
Sharin duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel miliknya. Ia kembali membuka galeri foto yang berisi foto saat musim salju di Sapporo. Bibirnya mengukir senyuman bahagia. Sejak dulu ia memang sangat kagum dengan Biao. Sifat dingin dengan senyum langkah itu selalu membuatnya terbang melayang. Sharin sendiri tidak menyangka kalau kini Biao bisa berubah menjadi pria murah senyum dan bisa bercanda. Ibarat musim salju yang terganti dengan musim semi.
“Paman Tampan, terkadang aku sedikit menyesal karena tidak menerima lamaranmu waktu itu. Tapi, terkadang aku juga bersyukur. Karena dengan bertemu dirimu di masa sekarang. Aku juga jadi tahu, bagaimana rasanya takut kehilangan.”
Sharin mematikan layar ponselnya. Dua bola matanya memandang tempat tidur Biao yang masih kosong. Sudah hampir satu jam lebih ia menunggu di ruangan itu sendirian. Hatinya lagi-lagi harus di penuhi rasa cemas atas keadaan Biao yang tidak tahu akan baik-baik saja atau tidak.
Sharin menghela napas sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Wanita itu bersandar dengan posisi nyaman sambil memandang keluar jendela. Tiba-tiba saja ia ingin berjemur di bawah matahari. Sudah cukup lama tubuhnya tidak terkena sinar matahari langsung.
“Apa aku boleh keluar dari kamar ini?” ucap Sharin dengan nada pelan.
Sharin menurunkan kakinya satu persatu. Tama bilang kalau rumah sakit itu masih di jaga oleh pengawal S.G. Group. Hati Sharin bisa sedikit lega saat ingin keluar dari dalam kamar tersebut.
Pintu terbuka saat Sharin sudah berdiri di samping tempat tidurnya. Biao duduk di sebuah kursi roda dengan perban yang sudah terganti. Pria itu mengeryitkan dahinya saat melihat Sharin berdiri.
“Apa yang kau lakukan, Sharin?”
Dokter Adit menghela napas kasar saat melihat pasiennya yang satu lagi tidak juga bisa berdiam diri. Sambil menatap wajah Sharin, Dokter Adit mendorong kursi roda Biao.
“Nona Sharin, apa anda memiliki niat untuk kabur dari kamar ini?” tanya Dokter Adit dengan senyum tipis.
“Hmm, aku hanya bosan di kamar seperti ini. Aku ingin ke atas untuk menikmati sinar matahari pagi.” Sharin mengukir senyuman lalu berjalan mendekati Biao, “Paman Tampan mau ikut?”
Dokter Adit mengukir senyuman sebelum melepas kursi roda Biao, “Ide yang bagus. Kulit kalian terlihat pucat karena tidak lagi pernah terkena cahaya matahari. Aku akan menginjinkan kalian untuk berjemur di atas.”
Biao mendongakkan kepalanya untuk memandang Adit yang berdiri dibelakangnya, “Terima kasih, Adit. Aku minta beberapa pengawal untuk melindungi Sharin.”
“Bukan hanya Sharin, aku akan meminta seisi rumah sakit ini untuk melindungimu dan Sharin,” jawab Dokter Adit.
“Terima kasih, Dokter Adit.” Sharin mengambil alih kursi roda Biao saat Adit telah menjauh, “Kami pergi dulu, Dok.” Secara perlahan Sharin mendorong kursi roda Biao. Wanita itu cukup tahu, kalau kekasihnya belum boleh terlalu banyak gerak.
“Apa aku tidak boleh berjalan saja?” ucap Biao smabil menghentikan kursi rodanya. Ia sempat perpikir kalau kekasihnya akan kelelahan jika mendorong kursi roda itu sendirian.
“Tidak,” jawab Adit dan Sharin secara bersamaan, “Kau belum boleh banyak gerak!” sambung mereka sekali lagi secara serempak.
“Ya. Aku akan menurut untuk hal yang satu ini. Aku juga ingin cepat sembuh agar bisa menikah dengan wanitaku,” jawab Biao sambil mengukir senyuman.
Adit mengangguk pelan sambil mengukir senyuman. Sama halnya dengan Sharin yang terlihat menahan tawa. Setelah Adit membantu membukakan pintu, Sharin mulai mendorong kursi roda Biao. Ia berjalan untuk menuju ke arah lift. Beberapa pengawal S.G. Group yang berdiri di depan kamar juga mengikuti Sharin dan Biao dari belakang.
Salah satu pengawal setia Biao juga ada di antara rombongan pengawal tersebut. Ia meminta ijin kepada Sharin untuk mendorong kursi roda Biao. Akan tetapi, wanita itu tetap keras kepala. Ia ingin mendorong kursi roda Biao sendirian.
Perdebatan itu lagi-lagi harus terjadi saat mereka bertiga ada di dalam lift.
“Lukanya sudah tidak sakit lagi. Aku baik-baik saja,” ucap Sharin yang masih teguh pada pendiriannya.
Sharin menatap wajah pengawal tersebut dengan rasa kesal. Bibirnya harus maju ke depan seperti seekor itik karena kini tidak ada yang membelanya lagi.
Pintu lift terbuka. Sharin berjalan lebih dulu untuk meninggalkan Biao bersama dengan pengawalnya. Alangkah kagetnya ia saat Biao menarik tangannya, hingga akhirnya Sharin duduk di atas pangkuan Biao.
“Kau bisa mendorongnya sekarang,” perintah Biao.
“Baik, Tuan.” Pengawal itu terlihat mengukir senyuman sebelum mendorong kursi roda Biao.
Sharin yang ada di atas pangkuan Biao melebarkan matanya. Bibirnya ingin protes atas tindakan sepihak yang di putuskan oleh Biao. Ia juga ingin melompat dari kursi roda itu, tapi takut Biao terjatuh bersama dengannya.
“Paman Tampan, apa yang kau lakukan? Semua orang akan melihat ke arah kita nanti,” ucap Sharin dengan wajah memerah.
“Kita sama-sama pasien. Kau jangan berakting seolah pengunjung,” jawab Biao sambil mempererat pelukannya. Ia tidak ingin Sharin turun dari kursi roda tersebut.
Sharin menunduk malu sebelum mengukir senyuman manis. Hatinya juga merasa bahagia dan berbunga-bunga saat duduk di atas pangkuan Biao seperti itu.
Setelah beberapa menit melewati lorong rumah sakit, Biao dan Sharin tiba di atas atap. Pengawal yang mendorong kursi roda Biao juga sudah menjauh untuk memberi kesempatan kepada sepasang kekasih itu untuk berduaan.
Sharin sudah turun dari pangkuan Biao. Wanita itu mendorong kursi roda Biao agar berada di pinggiran gedung. Pemandangan kota San Fransisco terlihat sangat indah. Angin bertiup kencang hingga membuat rambut Sharin berterbangan. Sayangnya, wanita itu mengenakan pakaian pasien dengan celana panjang. Jika saja ia mengenakan gaun indah seperti yang ia pakai selama ini maka terpaan angin akan membuatnya semakin terlihat sempurna.
Biao mengukir senyuman dan merasa cukup tenang saat matahari menghangatkan tubuhnya. Secara perlahan ia menghirup udara segar sambil memejamkan mata.
“Tempat ini sangat indah,” ucap Sharin sambil memperhatikan pasien lain yang juga memilih berjemur pagi itu. Atap rumah sakit itu memang di desain seindah mungkin. Bukan hanya pagi. Pada malam hari, atap itu juga kerap di kunjungi untuk melihat keindahan kota San Fransisco di malam hari.
Biao membuka matanya secara perlahan. Pria itu menatap wajah cantik kekasihnya dengan seksama. Hatinya terasa tenang hingga ia tidak bisa lagi mengungkapkannya dengan kata-kata.
“Sharin, I love you,” ucap Biao dengan suara pelan namun tetap bisa di dengar dengan jelas oleh Sharin.
Sharin memutar tubuhnya untuk memandang wajah Biao. Wanita itu berjalan mendekati Biao lalu berdiri di belakang kursi roda. Tubuhnya membungkuk untuk memeluk Biao dari belakang, “I love you to, Paman Tampan.”
Sharin mendaratkan satu kecupan mesra di pipi Biao. Wanita itu benar-benar bahagia bisa melewati masa-masa indah seperti ini bersama dengan pria yang ia cintai.
Sepasang kekasih itu menikmati keindahan kota San Fransisco dari atas atap sambil menikmati cahaya matahari yang menghangatkan tubuh. Mereka terlihat sangat romantis dan penuh dengan cinta. Sesekali Biao menjahili Sharin agar bisa mendengar rengekan manja wanitanya.
“Paman tampan, Aku akan menyimpan dendamku sampai kau sembuh,” celetuk Sharin dengan wajah kesal.
Biao tertawa kecil saat mendengar rengekan Sharin, “Kemarilah.” Satu tangan Biao mencengkram tangan Sharin. Membawa wanita itu mengitari kursi roda hingga akhirnya berdiri di hadapannya.
“Apa yang kau inginkan kali ini? Apa kau belum puas meledekku sejak tadi?” ucap Sharin sambil menatap wajah Biao dengan seksama.
Biao lagi-lagi menarik tangan Sharin hingga wanita itu duduk di atas pangkuannya. Tanpa permisi Biao mendaratkan bibirnya di bibir Sharin. Ciumannya yang hangat terasa lembut dan penuh perasaan. Sharin mengalungkan tangannya di pinggang Biao dengan hati yang bahagia. Adegan romantis itu harus terjadi cukup lama hingga membuat sepasang kekasih itu tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar.