
Pagi yang cerah di hari pertama pernikahan Biao dan Sharin. Biao mulai bangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang terus saja bermain di bagian dadanya. Pria itu membuka mata secara perlahan untuk mengintip apa yang terjadi. Senyumnya tertahan saat melihat tangan Sharin ada di atas dadanya dan sibuk merem*as seolah dadanya adalah boneka. Tawanya yang sempat tertahan berbah menjadi wajah frustasi.
Di saat tubuh bagian bawah Biao terlihat bersemangat. Ia justru harus menahan gairahnya. Tidak hanya itu. Sudah cukup sulit untuk menahan. Kini, tangan istrinya sibuk bermain di dadanya hingga membuat godaan yang cukup sulit untuk dihindari.
Biao menghela napas dengan wajah frustasi. Secara perlahan, ia menyingkirkan tangan Sharin agar tidak ada lagi di atas dadanya. Tidak di sangka, setelah tangan ia singkirkan. justru berganti dengan kaki Sharin yang kini ada di atas tubuhnya bagian bawah.
Biao harus mengerang di dalam hati dengan mata terpejam. Karena sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan istrinya. Ia berniat untuk membangunkan Sharin agar wanita itu tidak terus-terusan menggodanya.
Biao memegang kedua lengan Sharin sebelum memutar tubuhnya. Hingga akhirnya tubuh Baio ada di atas tubuh Sharin dengan napas tersengal. Hanya menahan hasrat sudah bisa membuatnya berkeringat hingga terlihat sepeti orang yang habis lari maraton.
Sharin membuka matanya dengan cepat saat merasakan tubuh Biao ada di atas tubuhnya. Ia sangat syok hingga ingin berteriak dengan kuat. Namun, mulutnya lebih dulu di kunci oleh Biao. Hingga suara dengan nada tinggi yang telah ia persiapkan telah gagal terucap.
Detik itu Sharin sadar kalau ia telah menikah dengan Biao. Hari ini adalah hari pertama pernikahan mereka. Walau malam pertama mereka tidak seindah malam pertama pengantin baru pada umumnya.
Sharin mulai menikmati morning kiss Biao pagi itu. Bahkan bibirnya juga mengukir senyuman dan secara spontan mengalungkan tangannya di leher Biao. Tindakannya bukan membuat Biao semakin bersemangat, justru Biao menghentikan cumbuan paginya.
Biao menatap wajah Sharin dengan mata berkabut, “Apa kau sudah siap?”
Sharin tertegun dengan kalimat yang baru saja ia dengar, “Tidak!” Tiba-tiba saja wanita itu mengumpulkan seluruh tenaga dan mendorong tubuh Biao agar menjauh darinya.
Biao tertidur di sisi lain dengan tawa ceria. Pria itu sudah cukup tahu dengan apa yang kini di pikirkan oleh istrinya. Suaranya yang cukup kencang berhasil memenuhi isi kamar hotel yang mereka tiduri, “Kau yang menggodaku tadi, Sharin.”
“Paman tampan, kau berjanji untuk menungguku hingga aku siap. Lalu kenapa pagi ini kau ada di atas tubuhku,” protes Sharin dengan wajah memerah. Wanita itu menutupi tubuhnya dengan selimut seolah menutup dirinya dari pria yang ingin berbuat jahat terhadap dirinya.
“Aku tidak melakukan apapun. Aku sudah bilang sejak awal. Kau yang menggodaku lebih dulu,” jawab Biao masih dengan tawa kecil yang sesekali terdengar jelas.
Sharin kembali mengingat apa yang ia lakukan. Tapi, ia tidak juga sadar dengan semuanya. Lagi-lagi Sharin menyangkal dan menuduh Biao dengan segala tuduhan yang tersimpan di dalam hatinya.
“Sayang, kenapa kau tidak percaya padaku. Jika memang ingin melakukannya. Aku sudah memaksamu hingga tadi malam. Bukankah kau sendiri yang bilang, jika aku sudah tidak bisa menahannya kau akan siap kapanpun.” Biao menarik tangan Sharin hingga wanita itu terjatuh di atas dadanya. Dengan senyuman, Biao meletakkan tangan Sharin di atas dadanya, “Tanganmu bermain di sini sedangkan kakimu bermain di bawah.”
Wajah Sharin memerah saat mendengar kalimat yang di ucapkan Biao. Wanita itu menenggelamkan wajahnya lebih dalam lagi di tubuh Biao. Ia cukup malu bahkan tidak berani mengeluarkan kata protes maupun kata pembelaan.
“Apa itu artinya, kau percaya padaku?” bisik Biao di telinga Sharin.
Sharin mengangguk tanpa mau memandang. Satu tangannya memeluk tubuh Biao dengan hati bahagia, “Maaf.”
Biao mengukir senyuman lalu memeluk tubuh istrinya, “Tidak apa-apa. Semua sudah kembali normal. Aku sangat mencintaimu.”
Hari pertama pernikahan Sharin dan Biao di lalui dengan canda tawa di tempat tidur. Satu adegan yang tidak sama dengan apa yang di bayangi semua orang. Semua orang di restaurant hotel telah berkumpul untuk sarapan.
Serena, Daniel, baby kembar, Tuan Edritz, Nyonya Edritz, Tama, Anna, Adit, Diva, Aldi dan Sonia. Mereka semua berkumpul untuk sarapan bersama sebelum berpisah. Pengantin baru yang mereka tunggu sejak tadi tidak juga muncul. Tidak ingin mengganggu Biao dan Sharin, mereka semua memilih untuk sarapan lebih dulu.
“Ma, Mama selalu mengatakan cucu saat di hari pertama pernikahan putra kita. Cucu kita tidak bisa di dapatkan hanya dengan sekali usaha. Butuh usaha hingga berulang kali baru bisa terjadi. Bukankah begitu Daniel?” Tuan Edritz memandang wajah Daniel dengan senyuman penuh arti.
Daniel memandang wajah Serena sebelum menjawab pertanyaan Tuan Edritz, “Daniel setuju sama Papa. Harus jauh lebih giat dan penuh kesabaran ekstra. Apalagi kalau wanitanya seperti Serena.”
Serena menatap wajah Daniel sebelum mendaratkan satu cubitan di perut suaminya, “Apa kau puas sudah berhasil meledekku?”
“Tidak, Sayang. Ampun,” ucap Daniel memohon.
Semua orang yang melingkari meja tertawa dengan penuh ceria. Pasangan Serena dan Daniel memang memiliki kisah hingga membekas dan sulit untuk di lupakan. Cukup wajar jika mereka sekarang sangat bersyukur bisa melihat Daniel dan Serena seharmonis ini.
“Oiya, dimana Zeroun?” tanya Daniel dengan tatapan mencari.
“Zeroun sudah pergi. Ada urusan yang cukup penting hingga ia tidak memiliki banyak waktu untuk berlama-lama di San Fransisco,” jawab Serena.
“Sebaiknya kita mulai sarapan paginya,” ucap Tuan Edritz.
Setelah mendengar kalimat yang di ucapkan Tuan Edritz, suasana meja itu berubah hening. Tidak lagi terdengar suara selain benturan piring kaca dan sendok hingga ocehan lucu baby Al dan baby El. Nyonya Edritz sendiri kesulitan untuk mengontrol tawanya saat melihat dua cucunya yang cukup menggemaskan.
“Maaf. Apa kami terlambat?” ucap Biao yang tiba-tiba saja muncul di restaurant tersebut. Ada Sharin di samping Biao. Pengantin baru itu berwajah berseri dan penuh semangat.
“Tidak, sayang. Kemarilah.” Ny. Edritz memberi perintah kepada Sharin dan Biao untuk duduk di sampingnya. Memang sejak awal, kursi itu ia persiapkan untuk Sharin dan Biao. Ia ingin ada di dekat Sharin sebelum pulang nanti siang.
Sharin dan Biao berjalan menuju ke arah kursi yang telah di sediakan. Sepasang suami istri itu memandang wajah semua orang yang ada di hadapannya. Satu pemandangan yang cukup indah hingga membuat Biao dan Sharin ingin meneteskan air mata.
Semua orang yang duduk di meja itu adalah keluarga mereka sekarang. Mereka tidak perlu lagi merasa sendiri karena sudah ada keluarga yang akan membantu mereka saat mereka sedang dalam kesusahan.
“Sayang, apa yang ingin kau makan?” ucap Ny. Edritz sambil memandang wajah Sharin yang duduk di sampingnya.
“Biar Sharin ambil sendiri, Ma,” ucap Sharin dengan nada takut-takut. Bibirnya belum terbiasa mengucapkan kata Mama kepada Ny. Edritz.
“Makan yang banyak. Kau membutuhkan banyak makanan untuk menggantikan tenagamu yang telah hilang,” ucap Ny. Edritz sambil mengedipkan sebelah matanya.
Semua orang terlihat menahan tawa saat mendengar ucapan Ny. Edritz. Hingga akhirnya semua orang sangat ingin membahas masalah malam pertama Biao dan Sharin. Tawa lagi-lagi harus terdengar di meja tersebut. Tuan Edritz yang sejak awal menertibkan meja tersebut juga larut dalam canda tawa yang baru saja terjadi.
Sharin dan Biao saling memandang sebelum larut dalam tawa tersebut. Sepasang suami istri itu juga telah sepakat untuk merahasiakan malam pertama mereka yang gagal di depan semua orang.
.
.