Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 36



Keesokan harinya. Di S.G. Group.


Sharin merapikan beberapa berkas yang sudah ia persiapkan. Tangannya melirik jam tangan yang melingkar. Sudah waktunya ia bertemu dengan Mr. Paul. Sekali lagi ia memeriksa layar ponselnya. Namun, hingga detik itu. Biao belum juga memberi kabar. Tadinya Sharin ingin memberi tahu Biao kalau siang ini ia akan bertemu dengan Mr. Paul di sebuah tempat untuk makan siang.


Suara ketukan pintu terdengar. Sharin menatap wajah seorang pria yang masuk ke dalam ruangan kerja milik Biao, “Selamat pagi, Nona. Saya utusan dari Mr. Paul yang diberi perintah untuk menjemput Nona Sharin.”


“Menjemput saya?” Sharin menunjuk wajahnya sendiri.


“Benar, Nona. Mr. Paul sudah menunggu anda. Sebaiknya anda segera ikut dengan saya.” Lelaki itu membungkuk dan memberi jalan kepada Sharin.


“Tapi aku bisa menggunakan mobil perusahaan agar tidak terlalu merepotkan,” jawab Sharin pelan.


“Maaf, Nona. Pesan dari Mr. Paul. Ia tidak mau menjalin kerja sama jika anda tidak menuruti permintaannya saat ini,” ancam lelaki itu dengan senyuman manis.


Sharin mengukir senyuman terpaksa, “Apa aturan seperti itu ada di dalam perjanjian kerja sama? Sudahlah. Paling juga hanya pergi ke sebuah restoran atau cafe. Tidak ada yang perlu di khawatirkan,” gumam Sharin di dalam hati. Wanita itu mengikuti langkah pria yang kini menjemputnya.


Mereka berdua berjalan menuju ke arah lift. Hati Sharin dipenuhi dengan harapan kalau siang itu ia bisa menjalin kerja sama yang baik dengan Mr. Paul.


“Silahkan, Nona.” Lelaki itu memberi jalan kepada Sharin. Sungguh tingkah laku pria yang cukup sopan. Sharin cukup percaya kalau tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya siang itu.


Lelaki utusan Mr. Paul membawa Sharin menuju ke halaman depan gedung S.G. Group. Lelaki itu mengukir senyuman saat membukakan pintu mobil untuk Sharin.


Sebelum masuk ke dalam mobil. Sharin memandang supir yang biasa membawanya. Ada tatapan bingung di raut wajah supir itu. Tidak ingin banyak tanya, supir yang biasa membawa Sharin juga masuk ke dalam mobil agar bisa mengikuti Sharin dari belakang.


Mobil itu melaju cepat meninggalkan gedung S.G. Group. Sharin terdiam seribu bahasa. Kepalanya berputar ke belakang untuk melihat mobil bawahan Biao yang akan selalu melindunginya. Saat melihat mobil itu masih ada, ia bisa kembali bernapas lega. Hingga beberapa kilometer melaju melewati kota. Sharin mulai merasa bingung. Mobil itu tidak lagi terlihat. Ia juga tidak tahu kemana mobil itu berada saat ini.


Kini mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti. Dua orang pria masuk dan duduk tanpa beban di samping kanan dan kirinya berada. Wajah Sharin berubah pucat saat melihat dua pria asing yang cukup menyeramkan kini duduk di sampingnya.


“Nona, jangan takut. Mereka bagian dari orang kita. Kami tidak akan menyakiti anda,” ucap supir yang sejak tadi mengukir senyuman ramah.


Sharin mengambil ponselnya dari dalam tas. Tiba-tiba saja nama Biao kembali terlintas di dalam pikirannya. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat ponselnya tidak menemukan jaringan. Satu pemandangan yang cukup mustahil. Ia kini masih ada di tengah-tengah kota. Tidak mungkin ponselnya tidak memiliki signal. Kecuali seseorang telah mengaturnya.


“Bekerja samalah, Nona. Atau anda akan menyesalinya nanti,” ucap supir itu penuh penekanan. Mendengar kalimat itu Sharin kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Tenang Sharin. Hanya makan siang. Ini tidak akan menjadi hal buruk yang harus kau takuti,” gumam Sharin di dalam hati untuk sekedar menghibur diri.


Beberapa saat kemudian.


Tidak ada kata lain yang dipikirkan Sharin selain kata takut. Ada sebuah pistol di genggaman tangan pria yang duduk di sampingnya. Pistol itu sengaja di pamerkan untuk menakut-nakuti Sharin. Mobil yang kini ia tumpangi membawanya ke tempat yang cukup jauh dari kota San Fransisco. Mobil itu memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Ada beberapa pria berseragam hitam-hitam di depan gerbang.


Sharin menelan salivanya lagi saat firasat buruk melanda hatinya. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang salah saat itu. Awalnya ia berpikir kalau mereka akan bertemu di sebuah cafe atau restoran. Tidak di sangka mobil jemputan itu justru membawanya ke sebuah rumah besar dan mewah.


Sharin mengatur napasnya lagi. Ia berusaha setenang mungkin saat itu, “Apa Mr. Paul ingin menjebakku? Kenapa tidak terpikirkan sejak awal kalau aku akan di bawah ke rumah ini. Apa benar dia ada di rumah ini?” gumam Sharin di dalam hati.


Sharin kembali mengatur debaran jantungnya yang tidak karuan. Kedua tangannya mencengkram dokumen yang saat itu ada di atas pangkuannya. Dua pria yang sempat ada di sisinya turun lebih dulu. Pria itu memberi jalan kepada Sharin untuk keluar secepatnya dari dalam mobil.


Sharin memandang ke belakang lagi dengan wajah penuh harap, “Kemana pria yang di kirim oleh Paman tampan untuk menjagaku? Kenapa mereka tidak terlihat sama sekali,” gumam Sharin di dalam hati.


“Silahkan, Nona. Mr. Paul sudah menunggu anda di dalam,” ucap salah satu pria berpakaian resmi. Ada senyuman ramah di wajah pria itu sehingga membuat Sharin sedikit lebih tenang.


“Terima kasih,” ucap Sharin pelan. Wanita itu mulai melangkah masuk dengan wajah ragu-ragu.


Pria yang sempat menjadi supir Sharin melangkah lebih dulu. Lelaki itu membawa Sharin menuju ke sebuah ruangan yang memiliki pintu ukuran besar. Lelaki itu mengukir senyuman ramah sebelum mendorong pintu ruangan berwarna cokelat.


“Silahkan, Nona. Mr. Paul sudah menunggu anda di dalam,” ucap Pria itu.


Sharin mengangguk pelan. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Apapun yang tersaji di depan matanya, Sharin sudah siap, “Terima kasih.”


Sharin mulai melangkah masuk. Pintu kembali tertutup saat tubuh Sharin berada di dalam ruangan itu. Di balik meja ukuran besar, Mr. Paul duduk sambil menatap Sharin dengan seksama. Lelaki itu tidak berkedip seolah ada yang memenuhi isi kepalanya.


“Selamat siang, Mr. Paul,” ucap Sharin pelan.


“Selamat siang, Nona Sharin. Silahkan.” Mr. Paul menunjuk kursi yang ada di depan mejanya. Lelaki itu memeriksa ponselnya yang tiba-tiba saja berdering. Dengan satu senyuman tipis ia mengangkat panggilan masuk itu.


“Bagaimana?” ucapnya pelan.


“Semua aman, Tuan.”


Setelah mendengar jawaban dari bawahannya, Mr. Paul memutuskan panggian masuk itu. Lelaki itu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


Sharin duduk di kursi hitam yang telah disiapkan. Wanita itu mengatur debaran jantung dan napasnya yang tidak karuan. Bahkan menelan saliva saja cukup sulit baginya siang itu.


“Nona Sharin, Senang bertemu dengan anda lagi.” Mr. Paul mengukir senyuman penuh arti.


Likenya ya reader..


biar babang Biao ada di rangking. Like jangan lupa. Terima kasih...