Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 34



Pagi yang cerah secerah wajah Sharin. Tadi malam lelaki yang sangat ia cintai telah memberi kabar kalau ia sudah tiba dengan selamat. Kata rindu yang sangat indah telah terucap dari bibir Biao. Pagi ini Sharin semakin semangat untuk memulai harinya. Ada banyak tugas yang harus ia selesaikan hari ini.


Setelah selesai mandi dan sarapan, Sharin kembali memeriksa list pertemuannya hari ini. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat klien pertama yang harus ia kunjungi adalah Mr. Paul.


“Sepertinya aku langsung saja berangkat ke perusahaan milik Mr. Paul. Akan terlambat jika aku pergi ke kantor lebih dulu,” ucap Sharin smabil memasukkan beberapa berkas yang ia butuhkan.


Dengan setelan yang cukup rapi, Sharin berjalan pergi meninggalkan kamar apartemen sederhananya. Wanita itu mengukir senyuman indah saat berpapasan langsung dengan beberapa tetangga yang ia kenal. Di bawah tangga, Sharin melihat supir yang di utus Biao untuk mengantarnya pergi dan pulang bekerja.


“Selamat pagi, Nona.” Supir itu membungkuk hormat saat Sharin sudah berdiri di hadapannya.


“Pagi. Hari ini kita langsung pergi ke perusahaan milik Mr. Paul,” ucap Sharin sambil berjalan cepat menuju ke arah mobil.


“Baik, Nona,” jawab supir itu sambil mengirim pesan singkat kepada Biao tentang tujuan Sharin saat itu.


Sharin masuk ke dalam mobil saat supir membukakan pintu untuknya. Wanita itu duduk dengan posisi yang nyaman. Bibirnya mengukir senyuman sambil memeriksa beberapa berkas yang akan ia tunjukkan kepada Mr. Paul nantinya.


***


Di sisi lain. Mr. Paul duduk sambil memutar-mutar kursi yang ia duduki. Lelaki itu sudah mempersiapkan satu trik untuk menggoda Sharin di perusahaan S.G. Group. Ia tidak tahu kalau kini wanita yang sempat ia incar telah menuju ke arah kantornya.


Beberapa pria berbadan tegab berdiri di hadapan Mr. Paul untuk menunggu perintah. Sudah beberapa menit menunggu, namun lelaki berstatus atasannya itu belum juga memberi perintah apapun.


“Apa dia sudah pergi bekerja pada jam segini?” ucap Mr. Paul sambil memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Sudah, Tuan. Tadi saat kami datang ke apartemennya, Nona Sharin sudah tidak ada di dalam kamarnya.” Salah satu pria yang menjadi bawahan Mr. Paul angkat bicara.


“Apa dia sudah tiba di S.G. Group saat ini?” tanya Mr. Paul lagi dengan penuh rasa penasaran.


“Seharusnya jam segini Nona Sharin sudah tiba di gedung S.G. Group, Tuan. Jarak rumahnya dengan gedung S.G. Group tidak terlalu jauh.”


Mr. Paul mengangguk pelan, “Baiklah. Sekarang saatnya kita berangkat.” Lelaki itu beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Baru beberapa meter melangkah, seseorang terdengar mengetuk pintu.


“Masuk,” ucap Mr. Paul cepat.


Seorang wanita modern dengan pakaian cukup seksi dan rambut terurai panjang masuk ke dalam ruangannya. Melihat dari penampilannya saja, sudah bisa di pastikan kalau penampilannya untuk mencuri perhatian Mr. Paul.


“Selamat pagi, Mr. Paul. Utusan dari S.G. Group baru saja tiba. Ia ingin menemui anda untuk membahas masalah kerja sama hari ini,” ucap wanita cantik itu dengan satu senyuman.


“Katakan pada mereka kalau aku tidak ada di gedung ini,” jawab Mr. Paul asal saja sambil berlalu pergi. Ia tidak ingin menemui siapapun. Hanya wajah Sharin yang ingin ia temui saat ini.


“Tapi, Mr. Paul. Wanita itu sudah menunggu di depan,” sambung wanita itu dengan suara pelan dan nyaris tidak terdengar.


Seorang pria berbadan tegab membukakan pintu untuk Mr. Paul. Tepat di ambang pintu Sharin berdiri dengan wajah cantiknya. Wanita itu mengukir senyuman manis saat melihat wajah Mr. Paul berdiri di hadapannya, “Selamat pagi, Mr. Paul,” ucap Sharin dengan suara merdunya.


Mr. Paul mematung beberapa saat. Debaran jantungnya cukup aneh saat melihat wajah Sharin pagi itu. Lelaki itu memutar tubuhnya untuk memandang wajah sekretaris yang masih berdiri di belakangnya, “Apa ini orang yang baru saja kau bilang?”


Mr. Paul mengukir senyuman saat melihat sosok yang ingin ia temui justru kini datang menemuinya sendiri, “Selamat pagi, Nona Sharin. Silahkan masuk.” Mr. Paul melirik beberapa bawahannya dan memberi kode kepada mereka untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


“Terima kasih, Mr. Paul,” ucap Sharin dengan bibir tersenyum. Baru saja satu langkah ia masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba saja ia merasakan satu firasat buruk. Tidak ingin berpikir terlalu jauh, Sharin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan.


“Seharusnya anda tidak perlu repot-repot datang ke sini, Nona Sharin. Saya juga ingin bertemu dengan Presdir Bo hari ini,” ucap Mr. Paul sambil berjalan menuju ke arah bar mini yang ada di ruang kerjanya.


“Maaf, Mr. Paul. Tapi, untuk beberapa hari ini saya yang akan mewakili Presdir Bo. Saya harap anda tidak keberatan dengan kunjungan saya pagi ini.” Sharin membungkukkan tubuhnya.


“Tentu tidak, Nona. Silahkan duduk.” Mr. Paul meletakkan dua gelas teh di atas meja. Sorot matanya lagi-lagi memeriksa setiap lekuk tubuh wanita yang ada di hadapannya. Ingin sekali ia menyerang Sharin detik itu juga. Namun, Ia tidak ingin secepat itu, “Aku harus lebih bersabar agar bisa mendapatkan kesan yang baik di hadapannya. Bisa saja wanita ini kini di dalam pengawasan seseorang,” gumam Mr. Paul di dalam hati.


“Terima kasih, Mr. Paul. Ini beberapa berkas yang harus anda tanda tangani. Anda bisa memeriksanya sebelum menyetujui isinya,” ucap Sharin sambil menyodorkan berkas itu di hadapan Mr. Paul.


“Saya tidak suka melakukan perjanjian kerja sama secepat ini, Nona Sharin. Anda pasti cukup tahu bagaimana cara saya memimpin bukan. Saya lebih suka jika pemimpin utama langsung yang menemui saya.” Mr. Paul melebarkan kedua tangannya di sandaran kursi. Bibirnya mengukir senyuman kecil dengan tatapan penuh arti.


“Maaf, Mr. Paul. Tapi, Presdir Bo sedang ada halangan hingga tidak bisa hadir. Saya harap anda bisa memakluminya,” ucap Sharin dengan debaran jantung yang tak karuan. Jika pagi ini saja ia sudah gagal untuk menjalin kerja sama. Sudah pasti untuk pertemuan selanjutnya ia tidak lagi bersemangat.


“Tapi anda hanya Suvervisor, bagaimana mungkin anda bisa mewakili pria sekelas Presdir Bo?” Mr. Paul mengangkat stau alisnya.


“Saya baru saja naik jabatan sebagai Sekretaris Presdir Bo, mulai kemarin. Mr. Paul.” Sharin mencengkram kuat berkas yang kini ada di pangkuannya.


“Hmm, baiklah. Saya akan menandatanganinya. Asal anda mau menemani saya makan siang,” ucap Mr. Paul mulai menggoda.


“Maaf, Mr. Paul. Tapi-”


“Begini saja, saya akan menandatanganinya saat kita bertemu besok siang.” Mr. Paul beranjak dari kursi yang ia duduki.


Sharin tidak memiliki pilihan lain saat pria itu jelas-jelas menolak. Berdasarkan beberapa buku yang ia baca memang sangat sulit untuk mendapatkan tanda tangan pemimpin kelas atas. Terlebih lagi, pria sekelas Mr. Paul.


“Baik. Terima kasih atas waktunya pagi ini, Mr. Paul. Saya akan membicarakan hal ini kepada Presdir Bo lagi,” ucap Sharin yang juga beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu segera pergi meninggalkan ruangan kerja Mr. Paul.


“Paman Tampan, apa kau sudah percaya? Semua akan baik-baik saja,” ucap Sharin sambil melekatkan ponselnya di telinga. Sejak awal ia tiba di gedung milik Mr. Paul, Biao sudah meneleponnya dan meminta Sharin untuk tidak mematikan ponsel itu.


“Lalu, kau akan pergi untuk menemuinya besok siang?” tanya Biao dengan suara penuh rasa cemburu.


“Aku hanya menemuinya dan makan siang. Hal itu biasa terjadi saat seseorang menjalin kerja sama. Aku akan baik-baik saja. Apa kau tidak percaya padaku?” ucap Sharin sambil berjalan cepat menuju ke arah lift.


“Hmm. Baiklah. Aku akan tetap mengirim orang untuk melindungi dan menjagamu.”


Panggilan terputus. Sharin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, “Mr. Paul cukup menyeramkan. Tapi, dia tidak terlihat seperti pria yang jahat.”


Vote Novel ini jika kalian suka. Terima kasih...😘. Jangan lupa likenya ya.