Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 94



Ayato. Pria asal Jepang yang terkenal sebagai pembunuh bayaran berdarah dingin. Aksinya belum pernah ada yang gagal sekalipun kecuali satu nama. Biao pernah menjadi targetnnya. Namun, ia gagal menewaskan pria tangguh itu. Bukan hanya gagal, bahkan wajah Ayato harus rusak dan membuat semua orang jijik melihatnya.


Satu penyerangan yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu membuat dendam di lubuk hati Ayato yang paling dalam. Kejadian itu terjadi di Sapporo, sekitar pukul Sebelas malam.


Biao yang saat itu harus kembali ke S.G. Group sendirian, tampak tenang dan tidak memiliki beban sedikitpun. Sahabat terbaiknya Tama, harus pergi keluar kota untuk menyelesaikan masalah di kantor cabang.


Tidak di sangka, di tengah perjalanan menuju ke S.G. Group ia di hadang oleh beberapa mobil. Semua penghuni mobil keluar dan menodongkan senjata api. Bahkan sebagian lainnya memainkan senjata tajam dan siap mengoyak lapisan kulit tubuh Biao.


Dengan wajah tenang dan santai Biao keluar dari dalam mobil. Sejak kecil memang tidak ada yang ia takuti. Ia cukup yakin dan percaya kalau ilmu bela dirinya hebat dan tidak terkalahkan.


Sambil melipat lengan kemejanya, kedua manik hitam yang tajam itu memandang musuhnya dengan tatapan membunuh. Seorang pria yang menjadi pimpinan geng maju lebih dulu untuk menyambut kedatangan Biao.


“Selamat malam, Biao. Senang bertemu dengan anda.” Ayato melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum simpul menghina.


“Siapa anda?” ucap Biao tanpa berkedip. Sorot matanya yang tajam terlihat menyelidiki penampilan semua orang dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Anda tidak perlu mengenal saya. Karena sebentar lagi ingatan anda itu tidak akan berfungsi dengan baik lagi,” ucap Pria itu mencela. Satu tangannya bergerak sebagai kode kepada anak buahnya.


Pria berpakaian hitam-hitam itu maju dan sebagian berusaha menembak ke arah Biao. Dengan gerakan cepat Biao berhasil menghindari sambaran peluru yang mencoba mengincar bagian tubuhnya. Kakinya ia layangkan ke wajah para pria yang berusaha menusuknya.


Beberapa belati yang di genggam pria-pria itu terpental jauh. Hal itu tentu memudahkan Biao untuk menyerang lebih jauh lagi. Biao melompat lalu memberi pukulan bertubi-tubi kepada musuhnya.


Tidak ada satu orangpun yang luput dari serangannya. Sekali pukulan saja Biao mampu melumpuhkan lima orang dalam satu tendangan. Hingga tidak butuh waktu yang lama, semua orang tergeletak dalam keadaan tidak berdaya.


Ayato membuang salivanya dengan tatapan menghina. Kini gilirannya untuk menghadapi Biao secara langsung. Tidak pernah ia sangka, kalau targetnya kali ini bukan pria biasa. Bahkan ilmu bela dirinya cukup di pertanyakan, bisa atau tidak melawan Biao.


Ayato memegang sebuah belati lalu memainkannya di depan Biao. Tubuhnya sedikit membungkuk sebagai posisi pembuka sebelum penyerangan. Ada senyum tipis dibalik sorot matanya yang tajam.


Sedangkan Biao, pria itu justru menaikan satu alisnya saat melihat gerakan Ayato. Dengan santainya ia berjalan mendekati posisi musuhnya berada. Tanpa aba-aba Biao memutar tubuhnya dan mengangkat satu kakinya ke atas. Gerakan Biao berhasil membuat Ayato merasakan sakit yang luar biasa pada bagian wajahnya.


Ayato tidak mau kalah secepat itu. Ia di bayar dengan nilai yang cukup fantastis jika bisa membunuh Biao malam itu. Seseorang saingan perusahaan Daniel terlihat tidak suka jika Biao selalu ada untuk mendampingi Daniel. Hingga akhirnya mereka mencari pembunuh bayaran dan berniat membunuh Biao sebelum Daniel yang menjadi target selanjutnya.


Ayato adalah pembunuh yang di pilih oleh pengusaha yang tidak di ketahui namanya itu. Sejak dulu, Ayato memang terkenal dengan kekejamannya. Bukan hanya sebagai pembunuh bayaran. Ayato juga pemimpin yakuza paling sadis yang ada di Jepang.


Ayato memainkan senjatanya di areal leher Biao. Tentu saja tanpa pikir panjang lagi pria itu akan mengincar urat-urat kehidupan yang terselit rapi di balik kulit leher Biao. Namun, gerakannya lagi-lagi harus tertahan.


Satu kaki Biao terangkat ke atas untuk menendang bagian vital pria itu. Pada akhirnya kosentrasi Ayato tidak lagi ada di belati itu. Ia meringis kesakitan saat senjata pusakannya berhasil menjadi korban tendangan Biao.


Biao menendang lagi tubuh Ayato tanpa ampun. Walau Biao bukan siapa-siapa. Tapi ilmu bela dirinya cukup hebat bahkan jika di bandingkan dengan pemimpin Yakuza seperti Ayato.


“Berpikirlah dua kali sebelum berniat mencelakaiku,” ucap Biao dengan nada pelan namun tetap saja mengerikan. Pria itu melepas kedua tangannya yang sempat menggenggam baju Ayato.


Biao mengukir senyuman sebelum mengeluarkan sebuah korek api dari dalam jasnya. Ayato melebarkan matanya saat melihat bahan bakar dari mobilnya ada yang tumpah Tembakan demi tembakan dari anak buahnya memang telah berhasil membuat salah satu mobil mengeluarkan bahan bakar yang ada di dalamnya.


Tubuh Ayato sulit untuk bergerak. Namun, pria itu berusaha keras agar terhindar dari ledakan yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya, api itu menyala dengan begitu mengerikan.


Biao memandang ke arah kobaran api sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu melanjutkan perjalanannya menuju ke S.G. Group dengan ekspresi wajah biasanya. Bukan hanya sekali. Sudah berulang kali ia menghadapi pria seperti Ayato sebelumnya.


Sedangkan kondisi Ayato sendiri, pria itu harus mengalami luka bakar yang mengerikan walau nyawanya akhirnya selamat. Sejak itu dendam Ayato mulai tersimpan di dalam hati. Ayato tahu bagaimana kekuatan hebat yang di miliki Biao.


Maka dari itu, Ayato memutuskan untuk memulihkan dirinya dan membentuk pertahanan yang kuat sebelum nantinya ia memutuskan untuk balas dendam. Hari ini saat pertemuan mereka di restoran, menjadi awal pertemuan antara Ayato dan Biao sejak dua tahun terakhir.


Di sebuh gudang yang tidak terawat, Ayato berdiri di depan pasukannya. Pria itu mencengkram kuat tangannya saat membayangkan kejadian buruk yang pernah menimpah hidupnya. Pria itu melepas topeng kakek tua yang sejak tadi ia pakai untuk mengelabuhi Biao dan pengawalnya.


Seorang pria berbadan kurus berjalan mendekati Ayato. Pria itu membungkuk hormat sebelum mengeluarkan kata, “Mereka akan mengadakan pertemuan di sebuah hotel berbintang besok malam, Bos.”


Pria yang di sapa Kagawa itu adalah tangan kanan Ayato. Kemampuan bela dirinya tidak lagi bisa di ragukan. Kagawa sendiri memiliki kemampuan menghilang dan menghindar saat pertarungan berlangsung. Bukan hanya itu, Kagawa juga memiliki kemampuan menembak yang tidak tertandingi. Bahkan dengan memejamkan mata saja, ia bisa menembak lawannya dengan tepat sasaran tanpa meleset satu centipun.


“Susun strategi. Kita akan melakukan penyerangan besok,” ucap Ayato sambil membersihkan sebuah senjata api menggunakan kain putih yang sangat lembut, “Aku ingin pria itu juga merasakan apa yang pernah aku rasakan.”


Senyum simpul mewakili perasaan Kagawa. Pria itu tidak lagi bersabar untuk menunggu hari esok. Ia ingin segera melakukan penyerangan dan mengalahkan Biao dengan kemampuan yang ia miliki.


“Baik, Bos.” Kagawa membungkuk hormat sebelum memutar tubuhnya. Pria itu pergi meninggalkan Ayato sendirian di tempat itu.


Ayato memandang kepergian Kagawa dan pasukan Yakuza miliknya. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, “Biao, besok adalah tanggal terakhirmu menghirup udara segar di dunia ini.”


Gak tau kapan bisa crazy up. 😌