Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 84



Hari terus berlalu. Hingga tidak terasa usia pernikahan Biao dan Sharin sudah menginjak usia tujuh hari. Sepasang suami istri itu sudah tinggal di dalam rumah mewah yang dibeli Biao. Perlakuan semua orang kepada Sharin dan Biao memang terlihat sangat jauh berbeda. Kali ini mereka adalah Raja dan ratu di rumah itu.


Pelayan, pengawal dan semua yang bekerja di rumah itu terlihat sangat menghormati Biao dan Sharin. Menyiapkan segala kebutuhan sepasang suami istri itu sebelum beraktifitas.


Pagi ini, Sharin baru saja selesai mandi. Wanita itu duduk di depan meja rias sambil merapikan penampilannya. Biao yang sudah lebih dulu mandi terlihat sudah rapi. Pria itu duduk di sofa dengan posisi nyamannya. Satu tangannya mengotak-atik layar ponsel sambil menunggu wanita yang ia cintai selesai berdandan.


Alis Biao saling bertaut saat melihat jam yang sudah menunjukkan hampir delapan pagi. Hari ini memang mereka bangun sedikit terlambat. Biao ingin berlama-lama memeluk Sharin di pagi hari. Pria itu bahkan tidak mau melepas pelukannya hingga benar-benar telah puas. Baginya, jam berapa saja pergi ke S.G. Group tidak masalah.


Berbeda dengan Sharin. Wanita itu terlihat sangat panik dan takut saat melihat jam yang sudah siang. Ia mendorong Biao agar segera mandi sebelum Sharin sendiri mempersiapkan segala keperluannya ke kantor nanti.


Sejak pertemuan malam itu. Edo menghilang dari S.G. Group. Sepertinya pria itu benar-benar patah hati dan kecewa atas apa yang ia lihat. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan yang ada di luar kota. Hari ini adalah jadwal Edo kembali ke San Fransisco. Entah apa yang terjadi nanti di S.G. Group.


Sharin sendiri tidak terlalu peduli. Setelah pertemuan malam itu paginya Sharin langsung mencari Edo. Namun, ia tidak berhasil menemui pria itu apa lagi menjelaskan sesuatu yang sudah ia persiapkan. Hari ini juga hari yang di tunggu-tunggu Sharin untuk menjelaskan semuanya kepada Edo.


Keadaan S.G. Group juga sudah di penuhi kekacauan di sana-sini. Semua orang masih mengira Sharin wanita penggoda demi harta dan tahta. Walau cukup menyakitkan telinga, tapi Sharin tidak pernah mau mengambil serius masalah itu.


Biao sendiri sudah tidak bisa bersabar. Hal itu juga yang membuatnya tidak ingin terlalu pagi datang ke S.G. Group. Biao ingin semua karyawan S.G. Group semakin panas melihat kedekatannya dengan Sharin. Jika saja Sharin tidak melarangnya, mungkin ia sudah membuang karyawan dan karyawati S.G. Group yang sering bergosip tersebut.


Setelah selesai merias wajah, Sharin memakai sepatu high heelsnya. Wanita itu memilih sapatu warna hitam yang di padukan rok putih dan kemeja biru. Penampilannya terlihat sangat anggun. Setelah selesai memeriksa dirinya sekali lagi, Sharin mengambil tas miliknya.


Bibirnya mengukir senyuman sambil memandang Biao, “Sayang, ayo kita berangkat.”


Biao yang sejak tadi fokus dengan layar ponselnya kembali mengalihkan pandangannya. Bibirnya mengukir senyuman bahagia saat melihat penampilan cantik istrinya. Ia beranjak dari sofa lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Mengambil dasi yang belum ia pakai sejak tadi.


Biao sengaja ingin dipakaikan dasi oleh istri yang ia cintai. Sambil mengedipkan sebelah matanya Biao memberikan dasi itu kepada Sharin, “Kau terlihat sangat cantik.”


“Itu pujian yang selalu aku dapat ketika kau ingin aku pakaikan dasi,” jawab Sharin sambil mengambil dasi yang di berikan Biao. Wanita itu berdiri di hadapan Biao sambil memasang dasi di leher Biao. Wajahnya terlihat sangat serius memperhatikan dasi yang ia simpul. Bibirnya mengukir senyuman manis setelah dasi itu berhasil ia pasang dengan begitu rapi.


Sharin menggeleng pelan, “Bukankah kita sudah sepakat. Kau pergi menghadiri rapat di luar aku tetap di perusahaan untuk memeriksa semua pekerjaan yang belum selesai. Waktunya sudah sangat terbatas. Secepatnya kita harus menyelesaikan semuanya.”


“Bagaimana dengan karyawan S.G. Group. Mereka akan memperlakukanmu dengan buruk jika aku tidak ada di sampingmu.” Biao terlihat keberatan dengan ide Sharin saat itu. Selama satu minggu ini memang hari yang cukup berat untuk ia lewati. Bahkan, untuk foto copy yang seharusnya menjadi tugas sekretaris saja, sudah ia alihkan ke tugas Office boy.


“Aku baik-baik saja. Mereka melakukan hal yang benar. Setelah aku puas dengan apa yang telah aku capai, aku sendiri yang akan mengumumkan di depan semua orang. Kalau Presdir Bo yang mereka kagumi selama ini adalah suamiku,” jawab Sharin sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Biao. Wanita itu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir suaminya.


Biao hanya bisa menghela napas. Percuma saja, di perpanjang kayak manapun juga ia tetap kalah debat dari Sharin. Saat ini yang paling penting bagi Biao, Sharin tetap di depan matanya dan dalam keadaan sehat. Tidak ada hal lain yang jauh lebih penting selain dua hal tersebut.


“Ayo kita sarapan dan berangkat ke kantor,” ucap Biao sambil menggandeng pinggang Sharin. Lama kelamaan, sifat dan karakter Daniel melekat di dalam diri Biao. Mungkin itu salah satu efek karena terlalu akrab dan dekat dengan Daniel sejak ia kecil.


“Sayang, hari ini aku akan menemui Edo di kantor. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan. Setelah sekian lama aku perhatikan, Edo pria yang cukup baik. Ia tidak menceritakan apapun kepada karyawan di S.G. Group tentang keberadaanmu di apartemenku malam itu.” Sharin berjalan sambil memperhatikan seisi rumahnya.


“Hmm,” jawab Biao malas. Percuma saja ia bilang tidak setuju. Wanita itu juga akan membantah dan mungkin saja menemui Edo diam-diam. Biao ingin menghargai kejujuran istrinya. Jika hal itu tidak melebih batas, maka Biao tidak akan melarang istrinya, “Hanya lima menit.”


“Mungkn satu menit juga bisa jika suasananya pas,” sambung Sharin dengan tawa kecil.


Biao melirik wajah Sharin dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu menarik pinggang Sharin sebelum mengecup bibir istrinya. Tidak peduli kalau di sekitarnya kini ada banyak pelayan dan pengawal yang akan menonton adegan romantisnya.


Sharin sendiri hanya bisa pasrah dan membalas cumbuan singkat suaminya. Memang seperti itu tingkah laku suaminya. Menciumnya sesuka hati dimanapun dan kapanpun. Tapi, hal itu juga yang membuat Sharin menjadi kecanduan untuk selalu berada di dekat Biao. Memeluk dan menghirup aroma tubuh Biao membuatnya menjadi tunduk.


“Aku sangat mencintaimu,” ucap Biao saat dahinya telah melekat dengan dahi Sharin, “Jangan tinggalkan aku.”


“Tidak akan. Kau suamiku dan selamanya akan menjadi suamiku. Pria yang ku cintai seumur hidupku,” jawab Sharin dengan napas tersengal. Ciuman Biao selalu membuatnya menahan napas, “Apa bisa kita sarapan sekarang. Kita sudah kesiangan,” rengek Sharin dengan wajah memelas. Ia tidak akan lagi sanggup jika suaminya kembali menciumnya dan mengulur waktu.


Biao mengukir senyuman sebelum mengangguk setuju. Sepasang suami istri itu melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke arah meja makan untuk menyelesaikan sarapan pagi.