
Tama dan Anna ada di dalam gedung S.G. Group San Fransisco. Bakat sepasang suami istri itu memang tidak pernah bisa di ragukan. Semua masalah yang dimiliki Biao telah berhasil mereka selesaikan. Tidak ada lagi beban yang mengganggu pikiran Biao maupun Sharin ketika mereka kembali bekerja di S.G. Group nantinya.
Anna duduk di depan meja sambil mengotak-atik layar ponselnya. Wanita itu terlihat sibuk mempersiapkan segala persiapan pernikahan Biao dan Sharin. Bibirnya mengukir senyuman indah karena membayangkan hari indah sepasang kekasih itu nantinya.
Ada beberapa gaun pengantin yang ia persiapkan untuk Sharin. Namun, ia cukup bingung memilih yang terbaik dari yang baik. Wanita itu berulang kali memandang foto gaun pengantin yang ada di ponselnya.
“Apa aku boleh membawa Sharin untuk melihat gaun pengantin?” tanya Anna ragu-ragu kepada Tama. Walau Mr. Paul tidak lagi berniat mengganggu Sharin dan Biao. Tapi, tetap saja pria itu masih ada di San Fransisco. Anna takut, Mr. Paul berubah pikiran hingga akhirnya menculik Sharin lagi saat ada kesempatan.
“Apa tidak bisa di wakilkan saja?” ucap Tama yang memiliki pemikiran yang sama seperti Anna. Bahkan pria itu sendiri tidak bisa menjamin, jika keponakannya pergi bisa kembali dengan selamat. Kejadian yang telah terjadi memang membuat Tama menjadi jauh lebih waspada.
“Mereka yang mau menikah. Bagaimana mungkin aku bisa mewakili gaun yang akan di pakai Sharin. Setiap wanita punya seleranya masing-masing.” Anna memandang ponselnya lagi dengan seksama.
“Kau bisa menunjukkan foto itu kepada Sharin, Sayang.” Tama mengukir senyuman manis seolah jawaban yang ia katakan adalah solusi terbaik.
“Harus lihat secara langsung. Seorang wanita juga ingin mencoba gaun pengantinnya di depan pria yang ia cintai,” sambung Anna dengan wajah putus asa. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Sejak hamil memang ia jadi mudah lelah dan mengantuk. Tidak peduli jam berapapun itu, ia selalu ingin tertidur walau hanya beberapa menit.
“Sayang, aku punya ide. Sedikit beresiko. Tapi, aku cukup yakin kalau ide ini cukup efektif.” Tama beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu mengusap lembut rambut Anna dengan penuh cinta, “Setelah selesai. Kita akan kembali ke hotel untuk beristirahat.”
Anna menatap wajah Tama dengan mata yang cukup berat, “Baiklah. Ayo kita selesaikan semua ini.”
Tama membantu Anna beranjak dari tempat duduknya. Sepasang suami istri itu berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja milik Biao.
Semua persiapan pernikahan Biao memang tidak ada lagi yang tersisa. Selain menyerang Apartemen, Mr. Paul juga menyerang lokasi pesta pernikahan. Bahkan gaun indah yang di pilihkan oleh Ny. Edritz dan Sharin sendiri telah hancur dan tidak bisa di gunakan lagi.
Hari ini, untuk menyambut penikahan Biao dan Sharin. Anna harus kembali mempersiapkan semuanya. Tidak ada lagi Ny. Edrizt ataupun Sharin yang membantunya. Semua harus ia putuskan sendirian.
Tama adalah satu-satunya orang yang selalu menemani Anna. Pria itu sudah menjadi suami yang cukup pengertian. Apapun kebutuhan Anna, ia selalu tahu dan mempersiapkannya lebih dulu. Tama juga selalu mengontrol kesehatan Anna dan calon anak mereka. Pria itu juga yang selalu memperingati Anna agar banyak-banyak istirahat.
***
Rumah Sakit.
Sharin duduk di sofa sambil membaca majalah. Wanita itu terlihat santai walau sudah berhari-hari di rumah sakit. Ia tidak ingin terlihat sedang bosan di depan Biao. Walaupun dalam hatinya dipenuhi dengan kerinduan terhadap apartemen. Sebelum menikah, wanita itu juga ingin tidur di apartemen lamanya. Walau ia tahu, keinginan sederhananya itu tidak akan mungkin terwujud. Biao tidak akan memberinya ijin walau hanya satu malam tidur di apartemen lamanya.
Di atas tempat tidur, Biao masih tidur karena pengaruh obat yang ia minum. Sharin sengaja menjauh agar tidak mengganggu istirahat Biao. Walaupun sesekali ia mendekat untuk memastikan kalau Biao baik-baik saja.
Suara pintu terbuka. Tama dan Anna muncul bersama tiga wanita cantik di belakang mereka. Ada koper berukuran besar yang di seret oleh pengawal S.G. Group. Sharin mengeryitkan dahi saat melihat kemunculan tamunya sore itu. Wanita itu meletakkan majalah kembali ke atas meja sebelum beranjak dari duduknya.
“Tante Anna, siapa mereka?”
“Mereka orang-orang yang akan membuat gaun pengantinmu. Kita hanya punya waktu beberapa hari sebelum pesta pernikahan di gelar. Kami tidak bisa menunggu Biao sampai keluar dari rumah sakit. Secepatnya gaun pengantinmu harus di selesaikan.” Anna memandang wajah Biao yang masih tertidur, “Apa Biao baru saja tidur?”
“Sudah ada sekitar setengah jam,” jawab Sharin sambil memperhatikan jam dinding.
“Bagus kalau seperti itu. Sayang, bisakan kau membangunkannya?” Anna memandang wajah Tama dengan senyuman manis.
“Kalian bisa mulai mengukur tubuhnya. Lalu gaun yang tadi saya pilih bisa kau coba sekarang Sharin. Kita akan tahu, pada bagian mana yang kurang setelah kau mencobanya,” ucap Anna sambil berjalan menuju ke arah sofa.
Sharin memandang gaun yang telah terpajang indah di depan matanya. Masih melihatnya saja sudah membuat Sharin jatuh cinta. Bahkan ia tidak lagi sabar untuk mengenakan gaun pengantin tersebut, “Aku sangat menyukainya.”
“Ada banyak. Kau akan bingung nanti. Sebaiknya mulai mencobanya satu persatu,” perintah Anna sambil mencari posisi nyamannya untuk duduk.
Sharin mengangguk sebelum mencoba gaun yang ada di depan matanya.
Tama mengukir senyuman dan duduk di tepian tempat tidur. Pria itu membiarkan Biao tetap tidur hingga Sharin selesai mengenakan gaun pengantinnya. Setelah waktunya cukup tepat, Tama mulai mengganggu sahabat terbaiknya dengan cara menarik kupingnya, “Bangun tukang tidur,” ucapnya pelan.
Biao menggenggam tangan Tama dengan bibir tersenyum. Pria itu mengecup punggung tangan Tama seolah itu tangan milik Sharin, “Sayang, aku sangat mencintaimu.”
“Biao!” teriak Tama dengan suara yang cukup lantang. Dengan kasar Tama menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Biao.
Teriakan Tama berhasil membuat Biao membuka matanya dengan wajah kaget. Tidak hanya Biao. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu juga memandang ke arah Biao dan Tama.
“Kenapa kau bisa di sini! Dimana Sharin?” Biao mendorong tubuh Tama agar menjauh dari tempat tidurnya.
“Aku di sini,” jawab Sharin dengan suara merdu.
Sharin muncul dengan gaun pengantin yang cukup indah. Walau wajahnya belum di beri sentuhan make up dan rambutnya hanya tergerai biasa. Tapi, tetap saja Sharin terlihat sangat cantik sore itu.
“Sayang, apa kita akan menikah hari ini,” tanya Biao dengan wajah berseri. Secara perlahan, ia duduk di atas tempat tidur dan mengukir senyuman indah.
“Biao, bangun! Jangan membawa mimpimu hingga ke dunia nyata,” ucap Tama sambil menepuk pundak Biao.
“Biao, kami ingin memilih gaun mana yang cocok untuk Sharin. Ada tiga pilihan yang terbaik. Ini adalah gaun pertama yang di coba Sharin.” Anna berjalan pelan mendekati posisi Sharin berada. Wanita itu mengukir senyuman yang cukup indah saat melihat gaun yang di kenakan Sharin, “Ini cukup indah. Tapi, aku ingin melihat dua lagi.”
Sharin mengukir senyuman sambil memandang Biao. Wanita itu memutar tubuhnya untuk mencoba gaun berikutnya.
Biao terlihat bersemangat melihat Sharin mencoba gaun pengantin. Ia ingin segera cepat sembuh agar bisa keluar dari rumah sakit tersebut. Ia ingin menjalani aktifitas normal seperti biasanya.
Setelah menunggu beberapa menit, Sharin keluar dengan gaun kedua. Biao terlihat menggeleng karena tidak suka. Dibagian belakang terlalu terbuka. Biao tidak ingin punggung Sharin di nikmati oleh semua tamu undangan yang hadir di pesta nantinya.
Tama dan Anna duduk di sofa. Sepenuhnya pemilihan gaun mereka serahkan kepada Sharin dan Biao. Tugas mereka di situ untuk menambah yang masih terasa kurang dan menyempurnakan semua yang telah di pilih.
Setelah hampir satu jam tanpa ada keputusan, Sharin keluar dengan gaun ketiga. Mata semua orang berbinar dengan suka cita. Anna dan Tama yang sejak tadi duduk dengan posisi tenang juga beranjak dari sofa. Biao yang sempat melamun juga terlihat mengukir senyuman indah. Penampilan Sharin cukup sempurna. Gaun pengantin itu melekat indah di tubuh Sharin.
“Aku sangat suka gaun yang ini,” ucap Biao dengan senyuman.
Sudah di putuskan kalau gaun ketiga yang akan di kenakan Sharin saat resepsi pernikahan nantinya.