Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 24



“Amelia,” ucap Sharin pelan.


Detik itu ia mulai menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatnya. Wanita itu memancarkan aura membunuh dan sangat mengerikan. Tidak sama dengan wajah manis dan ramah yang selalu ia tunjukkan selama ini, “Apa semua baik-baik saja?” tanya Sharin untuk kembali memastikan.


Amelia mengukir senyuman tipis, “Aku akan membunuhmu, Sharin.”


“Amelia, apa kau sedang bercanda?” ucap Sharin dengan hati yang semakin takut. Ia beranjak dari kursi yang ia duduki dengan posisi siap berlari, “Amelia, ini tidak lucu.”


Amelia mengambil tongkat bisbol yang ada di sampingnya berdiri. Wanita itu melayangkan tongkat bisbol itu ke arah kepala Sharin. Hingga membuat kepala Sharin terkoyak dan berdarah.


“Amelia, sakit!” pekik Sharin sambil menahan sakit yang luar biasa di kepalanya. Dengan tangan gemetar ia memegang dahinya yang terasa basah. Bibirnya berubah pucat saat melihat telapak tangannya kini di penuhi darah yang berasal dari kepalanya.


Amelia tertawa terbahak-bahak, “Ada apa, Sharin? Apa itu sakit?”


“Kenapa kau melakukan semua ini, Amelia? Apa salahku?” tanya Sharin dengan suara penuh takut.


“Salahmu? Kesalahanmu terlalu banyak Sharin, itu yang membuatku harus membunuhmu saat ini juga. Seharusnya kau sadar Sharin, aku tidak sungguh-sungguh ingin menjadi temanmu sejak awal. Aku sangat susah masuk ke dalam perusahaan itu. Sedangkan kau? Kau bahkan di tawari untuk bekerja di perusahaan itu. Sejak pertama kali kau tiba di gedung S.G. Group, aku sudah mencurigai semuanya. Kau terlalu istimewa di perusahaan itu. Makanya aku ingin lebih dekat denganmu untuk mengetahui rahasia apa yang kau punya.” Amelia tertawa terbahak-bahak.


“Tidak ada hal istimewa dariku, Amelia. Aku bekerja di perusahaan itu karena prestasi yang aku miliki,” bantah Sharin tidak terima.


“Prestasi kau bilang?” teriak Amelia dengan suara yang semakin keras, “Kau pasti tahu ada berapa ratus orang yang berprestasi bahkan jauh lebih cerdas darimu tapi tidak di terima bekerja di S.G. Group bahkan di posisi Office Girl!” Amelia mengangkat tongkat bisbolnya lagi lalu memberi satu pukulan di kaki Sharin. Pukulan itu membuat Sharin terduduk di atas sofa sambil menahan sakit yang luar biasa.


Sharin meringis kesakitan. Tapi, itu tidak sebanding dengan rasa kecewanya terhadap wanita yang kini berdiri di hadapannya. Hanya karena rasa iri, wanita itu bisa memiliki niat untuk menghabisi nyawanya.


“Sharin, kau hanya perempuan lemah yang tidak berharga. Kalau saja atasan kita tidak jatuh cinta padamu hidupmu tidak akan semudah ini.” Amelia mengepal tangannya dengan hati dipenuhi amarah.


“Jatuh cinta?” celetuk Sharin kaget. Wanita itu kembali ingat dengan Presdir Bo. Ia tahu kalau pria itu sangat perhatian kepadannya selama beberapa hari ini. Tapi, Sharin cukup yakin kalau pria sukses seperti Presdir Bo tidak akan dengan mudah jatuh cinta padanya. Ditambah lagi, pria itu belum mengenalnya terlalu lama. Tidak mungkin ada cinta yang tumbuh secepat itu.


“Kau termasuk wanita yang tidak tahu terima kasih, Sharin. Presdir Bo sudah melindungi hidupmu selama beberapa bulan ini. Pria itu bahkan rela menyamar menjadi orang lain hanya untuk melihat wanita yang ia cintai dari jarak jauh. Sungguh cerita cinta yang sangat menyedihkan.” Amelia membungkuk agar bisa melihat wajah Sharin dari jarak yang cukup dekat, “Mungkin kau akan kembali ingat dengan seseorang kalau aku memberi tahumu nama asli Presdir Bo.”


“Aku tidak akan memberi tahumu, Sharin. Aku ingin kau mati dengan hati di penuhi rasa penasaran.” Amelia berdiri tegak lagi. Tongkal bisbol yang ada di genggaman tangannya kembali ia angkat ke atas. Kali ini ia tidak ingin gagal. Amelia ingin menghabisi nyawa Sharin detik itu juga.


Sharin memejamkan mata dengan kedua tangan menghalangi wajah. Wanita itu sudah pasrah dengan kematian yang kini ada di depan matanya. Baginya sungguh satu nasip buruk bisa mengenal dan percaya sosok wanita seperti Amelia.


Namun, belum sempat tongkat bistol itu melayang. tiba-tiba ada tangan kekar yang menahannya. Amelia memutar tubuhnya untuk melihat wajah pria yang kini berdiri di sampingnya.


Walker berdiri dengan tatapan tidak suka. Pria itu menarik paksa tongkat bisbol dari tangan Amelia sebelum membuangnya ke tempat yang cukup jauh.


“Kau memang wanita gila, Amelia. Sepertinya penyakitmu itu telah kambuh hari ini. Seharusnya kau berada di rumah sakit jiwa seumur hidupmu.” Walker mencengkram tangan Amelia. Pria itu melirik ke arah Sharin yang kini memandangnya dengan wajah takut.


“Kau yang gila! Aku bukan wanita gila!” teriak Amelia tidak terima.


Beberapa hari yang lalu, Walker telah berhasil menyelidiki masa lalu Amelia. Wanita itu hidup di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun lamanya. Ia mengalami depresi berat saat mendapat ejekan dan penolakan yang sering terjadi di dalam hidupnya. Hingga suatu ketika ia membunuh orang yang selalu menghina dan menolak cintanya. Amelia tidak di penjara karena perbuatan itu. Ia justru di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa karena kejiwaannya yang terganggu.


Tiga tahun yang lalu ia di katakan sembuh. Wanita itu memang wanita yang cukup pintar. Ia membentuk tubuhnya menjadi cantik seperti sekarang ini dan mendekati pria yang bisa memasukkannya bekerja di S.G. Group. Rencananya cukup berhasil hingga ia bisa bekerja dengan hidup sempurna seperti sekarang. Ia memang selalu menujual diri untuk memenuhi segala kebutuhannya. Tapi, sejak datang Sharin di depan matanya. Rasa iri itu lagi-lagi muncul.


“Ikut denganku. Kali ini bukan rumah sakit jiwa yang pantas untukmu. Kau lebih cocok masuk ke dalam penjara,” ucap Walker sambil menyeret paksa tubuh Amelia.


“Sharin, tolong aku. Pria ini bekerja sama dengan Presdir Bo untuk mencelakaiku. Presdir Bo adalah pria yang bernama Biao. Aku sudah menyelidikinya. Kau bisa melihat buktinya di dalam data pribadiku, Sharin,” teriak Amelia sebelum Walker menutup pintu kamar dan membawa wanita itu pergi.


Sharin terdiam saat mendengar perkataan Amelia. Seharusnya ia tidak kaget karena memang sejak awal ia sudah mencurigai Presdir Bo sebagai Biao. Tapi, entah kenapa detik itu tiba-tiba hatinya terasa sakit. Bahkan wanita itu ingin menangis dengan perasaan kecewa.


“Kenapa hidupku bisa sesial ini!” Sharin menutup wajahnya denga telapak tangan. Darah di kepalanya masih terus mengalir deras. Tongkat bisbol itu memang berhasil membuat koyakan cukup lebar di kepalanya. Hingga darah segar yang ada di dalam kepalanya keluar tanpa henti.


Like nya jangan pelit donk reader... Vote masih di Moving on ya. Terima kasih