
Dokter Adit menatap wajah Dokter Sarah dengan senyuman bahagia. Hari ini ia memiliki jadwal kunjungan atas rumah sakit miliknya yang ada di Amerika. Salah satunya kota San Fransisco. Sejak dulu Adit bukan hanya seorang Dokter. Tapi ia memiliki beberapa cabang rumah sakit yang tersebar di beberapa negara Besar.
Sudah hampir satu minggu terakhir ini rumah sakit cabang San Fransisco mengalami penurunan. Hingga akhirnya membuat Dokter Adit turun tangan langsung untuk melihat situasi yang sebenarnya terjadi.
Dokter Sarah adalah salah satu Dokter kepercayaan Adit yang selama ini mengawasi rumah sakit cabang San Fransisco. Sudah cukup lama Dokter Sarah bekerja di rumah sakit milik Adit.
Dokter Adit pernah menunjukkan foto sahabat terbaiknya yang berisi wajah Aldi, Sonia dan Tama. Hanya sekali Dokter Sarah melihat wajah Tama di dalam foto itu. Hal itu yang menyebabkan Dokter Sarah merasa kenal dengan Tama sejak pertama kali jumpa.
“Sarah, kau bilang mereka bertiga mengalami kecelakaan. Lalu dimana pasien yang satunya?” ucap Dokter Adit dengan wajah bingung.
“Ya, Dok. Pasien satu lagi adalah seorang wanita. Dari kartu identitas yang kami temukan ia bernama Sharin. Dari tiga pasien yang mengalami kecelakaan, hanya wanita itu yang memiliki luka tidak terlalu parah. Mungkin ia juga akan segera sadar.” Dokter Sarah menatap wajah Adit dengan seksama. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Biao lagi dengan tatapan menyelidik, “Lelaki ini di kenal dengan nama Presdir Bo. Apa dia memiliki nama lain yaitu Tuan Biao, Dok?”
“Ya. Dia memang Biao. Sahabat Tama. Mereka bekerja di satu perusahaan yang sama sejak dulu. Lalu, siapa tadi kau sebut? Presdir Bo?” tanya Adit bingung.
“Ya. Benar, Dok. Presdir Bo adalah pria yang cukup terkenal di kota ini. Ia tergolong pemimpin perusahaan yang cukup sukses di kota San Fransisco. Ia memimpin perusahaan bernama S.G. Group.”
“Ya. Memang di S.G. Group mereka bekerja. Aku sudah lama tidak mendapat kabar dari mereka sejak pindah ke Amerika. Dulu aku cukup sering bertemu dengan keluarga Edrits Chen. Bahkan aku juga di pilih menjadi Dokter Pribadi mereka saat itu.” Dokter Adit melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Dok, apa anda tidak ingin menemui pasien wanita itu?” ucap Dokter Sarah dengan wajah serius.
“Wanita itu?” Dokter Adit terlihat berpikir. Ia kembali memandang wajah Biao yang masih belum membuka mata.
“Tidak mungkin wanita itu memiliki hubungan dengan Tama. Karena kabar terakhir yang aku terima kalau Tama sudah menikah. Kalau Biao? Tidak mungkin juga Biao memiliki hubungan dengan wanita. Bukankah ia pria yang selalu menghindari wanita,” gumam Dokter Adit di dalam hati.
“Dok,” sapa Dokter Sarah. Wanita itu memecah lamunan singkat Dokter Adit.
“Sepertinya aku tidak perlu melihatnya. Aku hanya kenal dengan Tama dan Biao.” Dokter Adit mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, “Aku harus segera pulang. Tolong jaga kedua sahabatku ini, Dokter Sarah. Aku harap mereka aman berada di rumah sakit ini.”
“Baik, Dok. Saya akan meminta penjagaan di depan ruangan Tuan Tama dan Tuan Biao,” jawab Dokter Sarah dengan senyuman.
“Terima kasih,” ucap Dokter Adit sebelum melekatkan ponselnya di telinga. Lelaki itu ingin segera menghubungi Daniel untuk memberi kabar kecelakaan Tama dan Biao. Sambil berjalan ia menunggu sambungan teleponnya yang sejak tadi terus saja gagal. Lelaki itu duduk di kursi besi yang berada tidak jauh dari ruangan Tama.
Tatapan terhenti pada sosok pria berjas resmi yang juga duduk tidak jauh dari posisinya berada. Ada logo S.G. Group di jas lelaki itu. Sudah bisa di pastikan kalau lelaki itu ada di rumah sakit untuk menjaga Tama atau Biao saat ini.
Dokter Adit beranjak dari duduknya untuk mendekati pria berbadan kekar yang ada di hadapannya, “Apa kau pengawal S.G. Group?” tanya Adit dengan wajah menyelidik. Tadi ia baru saja menemukan seorang pria yang menyamar sebagai seorang perawat rumah sakit. Adit tidak ingin salah orang lagi. Bisa saja orang yang kini ada di hadapannya adalah musuh yang sedang menyamar.
“Kau bekerja untuk Biao?” tanya Adit dengan tatapan menyelidik.
“Benar, Tuan,” jawabnya pelan.
Adit memperhatikan lorong yang terlihat sunyi. Tidak biasanya pengawal S.G. Group hanya berjumlah satu orang. Biasanya paling sedikit berjumlah lima orang. Hal itu membuat rasa curiga Adit semakin besar, “Ruangan Biao ada di ICU. Kenapa kau berada di depan ruangan ini? Lalu kemana pengawal yang lainnya?” tanya Adit dengan wajah penuh selidik.
“Ruangan ini adalah ruangan Nona Sharin. Tuan Biao pernah memberi saya perintah, jika ia dalam kondisi seperti sekarang, saya harus bisa mewakili dirinya untuk melindungi Nona Sharin dari bahaya, Tuan.”
Adit memandang pintu ruangan yang kini di jaga oleh pengawal itu. Tiba-tiba saja hatinya menjadi penasaran atas sang pemilik nama yang sejak tadi ia dengar. Lelaki itu melangkah masuk ke dalam ruangan Sharin. Di ikuti pengawal S.G. Group dari belakang.
“Apa wanita ini kekasih, Biao?” tanyanya sambil berjalan.
“Saya tidak tahu bagaimana hubungan Tuan Biao dan Nona Sharin, Tuan. Tetapi sejak dulu Tuan Biao selalu melindungi Nona Sharin.” Pengawal itu berdiri di posisi yang tidak terlalu jauh dari tempat tidur Sharin. Ia menatap wajah Sharin yang masih memejamkan mata.
Dokter Adit berjalan mendekati Sharin. Lelaki itu memeriksa keadaan Sharin. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kondisi Sharin memang sudah jauh lebih baik.
“Wanita ini akan segera sadar. Ia hanya mengalamii syok karena kecelakaan. Apa kalian tidak ada di lokasi saat kecelakaan?”
“Tidak, Tuan. Kami sedang dalam misi penyelidikan Mr. Paul. Sejam setelah kami tiba di lokasi kami mendapat kabar kalau Tuan Biao mengalami kecelakaan. Di waktu yang bersamaan, kami juga mendapat serangan dari komplotan Mr. Paul. Hanya saya yang tersisa dan berhasil lari ke rumah sakit. Saya langsung menuju ruang Nona Sharin untuk menjaganya.”
“Mr. Paul? Siapa lagi itu?” ucap Adit semakin bingung.
Pengawal Biao terdiam beberapa saat. Lelaki itu kembali berpikir keras sebelum menceritakan sosok Mr. Paul kepada Adit. Belum sempat pengawal itu mengeluarkan suara, seorang suster menerobos masuk ke dalam ruangan Sharin.
“Dokter Adit, Dokter Sarah butuh bantuan anda. Tuan Biao kembali kritis,” ucapnya dengan wajah panik.
Tanpa banyak kata lagi Adit berlari kencang meninggalkan ruangan perawatan Sharin. Debaran jantungnya tidak lagi normal sat itu. Bahkan napasnya teras sesak dengan hati yang cukup pilu. Kini keadaan yang sangat ia takuti telah terjadi, “Kau harus tetap bertahan, Biao. Aku tahu kau lelaki yang cukup kuat.”
.
.
.
Besok siang kita up dua bab ya... terima kasih...