Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 54



Dokter Adit terlihat cukup serius dengan pekerjaannya malam itu. Keringatnya berkucur dengan begitu deras.


Suasana ruangan itu benar-benar hening dan sangat mencekam. Dokter Sarah yang berdiri di hadapan Dokter juga tidak lagi bisa bernapas normal.


Sudah sering ia menghadapi pasien seperti Biao bahkan jauh lebih parah. Hanya saja kali ini pasien yang ia tangani memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang ia kenal. Ada rasa tanggung jawab yang berubah menjadi satu beban yang harus segera ia selesaikan.


Berjam-jam sudah operasi itu berlangsung. Dokter Adit memandang wajah Sharin yang memandang ke arah ruang operasi dengan mata merah dan bengkak. Air mata terus saja mengalir deras tanpa henti. Satu tangannya ia tempelkan di kaca yang membatasi dirinya dengan tempat kekasihnya berbaring saat itu.


“Paman Tampan ... Kau harus bangun. Jangan buat aku semakin takut. Kau harus bisa bertahan. Bukankah kau adalah pria tangguh. Jangan menakutiku dengan cara seperti ini."


Dokter Adit mulai menjahit kepala Biao. Langkahnya cukup hati-hati dan waspada. Setelah semua usaha nya berkahir ia hanya tinggal menunggu satu keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa sahabatnya.


“Dok, detak jantung pasien hilang,” ucap Dokter Sarah denagn wajah pucat Pasih. Di layar monitor kini garis hijau itu tidak lagi berbentuk. Hanya ada satu garis lurus yang menandakan hilangnya kehidupan seseorang.


Dokter Adit berusaha tenang walau kini tubuhnya gemetar ketakutan. Hatinya hancur tak terkira bahkan debaran jantungnya tidak lagi bisa normal. Bersamaan dengan suara dari monitor itu, napas Dokter Adit seakan terhenti.


Kedua tangannya mengambil alat pemompa jantung. Lelaki itu menatap wajah sahabatnya dengan seksama sebelum mengeluarkan kata, “150 joule, lakukan!”


Belum berhasil. Usaha Dokter Adit saat itu belum juga berhasil memicu jantung Biao untuk kembali berdetak.


“200 Joule, lakukan!”


Bahkan di uasahanya yang kedua, lelaki itu tidak juga memberi tanda-tanda kehidupan. Garis monitor itu masih lurus.


Dokter Adit melempar alat yang sempat ia pegang. Ia tidak terima jika Biao pergi secepat itu. Bahkan di hadapan dan di saat ia yang menanganinya.


Kedua tangannya ia tekankan di dada Biao dengan perasaan bingung dan campur aduk.


“Bangun Biao! Apa kau senang jika membuatku menjadi gila? Kau harus bangun. Lihat wanita itu. Ia menangis karenamu. Apa kau tidak mau menghapus air matanya!” ucap Dokter Adit yang mungkin terdengar aneh di hadapan para Dokter dan perawat saat itu.


Tangisan Sharin semakin tidak terkendali. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak sanggup jika harus melihat kepergian Biao secepat itu. Ia masih butuh Biao ada di sampingnya. Ia masih ingin menghabiskan hari-harinya bersama dengan Biao. Bahkan ia juga ingin merasakan bagaimana ikatan sebuah pernikahan bersama Biao.


“Kau harus bangun. Jangan membuatku semakin takut. Aku akan ikut pergi denganmu jika kau meninggalkanku dengan cara seperti ini,” ucap Sharin di sela-sela Isak tangisnya.


Dokter Adit terus berusaha. Hingga layar monitor itu kembali memberi tanda baik. Detak jantung lelaki itu telah kembali.


“Dok, pasien berhasil kita selamatkan.” Dokter Sarah menghapus air mata haru atas kejadian menegangkan yang baru saja terjadi di depan matanya.


Semua orang yang ada di ruang operasi itu kembali bernapas lega. Detak jantung Biao berangsur naik hingga akhirnya kembali normal.


Adit mengukir senyuman sambil memandang wajah Biao, “Aku akan menghajarmu ketika kau bangun nanti, Biao!” umpatnya kesal. Lelaki itu memandang wajah Sharin yang masih menutup wajahnya dengan tangan.


Secara perlahan Sharin membuka tangannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lihat setelahnya. Wanita itu berharap besar, ketika ia melihat Biao lagi lelaki itu masih dalam keadaan bernyawa.


“Paman tampan ....” ucapnya lirih. Sharin mengukir senyum bahagia dengan hati yang lega.


Di dalam ruangan itu, semua Dokter terlihat tersenyum bahagia. Operasi besar yang memakan waktu hitungan jam itu telah berakhir. Hasil akhir dari usaha mereka cukup memuaskan.


Para Dokter dan tim medis lainnya kleuar secara bersamaan dari ruang operasi. Salah satu perawat membawa Biao untuk di pindahkan ke ruang perawatan. Keadaan lelaki itu kini sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya. Hanya tinggal menunggu waktu agar Biao kembali sadar dan melihat indahnya dunia.


Dokter Adit berjalan untuk mendekati posisi Sharin. Bibirnya mengukir senyuman indah saat menatap wanita itu.


“Anda Nona Sharin?” tanya Dokter Adit ragu-ragu.


Sharin mengangguk dengan wajah yang cukup lelah, “Ya, Dok. Terima kasih karena anda telah menolong Paman Tampan.”


“Biao sahabatku. Sudah seharusnya aku menolong dan memperjuangkan hidupnya,” ucap Dokter Adit.


“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Dok.” Sharin menekuk kepalanya sebagai bentuk rasa terima kasihnya saat itu.


Dokter Adit mengukir senyuman saat melihat tingkah Sharin, “Nona Sharin. Saya sudah mengatur kamar untuk Biao agar sama dengan kamar yang Anda tempati. Apa anda tidak keberatan”


“Tentu saja tidak, Dokter. Saya justru sangat bahagia mendengarnya.” Sharin memandang Biao lagi yang masih belum membuka mata.


“Saya permisi dulu, Nona Sharin.” Dokter Adit pergi meninggalkan ruangan itu. Diikuti Dokter Sarah dan perawat lainnya.


Sedangkan Sharin masih ada di ruangan itu. Ia ingin menunggu sampai kekasihnya benar-benar di pindahkan ke ruangan yang sama dengan tempatnya di rawat.


“Terima kasih karena kau tidak meninggalkanku, Paman tampan.”


.


.


.


.


Udah lunas ya dua bab... vote juga yang banyak dunkk...😘