Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 32



Sharin baru saja tiba di halaman depan perusahaan S.G. Group. Wanita itu keluar dari dalam mobil dengan wajah ragu-ragu. Kedua bola matanya kembali memastikan kalau tidak ada karyawan yang melihat dirinya turun dari dalam mobil Biao. Setelah Sharin turun, supir kembali melajukan mobil itu untuk di parkirkan. Sharin meminta kepada supir yang ada untuk menurunkannya sedikit menjauh dari gedung S.G. Group.


“Sepertinya cukup aman. Seharusnya di jam sekarang tidak ada karyawan S.G. Group yang berani keluar dari kantor,” ucap Sharin sebelum melangkah masuk menuju ke gedung yang menjulang tinggi.


Baru beberapa meter ia melangkah. Tiba –tiba ada mobil hitam berhenti di sampingnya berdiri. Seorang pria dengan setelan hitam-hitam turun dari mobil lalu menarik paksa tubuh Sharin saat itu.


Sharin berteriak sambil berontak. Semua berkas yang sempat ia genggam berserak di permukaan jalan, “Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan!” teriak Sharin dengan suara cukup kuat.


Beberapa pria berbadan tegab milik Biao muncul lalu menghajar satu persatu lelaki yang ingin menculik Sharin. Satu di antaranya mendekati tubuh Sharin dengan wajah panik, “Nona, apa anda baik-baik saja?” ucapnya dengan wajah khawatir. Sedikit saja tubuh Sharin tergores, mungkin mereka akan mendapat sayatan pisau dari Biao. Hal itu yang membuat mereka cukup perhatian dengan keadaan Sharin saat ini.


“Aku baik-baik saja,” ucap Sharin sambil memandang beberapa pria yang kini terlihat sibuk berkelahi di hadapannya, “Siapa mereka?” tanya Sharin penuh rasa penasaran.


Gerombolan pria yang ingin menculik Sharin masuk ke dalam mobil. Saat melihat lawan mereka tidak lagi imbang, mereka memutuskan untuk melarikan diri.


“Kami akan menangkap mereka, Nona. Sebaiknya Nona kembali masuk ke dalam kantor.” Pria berbadan tegab itu masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil yang ingin menculik Sharin.


Sharin memandang mobil bawahan Biao dengan penuh tanda tanya. Sebelumnya Biao memang sudah memberi tahunya kalau akan ada yang melindunginya selama Biao tidak ada di sampingnya.


“Sepertinya Paman Tampan sudah punya firasat buruk makanya ia mengutusk orang untuk menjagaku,” gumam Sharin di daam hati.


Sharin berjongkok di jalan untuk merapikan berkasnya yang berserak. Wanita itu cukup tenang saat ini. Bahkan saat mengutip satu persatu berkas itu saja bibirnya masih bisa tersenyum.


“Apa aku boleh membantu?” ucap seseorang.


Sharin mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Kepalanya kembali menunduk saat sudah mengetahui wajah sang pemilik suara.


“Apa kau tidak tahu aturan yang berlaku di S.G. Group? Saat jam kerja berlangsung tidak dibenarkan bagi seluruh karyawan meninggalkan gedung. Kecuali dalam keadaan mendesak.” Sharin kembali memungut berkas-berkasnya yang berserak.


“Aku tidak tahu,” jawab lelaki itu sambil berjongkok di hadapan Sharin.


“Edo, apa kau melihat yang baru saja terjadi?” tanya Sharin penuh selidik.


“Memangnya apa yang baru saja terjadi?” tanya Edo sambil mengeryitkan dahi.


“Lelaki ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu,” gumam Sharin di dalam hati.


“Tidak ada. Jika kau tidak melihatnya sendiri kau tidak akan tahu.” Sharin berdiri dengan berkas yang sudah tertumpuk rapi. Wanita itu memandang wajah Edo dengan seksama.


“Aku hanya tidak ingin terlalu dekat dengan orang asing yang baru saja aku temui,” jawab Sharin sambil berlalu pergi menuju ke arah gedung.


“Kau wanita yang pemilih. Bukankah satu gedung juga sedang menceritakanmu saat ini. Seharusnya kau tidak memilih teman lagi. Beberapa karyawan wanita juga sepertinya tidak ingin berteman denganmu lagi. Mereka cukup cemburu dengan perlakuan Presdir Bo terhadap dirimu, Sharin,” ucap Edo sambil terus mengimbangi langkah kaki Sharin.


Sharin terdiam untuk beberapa detik. Wanita itu memang sudah mengerti dengan apa yang akan ia hadapi saat memasuki gedung S.G. Group nantinya. Tapi, semua itu atas permintaannya juga. Ia yang melarang Biao untuk memberi tahu tentang hubungan mereka berdua kepada keryawan yang ada di S.G. Group.


“Aku hanya beruntung saja. Pamanku bekerja di S.G. Group cabang Jepang. Ia memiliki hubungan baik dengan Tuan Daniel,” jawab Sharin dengan suara pelan.


“Daniel? Maksudmu Daniel Edritz Chen? Anak konglemerat yang terkenal itu?” ucap Edo dengan wajah histeris.


Sharin mengeryitkan dahi saat mendengar teriakan histeris Edo saat itu. Kepalanya mengangguk pelan pertanda setuju. Nama Daniel memang cukup di kenal sebagai pria sukses di dunia bisnis. Selain cabang S.G. Group yang ada di berbagai negara besar. Nama Ceo makanan ringan itu juga cukup di kenal dunia karena jiwa sosialnya.


“Apa kau pernah bertemu dengannya?” Edo terlihat tertarik dengan nama Daniel saat itu.


“Ya. Aku pernah bertemu dengannya. Ia pria yang cukup baik dan ramah.” Sharin kembali mengukir senyuman indah. Bukan karena membayangkan wajah Daniel. Tetapi, hati dan pikirannya kembali membayangkan pertemuan manisnya bersama dengan Biao dulunya.


“Sharin, kau wanita yang cukup hebat. Apa kau mau berteman denganku?” ucap Edo dengan wajah penuh antusias.


Sharin tertegun beberapa saat. Tiba-tiba saja traumanya kepada Amelia membuatnya menjadi ragu. Ia tidak mau ada Amelia kedua yang membuat hidupnya berada dalam bahaya.


“Maaf, Edo. Tapi aku memiliki trauma karena mempercayai seseorang. Jika memang kita di takdirkan untuk berteman, kita pasti akan berteman nantinya. Tapi, tidak untuk saat ini,” ucap Sharin dengan wajah cukup tegas.


Edo menarik kembali tangannya yang sempat ia ulurkan di hadapan Sharin. Lelaki itu memasang wajah kecewa karena merasa sangat sulit untuk berteman dengan Sharin.


“Aku berharap secepatnya kau mau menjadi temanku, Sharin,” ucap Edo dengan wajah sedih.


Sharin menepuk pelan pundak Edo, “Jika kita memang di takdirkan untuk menjadi teman. Kita pasti akan menjadi teman nantinya. Aku hanya tidak ingin secepat ini. Maafka aku, Edo.”


Sharin berlalu lebih dulu menuju ke arah lift. Wanita itu ingin segera masuk ke dalam lift untuk menghindari tatapan penuh tanya seluruh karyawan yang ada di lantai satu.


Edo masih berdiri di tempatnya berdiri dengan wajah kecewa, “Sayang sekali aku tidak bisa berteman dengannya. Sepertinya dia wanita yang cukup baik. Bahkan beberapa karyawan bilang ia wanita yang cukup ramah sebelumnya. Apa ini karena wanita yang bernama Amelia itu pergi? Hingga dia merasa sedih dan kehilangan?” ucap Edo dengan wajah penuh tanya, “Semoga kami bisa menjadi teman. Aku juga ingin bertemu dengan Tuan Daniel yang terkenal itu.”


Edo berjalan menuju ke ruangan yang ingin ia kunjungi. Ada banyak tugas yang memang harus ia selesaikan di lantai satu. Sejak awal, Edo memang tidak melihat kejadin buruk yang di alami Sharin. Lelaki itu muncul setelah semua bawahan Biao pergi untuk mengejar mobil yang menculik Sharin.