Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 35



Mr. Paul mengukir senyuman tipis saat melihat Sharin telah pergi meninggalkan ruangan kerja miliknya. Lelaki itu mulai memikirkan cara agar bisa segera mendapatkan Sharin. Penyelidikannya terasa sedikit sulit karena ia tidak tahu seseorang yang berada di belakang Sharin.


“Wanita itu naik jabatan menjadi sekretaris Presdir Bo? Apa dia memang benar-benar wanita penggoda. Di lihat dari prestasi yang ia miliki, wanita itu tidak terlalu cerdas. Bahkan masih banyak karyawan yang pantas menduduki posisi itu.”


Mr. Paul berpikir keras. Tetapi, tiba-tiba saja sebuah rencana kembali tertulis di dalam pikirannya. Mr. Paul mengambil telepon yang tergeletak di atas meja. Lelaki itu ingin mengirim seseorang untuk menyelidiki masa lalu Sharin. Dengan cara seperti itu, ia bisa tahu siapa Sharin sebenarnya.


“Aku ingin informasi tentang Sharin secepatnya,” perintah Mr. Paul tanpa terbantahkan lagi.


Setelah menelpon bawahannya. Ia menunggu dengan tidak sabar. Lelaki itu bahkan mengumpat berulang kali di dalam hati saat bawahannya tidak kunjung memberi kabar. Seseorang mengetuk pintu dan masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


Mr. Paul mengukir senyuman saat itu. Ia cukup yakin kalau bawahannya berhasil menyelesaikan tugas yang sudah ia berikan.


“Selamat siang, Tuan. Ini hasil yang anda minta.” Pria itu meletakkan foto Sharin beserta info tentang wanita itu.


Mr. Paul mengambil berkas itu dan mengamatinya dengan seksama. Semua terlihat biasa saja. Namun, dahinya mengeryit saat tahu kalau Sharin pernah magang di S.G.Group kota Sapporo, “Apa Daniel yang memberikannya ijin agar bisa bekerja di S.G. Group yang ada di kota ini?”


“Benar, Tuan.”


Mr. Paul meletakkan berkas itu kembali ke atas meja. Detik itu ia baru saja sadar kalau Sharin berbeda dengan wanita lainnya. Akan cukup sulit baginya untuk mendapatkan wanita itu. Di tambah lagi, Mr. Paul tahu hubungan antara Tama dan Sharin. Nama Tama cukup terkenal sebagai orang kepercayaan Daniel selama ini. Mengusik Tama sama saja mengusik Daniel.


“Tuan, apa anda ingin memberi tugas baru lagi?” ucapnya hati-hati.


“Pergilah,” umpat Mr. Paul kesal.


Lelaki itu membungkukkan tubuhnya sebelum berpamitan untuk pergi. Berjalan keluar dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara sedikitpun.


“Sharin. Kau memang wanita yang cukup berbeda. Sepertinya aku harus sedikit bersabar lagi agar bisa mendapatkanmu seutuhnya. Aku yakin, kau pasti bisa menjadi milikku.”


***


Sharin duduk di dalam mobil dengan tubuh yang terasa cukup lelah. Berwajah manis dan bersikap sopan di depan beberapa klien yang ia temui memang cukup menguras tenaga. Bahkan wanita itu tidak lagi sempat untuk makan siang karena terlalu sibuk.


“Nona, Tuan Biao meminta saya untuk mengantar Nona makan siang.” Supir yang duduk di bangku depan menatap wajah Sharin melalui kaca spion.


“Aku hanya ingin kembali ke kantor untuk bekerja,” jawab Sharin dengan nada malas.


“Maaf, Nona. Tetapi jika tidak berhasil membujuk anda untuk makan siang. Maka saya akan segera kehilangan pekerjaan saya,” ucap supir itu dengan wajah cukup menyedihkan.


Lagi-lagi Sharin tidak memiliki alasan untuk menolak. Wanita itu menghela napas sebelum menyetujui permintaan orang yang di kirim Biao untuk menjaganya selama pergi, “Aku ingin makan di cafe itu.” Tangannya menunjuk ke arah cafe yang berada tidak jauh dari posisi mereka berada.


“Baik, Nona.” Supir itu mulai membelokkan mobil yang ia lajukan. Memparkirkan mobil di lapangan parkir yang disediakan oleh pemilik restoran, “Nona, saya akan-”


Sharin keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju ke arah cafe. Wanita itu merasa cukup tenang walau lokasi yang kini ia kunjungi cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bibirnya mengukir senyuman saat pelayan cafe membukakan pintu dan mengucapkan selamat datang.


Sharin memilih duduk di meja yang berada di luar ruangan. Dari posisinya duduk ia bisa melihat sebuah taman bunga dengan hembusan angin yang sejuk, “Tempat ini cukup indah. Aku akan mengajak Paman Tampan ke sini saat dia pulang nanti,” ucap Sharin dengan senyuman.


Seorang pelayan datang dengan buku menu di tangannya. Meletakkan buku menu di atas meja sambil memegang memo kecil dan siap menulis pesanan Sharin siang itu. Setelah Sharin mengatakan makanan dan minuman yang ingin ia makan. Pelayan itu kembali ke dapur.


Sharin mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Wanita itu memperhatikan layar ponselnya yang tidak ada kabar dari Biao. Dahinya mengeryit dengan wajah bingung. Bahkan detik itu ia tidak tahu apa yang sedang di lakukan kekasihnya, “Aku harap Paman tampan baik-baik saja.”


“Sharin, kau di sini juga?” celetuk seseorang dari arah samping meja. Edo berdiri dengan senyuman ramah.


“Edo, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau melanggar aturan lagi?” ucap Sharin dengan tatapan menyelidik.


“Aku tidak masuk kerja hari ini.” Wajah Edo berubah sedih. Lelaki itu duduk di kursi yang ada di seberang meja Sharin.


“Kenapa?” tanya Sharin dengan wajah penasaran.


“Karena, aku bohong. Aku bolos lagi saat jam makan siang,” ucap Edo dengan tawa renyahnya. Sungguh satu pemandangan yang tidak lucu sama sekali bagi Sharin. Justru hal itu membuat Sharin semakin tidak ingin menjadikan Edo temannya.


“Apa kau bisa pergi dari kursi itu. Aku ingin makan sendirian tanpa ada satupun yang mengganggu,” ucap Sharin dengan wajah tidak suka.


“Maaf, Sharin. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Siang ini Manager IT tidak ada di ruangannya. Aku tidak akan ketahuan bolos hingga selama ini.” Edo mengangkat satu tangannya. Lelaki itu sudah memesan makanan dan minuman sebelumnya. Namun, ia pindah tempat duduk di meja yang sama dengan Sharin.


“Aku akan pindah jika kau ada di meja ini,” ucap Sharin sambil beranjak dari kursi yang ia duduki.


“Sharin, maaf. Kenapa kau sangat membenciku? Apa salahku?” ucap Edo yang juga beranjak dari kursinya.


Pelayan yang telah membawa makanan dan minuman Edo telah meletakkannya di atas meja. Pelayan itu menunduk sebelum pergi meninggalkan Edo dan Sharin.


“Edo. Aku tidak ingin mengenal orang asing lagi.” Sharin menatap wajah Edo dengan seksama. Wanita itu memohon pengertian dan belas kasih Edo agar tidak mengganggu hidupnya lagi. Seorang pelayan yang membawa pesanan Sharin telah tiba. Sharin tidak lagi berselera untuk makan siang itu, “Kau bisa menghabiskan semuanya.” Sharin meletakkan sejumlah uang sebelum pergi meninggalkan Edo sendirian di cafe itu.


Sedangkan Edo kembali duduk di kursinya dengan wajah kecewa, “Aneh. Dia sangat membenciku. Tapi, kenapa aku semakin tertantang untuk mendekatinya.”


Di luar cafe, Sharin berjalan dengan wajah kesal. Suasana hatinya benar-benar buruk siang itu. Ia masuk ke dalam mobil dan memberi perintah kepada supir agar segera berangkat ke S.G. Group. Ia ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa pulang dengan cepat hari ini.


“Paman tampan, kau dimana? Kenapa kau tidak memberi kabar hari ini,” gumam Sharin di dalam hati.


Likenya ya reader...Vote juga jangan lupa. akan update jam 12 siang lagi. terima kasih