
Biao menatap wajah Sharin dengan kesedihan. Berulang kali ia menyalahkan dirinya karena tidak berhasil melindungi istrinya dari bahaya. Pelukannya semakin erat. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Sharin karena merasa sangat bersalah.
Sharin yang masih memejamkan mata terlihat sangat nyaman duduk di atas pangkuan Biao. Wanita itu merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Bibirnya yang sempat pucat karena ketakutan kini telah kembali merah. Napas Sharin juga sudah terlihat normal kembali.
“Sayang, bangun. Jangan membuatku semakin khawatir dan merasa bersalah seperti ini,” ucap Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.
Pengawal Biao terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka ingin segera tiba di rumah sakit agar Sharin bisa mendapat pertolongan Dokter. Tapi, baru setengah jalan. Sharin sudah menimbulkan tanda-tanda akan sadar. Wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya secara perlahan.
“Paman tampan, apa ini kau?” ucap Sharin dengan tatapan yang belum jelas. Walaupun sudah menikah dengan Biao, sebutan paman tampan masih melekat abadi di dalam hatinya. Paman tampan adalah sapaan manja Sharin untuk Biao. Bukan satu sapaan yang membedakan seorang pria dengan keponakannya.
“Ya, Sharin. Ini aku, Biao,” jawab Biao dengan wajah bahagia. Pria itu mengusap lembut pipi Sharin, “Apa kau baik-baik saja?”
Sharin mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja. Maafkan aku karena sudah menyusahkanmu.”
Biao menatap pengawalnya, “Kenapa lama sekali tiba di rumah sakit.”
“Jangan,” ucap Sharin dengan suara lemahnya, “Aku ingin istirahat di rumah saja.”
“Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu,” tolak Biao dengan wajah yang cukup serius. Pria itu mengusap lembut lengan istrinya.
“Aku hanya ingin pulang. Semua akan baik-baik saja. Aku hanya ingin tidur di rumah.” Wajah Sharin terlihat memohon.
“Baiklah, jika itu permintaanmu.” Biao menatap pengawalnya, “Kita pulang ke rumah.”
“Baik, Tuan,” jawab pengawal itu. Ia kembali memutar arah mobilnya menuju ke rumah Biao dan Sharin yang berada tidak jauh dari taman golden gate.
***
Beberapa saat kemudian, mobil yang di tumpangi Biao dan Sharin telah tiba di depan rumah. Biao masih belum mau menurunkan istrinya. Pria itu menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan yang menyambut kedatangan Biao menunduk takut.
“Tuan, makan malam sudah disiapkan. Anda mau makan di meja makan atau di kamar?”
“Bawakan makan malamku ke kamar,” perintah Biao sebelum melanjutkan langkah kakinya. Kepalanya menunduk menatap wajah Sharin.
“Tidak. Aku akan menurunkanmu jika sudah tiba di dalam kamar.” Ucapan Biao tidak bisa terbantahkan lagi. Pria itu memperkuat gendongannya di tubuh Sharin sambil berjalan lebih cepat lagi.
Sharin mengalungkan kedua tangannya di leher Biao dengan bibir tersenyum bahagia. Posisi itu memang sangat nyaman. Sharin sendiri ingin berlama-lama ada di dalam gendongan Biao.
Tapi, ia juga merasa tidak enak jika di pandang dengan seluruh penghuni rumah. Walau posisinya sebagai seorang majikan, tapi tetap saja Sharin tidak ingin memamerkan kemesraannya di depan semua orang seperti itu.
Setelah tiba di dalam kamar, Biao meletakkan Sharin di atas tempat tidur. Pria itu duduk di tepian tempat tidur lalu memegang tangan Sharin. Wajahnya masih tetap terlihat khawatir, meskipun kini Sharin sudah terlihat baik-baik saja.
“Aku mau mandi dan istirahat,” ucap Sharin dengan suara yang pelan.
“Makan dulu,” ucap Biao sambil mengusap lembut punggung tangan Sharin.
Sharin mengangguk setuju. Wanita itu menatap ke arah pintu. Biao sengaja membuka pintu kamarnya agar pelayan bisa masuk dan membawa makanan untuk mereka.
Beberapa pelayan meletakkan aneka makanan di atas meja yang berada di dekat sofa. Pelayan-pelayan itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan kamar Biao dan Sharin.
“Ayo kita makan,” ajak Biao sambil menatap wajah Sharin.
“Suapin,” pinta Sharin dengan nada manja.
Biao mengukir senyuman sebelum beranjak dari tempat tidur. Pria itu mengambil makan malam untuk Sharin. Sambil membawa piring berisi makanan dan segelas air putih, Biao kembali berjalan ke tempat tidur.
“Maafkan aku karena tidak pulang tepat waktu,” ucap Sharin penuh rasa bersalah. Wanita itu menunduk karena tidak berani menatap wajah Biao.
“Jika kau sudah menyadari kesalahanmu, maka aku tidak akan marah lagi.” Biao mengambil sesendok nasi sebelum menyuapi Sharin. Ekspresi wajahnya yang sedingin es situ tidak lagi terlihat saat Biao menyuapi Sharin dengan bibir tersenyum.
Sharin membuka mulutnya. Ia sangat bahagia karena bisa makan dari suapan Biao. Wanita itu mengambil sesendok nasi lalu menyuapi Biao gantian. Dengan bibir tersenyum, Biao membuka mulutnya. Pria itu tidak ingin menolak sedikitpun suapan Sharin.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Mulai besok, sesibuk apapun urusanmu di kantor, jika aku harus meninggalkan S.G. Group kau harus tetap ikut.”
“Ya, baiklah,” jawab Sharin pasrah. Wanita itu tidak lagi bisa memiliki kesempatan untuk menolak. Kejadian di lift tadi sudah menjadi contoh, kalau Sharin tidak bisa berada jauh dari Biao. Memang pria itu yang selalu melindungi dan menjaganya.