminya, “Kau pria yang sangat baik. Aku sangat beruntung bisa memiliki suami seperti dirimu.”
Biao mengukir senyuman bahagia, “Jangan pikirkan apapun yang membuat beban di dalam hatimu. Sampai kapanpun itu aku akan tetap bersabar menunggumu. Seperti selama ini aku menunggumu sampai siap menikah denganku.”
Sharin semakin tersentuh mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Biao. Wanita itu mendaratkan satu kecupan di bibir Biao, “Terima kasih.”
“Pernikahan bukan hanya seputar hubungan seperti itu. Bagiku hubungan seperti itu hanya sebuah bonus. Yang terpenting saat ini, hatimu telah menjadi milikku. Seperti itu sebaliknya. Tapi-”
“Tapi ....” Sharin terlihat sangat serius menunggu kalimat yang belum terucap.
“Sayang, kau tidak akan menyuruhku untuk menunggu hingga satu tahun ‘kan?” Biao mengeryitkan dahinya dengan wajah yang cukup serius.
Sharin tertawa terbahak-bahak saat mendengar kalimat yang diucapkan Biao. Wanita itu tidak sanggup menahan tawanya lagi karena tidak tahu mau berbicara apa, “Tentu saja tidak,” jawab Sharin sambil berusaha mengendalikan tawanya, “Aku hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diriku. Setelah siap, kau boleh melakukannya nanti.”
Biao mengukir senyuman, “Aku sendiri tidak tahu cara melakukannya. Itu cukup membingungkan,” sambung Biao dengan wajah polosnya.
Sharin mematung saat mendengar kalimat yang di ucapkan Biao. Jawaban yang baru saja ia dengar memang cukup membuat syok, “Sayang, apa kau bercanda? Aku hanya menyuruhmu menunggu agar aku jauh lebih siap. Kenapa kau menjawab dengan kalimat yang seolah kau juga tidak bisa melakukannya.”
Biao tertawa terbahak-bahak saat mendengar kalimat sindiran yang baru saja di ucapkan oleh Sharin, “Ya. Kita tidak boleh lama-lama menundanya. Kita harus belajar sama-sama nanti.”
“Paman tampan, kau berubah menjadi mesum,” protes Sharin dengan wajah memerah malu.
Biao tertawa lagi saat berhasil meledek Sharin, “Aku sangat mencintaimu, Sharin.”
“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Sharin dengan nada manja sebelum memeluk Biao. Bibirnya mengukir senyuman manis dengan mata terpejam, “Sangat sangat mencintaimu. Hingga membuat hatiku takut berada jauh darimu.”
“Aku akan tetap ada di dekatmu, Sharin.”
“Ayo kita tidur. Aku sudah sangat lelah,” ucap Sharin sambil memandang wajah Biao. Kedua tangannya ada di pipi Biao.
“Ya. Ayo kita tidur. Besok kita sudah mulai bekerja. Jadi kita perlu istirahat yang cukup malam ini.” Biao mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendongannya. Pria itu berjalan pelan menuju ke arah kamar. Hatinya sudah kembali tenang karena berhasil mendengar tawa istrinya sebelum tidur.