
Setelah melewati proses perdebatan dengan Ny. Edritz yang cukup menguras waktu dan tenaga. Kini Tama, Anna dan Sharin pergi meninggalkan ruangan Biao. Hanya ada Tuan dan Ny. Edritz di dalam ruangan itu. Tama sengaja membawa dua wanita yang ia sayangi keluar ruangan untuk menjelaskan sesuatu.
Tama tahu tatapan bingung yang ada di wajah Anna dan Sharin beberapa saat yang lalu. Lelaki itu memilih kantin rumah sakit sebagai tempat mereka mengobrol. Kantin rumah sakit ada di lantai satu. Mereka harus turun menggunakan lift yang tersedia agar bisa tiba di lantai satu.
Sepanjang jalan, Anna hanya bisa mengucap syukur karena pagi itu ia melihat lelaki yang ia cintai telah kembali sehat. Kondisi Tama bahkan sudah hampir sama saat lelaki itu pergi meninggalkannya waktu itu. Hanya ada beberapa luka kecil di wajah Tama yang belum hilang dengan sempurna.
Anna juga sangat mengkhawatirkan Sharin. Saat pertama kali datang, wajah yang ia cari Tama. Setelah melihat Tama baik-baik saja, Anna segera memandang wajah Sharin dan memeluk keponakannya itu. Hatinya cukup lega saat melihat Tama dan Sharin baik-baik saja.
Berbeda dengan Ny. Edritz. Sejak pertama kali tiba di ruangan. Wajah yang pertama kali ia cari adalah Biao. Setelah menemukan wajah Biao, tangisnya pecah dengan wajah yang cukup sedih. Walaupun Biao terlihat sudah jauh lebih baik, tapi tetap saja tidak bisa membuat Ny. Edritz bernapas dengan tenang. Ada wajah sedih yang di selimuti rasa penyesalan di wajah Ny. Edritz. Wanita paruh bayah itu merasa telah gagal melindungi Biao dari bahaya. Rasa sedihnya sama seperti saat Daniel mengalami bahaya.
“Paman, apa Paman sudah lama kenal dengan Biao? Bagaimana hubungan Biao dengan Ny. Edritz?” ucap Sharin pelan. Wanita itu menghentikan langkah kakinya saat keluar dari dalam lift.
“Sebaiknya kita cari tempat duduk yang nyaman terlebih dahulu sebelum cerita,” ucap Tama dengan senyuman ramah. Lelaki itu menggandeng pinggang Anna lalu membawa dua wanita itu menuju ke salah satu meja yang ada di kantin.
Setelah memilih tempat yang cukup nyaman, Tama memesan beberapa makanan dan minuan untuk Anna. Ia tidak ingin istri tercintanya kelaparan pagi itu. Ia cukup tahu, kalau Anna tidak lagi berselera makan saat mendengar kabar kecelakaan tentang dirinya.
“Kalian tidak makan?” ucap Anna sambil memandang wajah Tama dan Sharin secara bergantian.
“Kami baru saja selesai makan, beberapa menit sebelum kau tiba, Anna.” Tama mengambil sesendok makanan lalu menyuapi Anna dengan mesra.
Sharin mengukir senyuman bahagia saat melihat keharmonisan Paman kesayangannya, “Paman Tama, cepat ceritakan padaku. Kenapa Ny. Edritz terlihat sangat khawatir dengan keadaan Tuan Biao.”
“Sharin, Biao sudah di anggap seperti anak kandung oleh Tuan dan Ny. Edritz. Walau selama ini kami memiliki tugas untuk menjaga Tuan Daniel. Tapi, tetap saja. Di mata Tuan dan Ny. Edritz status Biao jauh lebih tinggi jika di bandingkan dengan diriku. Biao memiliki jasa besar waktu ia masih kecil. Biao yang menyelamatkan nyawa keluarga Edritz. Aku juga kurang tahu bagaimana situasi saat itu. Tapi, yang pasti. Apapun keinginan Biao akan dengan mudah dikabulkan oleh Ny. Edritz.” Tama mengambil jus yang ada di atas meja lalu memberikannya kepada Anna. Lelaki itu terlihat menyudahi ceritanya tentang keistimewaan yang di terima oleh Biao.
“Paman, aku takut,” ucap Sharin dengan wajah sedih.
“Untuk apa kau takut, Sharin? Biao sangat mencintaimu dan kau juga mencintainya. Tidak ada kata paksaan di antara hubungan kalian,” ucap Anna pelan. Wanita itu tidak terima jika Sharin kembali meragukan perasaanya terhadap Biao.
“Gara-gara jatuh cinta kepadaku, Tuan Biao jadi mengalami celaka. Tidak hanya itu, Tuan Daniel juga jadi mengalami masalah dengan perusahaannya.” Sharin memandang wajah Anna sebelum menopang kepalanya dengan tangan.
“Tama, apa itu artinya kau menyesal telah mengenalkan Sharin dengan Biao?” protes Anna dengan wajah tidak terima.
“Tidak. Tidak seperti itu, Anna. Aku merasakan hal yang sama dengan Sharin. Masalah ini di sebabkan oleh Sharin. Statusmu hanya pacaran dengan Biao. Berbeda dengan Nona Serena dahulu yang memang berstatus sebagai istri Tuan Daniel,” ucap Tama pelan.
“Tunggu-tunggu. Apa ini artinya Paman memintaku untuk segera menikah dengan Tuan Biao?” ucap Sharin sambil mengeryitkan dahi.
Tama mengangkat kedua bahunya, “Aku pikir itu solusi yang baik untuk saat ini. Mr. Paul mungkin akan melupakan ambisinya untuk memilikimu saat kau telah mengganti statusmu menjadi istri Biao.” Tama menatap wajah Anna dengan satu kode, “Bukankah begitu, Sayang?”
Anna mengeryitkan dahi dengan wajah bingung, “Ya. Itu ide yang cukup bagus. Sebaiknya saat Biao keluar dari rumah sakit kalian segera menikah. Mungkin lelaki itu tidak akan membuat masalah lagi dan melupakan semuanya. Kalian juga bisa hidup dengan tenang.”
“Paman, aku memang ingin segera menikah dengan Tuan Biao. Tapi, saat kondisinya benar-benar pulih.” Sharin melipat kedua tangannya di atas meja, “Aku juga tidak ingin membuat Tuan Biao menderita terus-terusan karena Mr. Paul.”
“Sahrin, kau bisa mengurus Biao setelah menikah. Itu bukan hal yang sulit lagi jika kalian sudah menikah. Kami tahu, kau belum siap karena ini terlalu cepat. Tapi, ini solusi yang terbaik untuk kehidupanmu dan Biao juga.” Tama memberi pengertian kepada Sharin agar wanita itu mau menggelar pernikahan setelah Biao keluar dari rumah sakit.
Sharin menghela napas dengan perasaan campur aduk, “Baiklah, tentukan saja tanggalnya. Aku siap menikah dengan Paman Tampan kapan saja.”
Mendengar jawaban yang di katakan oleh Sharin, membuat Tama dan Anna mengukir senyuman bahagia. Sepasang suami istri itu sudah tidak sabar untuk memberi tahu kabar gembira itu kepada Biao. Lelaki itu pasti sangat senang jika mendengar persetujuan Sharin yang akan menikah dalam minggu ini.
“Tante akan membantumu mengurus semuanya. Tenang saja, Sharin. Kau akan menjadi pengantin wanita paling cantik di kota San Fransisco.” Anna terlihat bersemangat dengan rencana pernikahan Biao dan Sharin yang akan segera di gelar.
“Terima kasih, Tante,” ucap Sharin dengan senyuman indah.
Dari meja yang tidak terlalu jauh, ada seorang pria yang sejak tadi mendengar pembicaraan Tama dan yang lainnya. Lelaki itu segera beranjak dari kursinya untuk membawa informasi yang ia dapat kepada sang majikan. Lagi-lagi Tama tidak sadar kalau dirinya sedang dalam pengintaian seseorang.
Like dan Komen serta votenya ya reader...