Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 30



Biao membawa Sharin makan siang di sebuah restoran mewah. Lelaki itu memilih beberapa makanan yang menjadi menu utama di restoran yang ia kunjungi. Wajahnya cukup bahagia saat membayangkan indahnya makan siang bersama Sharin.


Di depan meja, Sharin menatap wajah Biao dengan seksama. Sesekali wanita itu menjahili Biao dengan cara menggodanya. Sharin mengedipkan kedua matanya berulang kali hingga memamerkan wajahnya yang imut.


“Apa kau tidak lelah berkedip seperti itu?” ucap Biao setelah selesai memesan menu untuk makan siangnya bersama Sharin.


Pelayan yang berdiri di samping meja membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Biao dan Sharin.


“Sayang, siang ini kau terlihat cukup tampan,” goda Sharin dengan senyuman. Wanita itu memang sangat suka melihat wajah Biao yang salah tingkah.


“Sayang?” celetuk Biao kaget. Tiba-tiba saja sapaan itu kembali mengingatkannya dengan Daniel. Begitulah cara lelaki itu menyapa istrinya selama ini. Ada rasa aneh di dalam hati Biao saat itu.


“Apa Paman tampan tidak suka jika aku memanggil Sayang?” ucap Sharin dengan wajah sedih.


“Bukan begitu, Hanya saja ....” Biao menahan kalimatnya. Cukup sulit baginya untuk mengatakan kalau sapaan itu membuatnya sedikit tidak nyaman, “Sapaan itu mengingatkanku dengan Tuan Daniel.”


“Baiklah, Presdir Bo. Aku akan memanggil anda seperti itu mulai dari sekarang.” Sharin mengambil ponselnya. Wanita itu mengotak-katik layar ponselnya dengan wajah marah.


“Sharin. Apa kau marah padaku?” ucap Biao dengan wajah penuh rasa bersalah.


“Aku tidak bisa marah padamu bukankah kau adalah atasanku?” Sharin kembali melanjutkan kegiatannya pada ponsel yang ada di genggaman.


“Sharin, aku akan memanggilmu dengan sebutan lain. Tapi tidak kata itu.” Biao memasang wajah cukup serius. Ia siap menunggu Sharin untuk memberi pilihan kedua saat itu.


“Benarkah?” tanya Sharin dengan wajah berseri.


“Ya,” jawab Biao pelan. Tiba-tiba saja Biao merasakan firasat buruk saat itu. Senyuman kekasihnya terlihat sangat mencurigakan.


“Apa Paman tampan yakin?” ucap Sharin sekali lagi. Satu jarinya menunjuk ke arah Biao dengan senyuman penuh arti.


“Sharin, apa yang kini memenuhi isi kepalamu itu. Kenapa sejak dulu kau sangat suka mengerjaiku.” Biao menggeleng kepalanya.


“Aku tidak mengerjaimu, Presdir Bo. Aku hanya ingin kau bersikap lembut seperti lelaki pada umumnya. Tidak menyeramkan seperti biasanya.” Sharin kembali berpikir dengan ucapan yang ia pilih untuk sebutan sayang di antara mereka. Tapi, ia tidak berhasil menemukannya. Semua sapaan yang sering di sebutkan orang-orang pada umumnya terlalu bosan untuk ia dengar.


“Apa kau tidak berhasil menemukannya?” Biao tahu perubahan sikap Sharin saat itu. Lelaki itu mengukir senyuman saat cukup yakin, kalau Sharin tidak berhasil mengerjainya lebih dalam lagi.


“Ya. Anda menang hari ini. Sepertinya hanya panggilan paman tampan yang pantas untuk wajahmu itu,” ucap Sharin sambil menopang kepala dengan tangan.


Biao menggeleng kepalanya saat mendengar jawaban Sharin. Hanya dengan makan siang bersama Sharin sudah bisa membuatnya tertawa bahagia.


“Pindah?” ulang Sharin.


“Ya. Kau bisa tinggal di apartemen yang sama denganku. Aku akan membeli satu kamar untukmu,” jawab Biao penuh keyakinan.


“Jangan. Aku tidak mau pindah. Aku sangat suka tinggal di apartemen yang sekarang,” tolak Sharin. Wanita itu memang tidak pernah ingin pindah dari tempatnya saat ini. Apartemen dan seluruh penghuninya sudah menjadi satu kesatuan di dalam hatinya. Ia merasa memiliki keluarga di tempat itu.


“Baiklah. Jika kau tidak setuju, aku tidak akan memaksamu.”


Biao memandang tiga pelayan yang menuju ke mejanya. Ada yang membawa minuman ada juga yang membawa makanan. Pelayan-pelayan restoran itu menata rapi hidangan yang telah dipesan Biao di atas meja.


Ada makanan berkuah dan bersaus yang tersaji di atas meja itu. Semua cukup menggugah selera. Minuman dingin yang ada di hadapan mereka juga seperti memiliki daya tarik sendiri agar segera di nikmati.


“Silahkan, Tuan,” ucap pelayan itu sebelum pergi meninggalkan meja yang di duduki Sharin dan Biao.


Setelah pelayan-pelayan itu pergi. Biao dan Sharin memulai makan siang mereka. Perut mereka terasa cukup lapar. Dengan gaya yang cukup elegan Biao dan Sharin melahap makan siang mereka.


Baru beberapa suap makanan itu masuk ke dalam mulut. Ponsel milik Biao berdering. Lelaki itu meraih ponselnya dari saku. Dahinya mengeryit saat melihat nama Daniel yang terukir di layar ponselnya.


“Tuan Daniel?” ucpa Biao pelan.


Sharin memandang wajah Biao sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Wanita itu cukup penasaran dengan telepon Daniel yang terkesan mendadak.


“Baik, Tuan.” Biao memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Wajahnya berubah sedih saat itu. Bahkan selera makannya hilang begitu saja. Biao memandang wajah Sharin dengan tatapan sendu. Baru saja hari ini ia merasa memiliki wanita itu.


“Paman tampan, ada apa?” tanya Sharin dengan wajah bingung.


“Sharin, Tuan Daniel memintaku untuk kembali ke Sapporo. Ada beberapa hal yang membuatnya sangat butuh bantuanku.” Biao meraih tangan Sharin yang tergeletak di atas meja, “Hanya dua hari. Apa kau akan marah padaku?”


Sharin menggeleng kepalanya pelan. Bibirnya mengukir senyuman manis, “Tentu saja aku tidak marah. Aku memang merasa sedih karena harus berpisah denganmu. Tapi itu hanya dua hari. Aku pasti bisa menunggu.”


Biao mengukir senyuman, “Terima kasih, Sharin. Kau sudah mengerti dengan keadaanku saat ini. Aku bekerja di bawah aturan yang diberlakukan oleh Tuan Daniel. Kapanpun ia membutuhkan bantuanku, maka aku harus membantunya.”


“Ya, aku mengerti. Sekarang mari kita lanjutkan makan siangnya. Makanan ini cukup mahal. Akan sangat sayang jika kita tidak menghabiskan semuanya.” Sharin melanjutkan makan siangnya. Walaupun hatinya kini diselimuti kesedihan.


Biao juga melanjutkan makan siangnya. Hanya dengan melihat senyuman Sharin, sudah bisa membuat selera makannya kembali lagi, "Aku sangat beruntung bisa memiliki wanita seperti dirimu, Sharin," gumam Biao di dalam hati.


Bab selanjutnya up jam 12 siang. Terima kasih.