
Biao menghentikan langkah kakinya. Pria itu menatap wajah Sharin dengan seksama sebelum memutar tubuhnya. Sama halnya dengan Mr. Paul. Pria itu memutar tubuhnya untuk memandang pria yang berdiri di belakangnya. Bagian dada Kagawa di penuhi dengan darah. Bawahan Mr. Paul baru saja tiba di tempat itu.
Mereka ingin datang untuk menolong Mr. Paul. Mereka berhasil menghentikan aksi Kagawa yang saat itu mengincar nyawa Mr. Paul. Kini justru Kagawa yang menjadi korban. Pria itu memegang luka tembak yang ada pada bagian dadanya.
Mr. Paul mengukir senyuman bahagia saat melihat pasukan miliknya muncul ada pria yang menjadi tangan kanan Biao juga di sana. Ternyata mereka mengalami kesulitan saat mengikuti laju mobil Biao dan Mr. Paul beberapa jam yang lalu. Mr. Paul menendang perut Kagawa yang terluka hingga tubuh Kagawa tergeletak di atas tanah.
“Berikan senjata itu padaku,” perintah Mr. Paul kepada bawahannya.
Seorang pria berjas hitam memberikan sebuah pistol kepada Mr. Paul. Setelah berhasil memiliki senjata, Mr. Paul menembak lagi tubuh Kagawa sampai pria itu benar-benar kehilangan nyawanya. Kali ini ia tidak lagi mau memberi kesempatan sedikitpun kepada lawannya.
Biao mengukir senyuman sebelum menatap wajah Sharin, “Sayang, apa kau baik-baik saja?”
Sharin mengangguk sambil tersenyum manis, “Ya. Aku baik-baik saja.”
Sharin berhambur ke dalam pelukan Biao. Rasa takut yang sempat memenuhi pikirannya sudah tidak ada lagi. Wanita itu kini bisa kembali bernapas lega saat pria yang ia cintai memeluknya. Sharin merasa terlindungi dan tidak lagi takut dengan ancaman apapun.
“Apa ada yang sakit?” tanya Biao sambil memegang kedua sisi pipi Sharin.
“Tidak ada,” jawab Sharin dengan nada sedih. Wanita itu memegang pipi Biao yang terluka. Hatinya sangat sedih dan terluka melihat pria yang ia cintai terluka seperti itu.
“Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil,” ucap Biao dengan senyuman bahagia.
Mr. Paul berdiri di kejauhan untuk memandang adegan romantis yang tersaji di depan matanya. Hatinya masih tetap merasa cemburu. Namun, secepat mungkin ia menghilangkan rasa cemburu itu dari dalam hatinya.
Mr. Paul memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan membiarkan Biao dan Sharin berduaan. Ia menatap wajah bawahannya satu persatu yang sedang berbaris rapi, “Pastikan mereka tidak muncul lagi di kota ini.”
“Baik, Bos.” Seorang pria yang menjadi tangan kanan Mr. Paul menatap wajah Mr. Paul dengan bahagia. Ia cukup tenang bisa melihat bosnya tidak lagi memiliki dendam kepada Biao.
Baru beberapa meter Mr. Paul berjalan untuk pergi. Sudah terdengar jelas sapaan yang di ucapkan oleh Biao. Kini sepasang suami istri itu telah berdiri di belakang tubuh Mr. Paul.
“Terima kasih,” ucap Biao.
Mr. Paul menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya untuk menatap wajah Biao dan Sharin sekali lagi sebelum pergi.
“Aku tidak melakukan apapun. Bisa di bilang aku terjebak dan tidak memiliki pilihan lain,” jawab Mr. Paul dengan ekspresi dingin di wajahnya.
“Apapun itu. Terima kasih,” ucap Biao sekali lagi, “Jika bukan karena bantuanmu aku pasti sudah kesulitan untuk mengalahkan mereka. Lihatlah sekarang, bagaimana bawahanku tergeletak.”
Mr. Paul memandang wajah Sharin sekilas sebelum memandang Biao lagi, “Kau pasti tahu aku melakukan semua ini untuk siapa. Jangan terlalu besar kepala,” ucap Mr. Paul. Pria itu memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Biao dan Sharin di tempat itu.
Suara yang di dengar Mr. Paul membuat langkah pria itu terhenti dan ingin memutar tubuhnya lagi. Tapi, ia tidak ingin terlihat lemah karena cinta. Mr. Paul tetap mempertahankan posisinya berdiri tanpa mau memandang wajah Biao dan Sharin lagi.
“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi, saya harap hari ini bukan hari perpisahan kita. Maafkan saya karena tidak bisa memahami perasaan anda selama ini. Anda pria yang baik. Hati saya sudah di isi oleh pria lain hingga akhirnya saya buta dan tidak bisa memandang wajah pria lain.” Sharin menatap wajah Biao sambil mengukir senyuman kecil.
“Ya. Seharusnya permusuhan di antara kita tidak pernah terjadi. Maafkan saya Mr. Paul. Saya terlalu marah karena anda mengganggu Sharin hingga membuat keputusan untuk memusuhi anda secepat itu,” Sambung Biao.
Mr. Paul tertawa kecil. Kalimat yang di ucapkan Biao dan Sharin membuat Mr. Paul kembali memutar tubuhnya, “Aku memang pria yang jahat. Tidak pernah ada kata baik di dalam hidupku selama ini. Sampai detik aku bertemu dengan kalian. Terima kasih. Karena bertemu dengan kalian, aku bisa mengerti bagaimana kehidupanku selama ini. Tidak hanya seputar harta dan tahta. Tapi, perasaan juga satu hal yang penting ternyata.”
Biao tersenyum, “Mungkin mulai besok kita bisa melanjutkan kerja sama kita yang sempat terhenti?” Biao mengulurkan tangannya untuk menjalin kerja sama dengan Mr. Paul.
Mr. Paul menaikan satu alisnya, “Tidak buruk. Aku juga mengalami sedikit kerugian saat tidak bekerja sama lagi dengan S.G. Group.”
Tawa mereka pecah malam itu. Mr. Paul membalas uluran tangan Biao. Mereka sepakat untuk merubah status permusuhan menjadi persahabatan. Mulai malam itu, S.G. Group dan perusahan Mr. Paul kembali menjalin kerja sama yang baik.
“Aku yakin, Sonia akan sangat bahagia mendengar kabar ini,” ucap Mr. Paul dengan senyuman.
“Ya. Dia wanita yang sama sepertimu. Berubah baik di detik-detik akhir cerita,” sambung Biao dengan tawa renyah.
Mr. Paul mengukir senyuman saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Biao, “Kau pria yang bisa bercanda juga ternyata. Aku tidak pernah menyangka kalau Presdir Bo bisa memiliki jiwa humor seperti ini.”
“Itu kenyataan, Mr. Paul. Bukan sebuah candaan,” jawab Biao sambil menepuk pundak Mr. Paul.
Sharin tertawa saat mendengar dua pria yang kini ada di hadapannya. Tawa riang Sharin berhasil mencuri perhatian Biao dan Mr. Paul malam itu. Dua pria itu menatap wajah Sharin dengan wajah yang serius.
“Apa ada yang salah?” tanya Sharin sambil menatap wajah Mr. Paul dan Biao secara bergantian.
“Ya. Dia memang wanita yang lucu,” ucap Mr. Paul.
“Bukan hanya lucu, dia wanita yang sangat cantik,” sambung Biao sebelum merangkul pinggang Sharin, “Dia istriku.”
“Ya, ya. Kau tidak perlu mengingatkanku seperti itu. Aku akan mengingatnya seumur hidupku.” Mr. Paul berwajah serius.
Lagi-lagi tawa mereka bertiga terdengar jelas di perbukitan yang sunyi. Bawahan Biao dan Mr. Paul juga memutuskan untuk bekerja sama mulai malam itu. Tidak ada lagi bermusuhan di antara mereka. Kini mereka adalah tim yang akan membantu saat yang lain berada di dalam kesulitan.
-Tamat-