
Sambil menunggu Biao pindah ke ruangan perawatan. Sharin memutuskan untuk melihat keadaan Tama. Bersama dengan pengawal setianya, Sharin kini dalam perjalanan menuju ke ruangan tempat Tama di rawat. Ruangan itu berada di samping ruangan Sharin. Dokter Sarah sengaja menempatkan mereka di ruangan yang saling berdekatan.
Pengawal itu mendorong kursi roda Sharin dengan tatapan yang cukup waspada. Ia cukup yakin, kalau bawahan Mr. Paul tidak akan menyerah begitu saja. Setiap orang yang berpapasan langsung dengannya selalu mendapat tatapan menyeramkan dari lelaki itu.
“Apa Tuan Daniel dan Tante Anna sudah tahu kalau kami mengalami kecelakaan?” tanya Sharin kepada pengawal yang kini mendorong kursi rodanya.
“Kota Sapporo sedang musim hujan, Nona. Beberapa hari ini angin sangat kencang. Bahkan sesekali terjadi badai yang tidak terduga. Tidak ada yang dari Sapporo bisa tiba tepat waktu. Di tambah lagi, jarak Kota Sapporo dengan San Fransisco memakan waktu hingga 15 jam perjalanan di udara.”
Pengawal itu sudah lebih dulu memberi kabar kepada Daniel. Bahkan detik di mana kecelakaan itu terjadi, Daniel sudah mengetahui semuanya. Hanya saja, kecelakaan itu terjadi tepat di saat hujan badai turun pada malam harinya. Hingga keluarga besar Edritz Chen tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu agar badai segera berlalu dan bandara segera di buka kembali.
“Tante Anna pasti sangat sedih saat mendengar kabar ini,” ucap Sharin dengan mata berkaca-kaca.
“Nona, apa saya boleh bertanya pada anda?” ucap Lelaki itu dengan penuh keraguan.
“Tentang?” ucap Sharin dengan wajah bingung.
“Nona, kenapa anda dan Tuan Biao tidak memutuskan untuk kembali ke Kota Sapporo saja. Di kota ini anda akan selalu menghadapi masalah yang cukup sulit untuk di selesaikan.” Pengawal itu mendorong pintu kamar Tama sebelum memegang gagang kursi roda Sharin lagi.
“Tapi, Biao di beri kepercayaan untuk menjaga dan mengembangkan S.G. Group cabang San Fransisco. Jika ia kembali ke Sapporo, itu artinya ia telah gagal dalam tugas yang di percayakan Tuan Daniel,” jawab Sharin dengan suara pelan. Kondisinya belum pulih seutuhnya. Ia tidak bisa terlalu banyak mengeluarkan kata.
“Maafkan saya, Nona,” ucap Pengawal itu sebelum mendorong kursi roda Sharin masuk ke dalam kamar.
Sharin menatap sedih wajah Tama yang kini terbaring lemah tidak berdaya di atas tempat tidur. Lelaki yang biasa tersenyum ramah itu tidak lagi bisa mengukir senyuman indahnya. Hanya ada wajah tanpa ekspresi dengan bibir yang pucat.
“Bagaimana keadaan Paman Tama?” tanya Sharin sambil memegang tangan Tama. Wanita itu kembali merasakan kesedihan di dalam hatinya saat mengingat kecelakaan yang telah terjadi.
“Tuan Tama dalam kondisi stabil, Nona. Dalam waktu dekat Tuan Tama juga akan segera bangun, Nona.” Pengawal itu menundukkan tubuhnya di hadapan Sharin, “Nona, saya permisi dulu untuk memeriksa keadaan Tuan Biao.”
Sharin mengangguk pelan. Wanita itu kembali memandang wajah Tama dengan tatapan sedih, “Paman Tama, kau harus segera bangun. Jangan buat Sharin sedih terus-terusan seperti ini. Kasian Tante Anna. Dia pasti sedih saat melihat keadaanmu seperti ini.”
.
.
“Berhenti!” teriaknya pada lelaki yang berlari kencang dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Pengawal itu semakin bersikap waspada sebelum masuk ke dalam ruangan yang di masuki musuhnya. Bisa saja di dalam ala ruangan itu ada jebakan yang membuatnya menjadi celaka. Pistol yang sempat tersimpan ia keluarkan sebelum ia todongkan ke arah depan. Apapun rencana musuh yang akan ia dapatkan, maka ia akan segera mengatasinya.
Di ruang itu terlihat cukup sunyi. Hanya ada beberapa lemari yang berisi dokumen rumah sakit. Pria yang sejak tadi ia kejar tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Senjata api yang ada di genggaman tangan musuhnya itu telah melekat di bagian belakang kepala Pengawal itu, “Ucapkan kata-kata terakhirmu sebelum aku menghabisi nyawamu malam ini,” ucap Lelaki itu dengan tatapan cukup tajam.
Di sisi lain.
Beberapa perawat kini dalam perjalanan untuk membawa Biao menuju ke ruang perawatan. Lelaki itu masih memejamkan mata dengan hembusan napas yang cukup stabil. Infus masih terpasang di punggung tangannya bersamaan dengan selang oksigen yang juga masih ada di hidungnya.
Pintu terbuka dengan lebar. Perawat itu mendorong tempat tidur Tama secara bersamaan. Tatapan mata mereka terlihat mencari saat tidak menemukan Sharin di tempat tidurnya. Sejak awal, Dokter Sarah telah memberi perintah kepada seluruh perawat untuk menjaga dan melindungi Sharin dari bahaya.
“Di mana Nona Sharin?” ucap salah satu perawat dengan wajah panik.
“Mungkin di ruangan pasien yang satunya lagi,” sambung perawat yang lain.
“Aku akan mencari Nona Sharin dan memintanya untuk segera kembali beristirahat,” ucap salah satu perawat dengan senyuman yang cukup ramah.
Perawat itu berjalan menuju ke ruangan Tama. Sesuai dengan dugaannya sejak awal, kalau wanita yang ia cari ada di dalam ruangan itu. Sharin duduk dengan wajah sedihnya. Air matanya yang sempat menetes ia hapus dengan gerakan cepat saat perawat itu masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba.
“Maaf, Nona. Sudah waktunya anda untuk kembali beristirahat,” ucap Perawat itu.
Sharin menatap wajah Tama sekali lagi sebelum mengangguk setuju. Walau dirinya masih ingin menemani Tama, “Apa Biao sudah di pindahkan ke dalam ruanganku?”
“Sudah, Nona. Sebaiknya anda segera menekan tombol darurat saat anda benar-benar dalam bahaya, Nona,” ucap Perawat itu dnegan wajah khawatirnya.
“Terima kasih,” ucap Sharin dengan suara yang cukup pelan. Wanita itu sudah tidak sabar melihat wajah Biao dari jarak yang cukup dekat. Ia ingin berada di samping lelaki itu hingga Biao membuka mata dan bisa berbicara kepadanya.
“Paman tampan,” ucap Sharin lirih sebelum menggenggam tangan Biao. Wanita itu lagi-lagi harus meneteskan air mata saat melihat keadaan Biao yang cukup memprihatinkan, “Paman tampan, kau harus segera bangun. Aku takut jika sendirian seperti ini. Paman Tama juga belum sadar.”
Setelah puas berbicara beberapa kata kepada Biao, Sharin kembali naik di atas tempat tidurnya. Ia juga ingin beristirahat agar bisa segera memulihkan kondisinya saat ini.