Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 69



“Paman Tampan!” teriak Sharin dengan suara yang cukup kuat. Wanita itu berlari kencang ke arah Biao tepat saat Mr. Paul melepas tembakannya. Peluru itu seperti berlomba dengan Sharin yang juga berlari untuk melindungi Biao. Setelah dekat dengan tubuh Biao, Sharin segera menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Biao. Peluru itu menancap di bagian punggung Sharin bagian atas. Dengan tetes air mata menahan sakit, Sharin memeluk Biao.


Sonia juga muncul di lorong itu. Ia kembali masuk ke dalam lorong bersama dengan Sharin. Melihat Sharin terluka, Sonia melepas tembakan ke arah lengan Mr. Paul. Wanita itu berjalan mendekati pria yang cukup ia kenal dekat itu. Satu tamparan ia daratkan hingga membuat wajah pria itu menyisakan kemerahan.


“Apa kau puas? Apa ini yang kau bilang cinta? Kau melukai wanita yang kau cintai dua kali!” teriak Sonia. Wanita itu mengepal kuat tangannya dengan perasaan geram dan di penuhi emosi, “Kau sudah gila, Paul!”


Mr. Paul mematung saat melihat Sharin terluka. Setiap tetes darah yang keluar dari lengannya tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya saat melihat Sharin berjuang keras melindungi Biao. Pria itu terlihat sedih dan sakit hati karena semua orang tidak ada di pihaknya. Dengan wajah kesal dan tidak bersabar lagi, Mr. Paul mendorong Sonia hingga wanita itu terjatuh dan kepalanya terbentur dinding. Ada bercak darah dan rasa perih yang di rasakan Sonia.


Beberapa pengawal Sonia segera mengambil tindakan dengan menodongkan senjata api ke arah Mr. Paul. Mereka siap mengeluarkan puluhan peluru ke arah Mr. Paul detik itu juga. Sonia menahan sakit sambil mengangkat satu tangannya. Wanita itu masih menahan serangan yang akan di lakukan bawahannya.


Mr. Paul menggertakkan giginya sebelum memutar tubuhnya. Pria itu pergi untuk menjauh dari kekacauan yang sudah ia perbuat. Sambil berjalan dan berlalu pergi, teriakan Sonia dan Biao kembali mengiang di telinganya. Pria itu semakin sedih dan terluka.


Mr. Paul tertawa kecil, “Kau benar Biao. Sakit yang kini aku rasakan jauh lebih menyakitkan daripada kematian.”


Sonia menatap punggung Mr. Paul yang semakin menjauh. Wanita itu memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.


“Nona, anda baik-baik saja?” ucap Seorang pria yang menjadi pengawal setia Sonia.


“Aku baik-baik saja. Kita harus segera membawa Biao dan Sharin ke rumah sakit,” ucap Sonia sambil berusaha beranjak dari posisi duduknya. Wanita itu di bantu oleh pengawalnya saat ingin berdiri.


Sharin dan Biao sama-sama memejamkan mata dengan posisi berpelukan. Air mata Sonia menetes saat melihat dua sejoli saling mencintai dan rela berkorban yang kini ada di depan matanya.


Lampu kembali menyala bersamaan hilangnya Mr. Paul. Sonia memutar tubuhnya untuk melihat ke arah perginya Mr. Paul, “Aku harap kau sadar dengan apa yang telah kau perbuat. Aku tidak ingin kau berbuat lebih parah lagi dan menyesalinya seumur hidupmu.”


Sonia dan beberapa bawahannya mulai mengangkat Biao dan Sharin. Pintu lift kembali terbuka, ada pengawal Biao yang ternyata sejak tadi terjebak di dalam lift. Pria itu juga berwajah panik saat melihat keadaan Biao dan Sharin di penuhi darah dan tidak sadarkan diri.


“Nona, apa yang telah terjadi. Di mana Mr. Paul,” ucap Pengawal itu dengan wajah panik.


“Aku akan mengurusnya nanti. Sekarang kita harus segera membawa Biao dan Sharin ke rumah sakit. Luka tembakan ini tidak terlalu parah, semoga Sharin baik-baik saja.” Sonia berjalan bersama yang lainnya menuju ke arah lift.


***


Rumah sakit. Beberapa jam kemudian.


Lagi-lagi di sebuah ruangan yang sama, mereka harus berkumpul. Ny. Edritz meneteskan air mata dengan wajah sedihnya. Wanita paruh baya itu ada di dalam pelukan Tuan Edritz.


“Maafkan aku,” ucap Sonia sebelum beranjak dari duduknya. Wanita itu menatap wajah pucat Biao sebelum melanjutkan langkah kakinya. Langkahnya terhenti saat melihat Mr. Paul berdiri di depan pintu. Wajah pria itu masih di penuhi luka bekas ia bertarung, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ke sini?” ucap Sonia bingung.


Tama dan yang lainnya beranjak dari kursi dengan wajah yang cukup waspada. Beberapa pengawal S.G. Group menodongkan senjata ke arah Mr. Paul.


“Katakan pada mereka berdua kalau aku mengaku kalah. Aku akan membiarkan mereka hidup berbahagia,” ucap Mr. Paul dengan ekspresi dinginnya. Pria itu melangkah lagi dengan wajah santai dan tidak ada beban sedikitpun. Ia tidak takut dengan ancaman senjata yang ada di belakangnya, “Aku tidak akan mengganggu merekal lagi.”


Sonia mengukir senyuman indah. Wanita itu memeluk Mr. Paul dengan tetes air mata, “Aku sangat bahagia mendengarnya. Kau akan mendapatkan wanita yang juga mencintaimu nantinya. Percayalah padaku, Paul.”


Mr. Paul melingkarkan tangannya untuk membalas pelukan Sonia. Baginya Sonia sudah seperti adik yang sejak dulu ia sayangi dan ia lindungi, “Di saat semua orang membenciku, kau tetap menyayangiku. Di saat semua orang menghindariku, kau tetap percaya padaku. Maafkan aku, Sonia. Aku telah membuatmu kecewa.”


Sonia menggeleng kepalanya dengan tangisan haru, “Setiap orang bisa memiliki kesalahan. Aku sangat bahagia karena kau telah berubah.”


Mr. Paul mengukir senyuman sebelum melepas pelukannya. Sorot matanya yang tajam kini menatap wajah semua orang yang memandangnya dengan waspada, “Sekarang,” perintah Mr. Paul kepada pengawal tersembunyinya.


Kepulan asap muncul hingga membuat semua orang tidak dapat melihat apapun. Termasuk Sonia. Wanita itu berusaha meraih tangan Mr. Paul agar tidak menjauh dari tubuhnya. Dokter Adit dan Dokter Sarah mencengkram kuat tangan Biao dan Sharin untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.


Hingga beberap saat kemudian, asap itu hilang bersama dengan Mr. Paul. Semua orang kembali bernapas lega saat melihat Sharin dan Biao masih ada di tempat tidur. Di bawah kaki Sharin ada buket bunga mawar berwarna pink dan sepucuk surat di atasnya. Sonia berjalan untuk mendekati buket bunga itu. Ia cukup tahu, kalau bunga itu adalah pemberian dari Paul, sahabatnya.


“Kemanapun kau pergi, aku harap kau akan menjadi pria yang jauh lebih baik dari sekarang,” gumam Sonia di dalam hati.


.


.


.


**Gak semua masalah harus di bantu Serena... kasian dia.. jaga anaknya aja kerepotan. Masa iya di suruh main tembak2 an lagi. 🤣


Aku Uda pernah bilang, novel ini gak lama ge tamatkan... 😁


Siapa yang setuju angkat tangan 🤣🤣**