Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 64



Mohon maaf Reader karena semalam gak update. Level novelnya turun drastis, jadi aku kurang semangat ngetik. Bukan gak semangat. Tapi ide itu hilang gitu aja karena terlalu sedih. Bahkan sempat berpikir buat hiatus novel ini. Tapi, setelah seharian aku pikir-pikir. Aku akan selesaikan cerita ini sampai tamat. Walau alurnya mungkin tidak akan panjang dan tidak ada season dua kayak novelku yang lainnya. Terima kasih untuk pengertiannya.


Selamat membaca.



Semua orang telah berkumpul di dalam ruangan Biao. Tuan dan Ny. Edritz duduk di sofa bersama dengan Tama, Adit, dan Anna. Sedangkan Sharin, Diva dan Angel duduk di dekat tempat tidur Biao. Sesekali ocehan Angel berhasil membuat Biao terhibur hingga tertawa riang. Karakter pria itu memang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi wajah menyeramkan seperti dulu. Sharin telah membuat pengaruh positif kepada Biao selama ini.


Ruangan Biao saat itu di penuhi dengan canda tawa. Obrolan yang mereka bahas juga hanya seputar lelucon semata. Tidak ada yang ingin membahas masalah Mr. Paul ataupun kecelakaan itu lagi. Hingga beberapa saat kemudian, Tama beranjak dari sofa. Pria itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Biao dan Sharin secara bergantian.


“Aku punya kabar gembira untuk semua orang yang ada di dalam ruangan ini.” Tama terlihat bersemangat dengan kalimat yang akan segera ia katakan.


Sharin mengukir senyuman sambil menunduk malu. Wanita itu sudah tahu kalimat apa yang segera di katakan oleh Tama. Biao mengukir senyuman sambil memandang wajah Tama.


“Biao, setelah kau keluar dari rumah sakit. Aku akan segera menggelar pesta pernikahan untukmu dan Sharin,” ucap Tama dengan senyuman indah.


“Benarkah?” ucap Biao tidak percaya. Pria itu menarik tangan Sharin untuk menagih satu jawaban yang lebih pasti, “Sharin, apa itu benar?”


Sharin mengangguk pelan, “Benar. Aku ingin segera menikah denganmu,” ucap Sharin malu-malu.


Biao mengukir senyuman yang sangat bahagia. Tangan Sharin yang ada di genggamannya segera ia kecup dengan penuh bahagia, “Terima kasih, Sharin.”


“Dalam minggu ini?” ucap Ny. Edritz dengan wajah yang tidak percaya.


Tama membungkuk hormat, “Benar, Nyonya. Saya akan mempersiapkan pesta pernikahan Biao dan Sharin mulai dari sekarang. Mereka akan menikah setelah Biao keluar dari rumah sakit. Saya ingin Sharin menjaga Biao selama Biao memulihkan kesehatannya di rumah.”


“Ide yang bagus. Ini kabar gembira yang cukup mengejutkan,” ucap Ny. Edritz. Wanita itu beranjak dari sofa sebelum berjalan mendekati Sharin.


Diva yang sempat duduk di hadapan Sharin telah pergi ke arah sofa untuk duduk di samping Adit. Ia tidak ingin mengganggu keakraban yang akan terjadi antara Sharin dan Ny. Edritz.


“Sharin, kau benar-benar mau menikah dengan Biao? Apa Tama memaksamu?” ucap Ny. Edritz sambil menatap wajah Sharin.


Sharin menggeleng pelan, “Saya sangat mencintai Biao, Nyonya. Paman Tama tidak memaksa saya sama sekali. Semua keputusan ini saya ambil karena saya memang ingin hidup bersama pria yang saya cintai.” Kedua mata Sharin menatap wajah Biao.


“Sharin, terima kasih.” Ny. Edritz memeluk Sharin dengan bahagia. Ia tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya Biao akan menikah. Rasanya beban yang selama ini memenuhi pikirannya telah hilang. Ny. Edritz sangat takut jika Biao benar-benar menghabiskan seluruh hidupnya sendirian tanpa pendamping hidup, “Tama, siapkan pesta pernikahan yang terbaik untuk Biao dan Sharin.”


“Baik, Nyonya,” jawab Tama dengan wajah bahagia. Semua orang juga mengukir senyuman bahagia karena mendengar kabar pernikahan Biao dan Sharin.


“Iya, Ma,” jawab Tuan Edritz dengan senyuman.


Ny. Edritz menatap wajah Sharin lagi, “Sharin, besok kami akan ke sini lagi untuk menjenguk Biao. Sebaiknya kau jangan jauh-jauh dari Biao sampai pria itu berhasil kita kalahkan.”


“Ya, Nyonya. Terima kasih,” jawab Sharin dengan senyuman.


Ny. Edritz menyentuh pipi Sharin sebelum berjalan pergi. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat itu. Melihat Tuan dan Ny. Edritz pergi, Tama dan Adit saling melempar satu kode. Mereka ingin memberi waktu berdua untuk Sharin dan Biao saling berbahagia.


“Biao, kami mau keluar dulu. Kau tenang saja. Sudah banyak pengawal yang menjaga rumah sakit ini. Asal kau tidak membiarkan Sharin pergi dari kamar ini maka semua akan baik-baik saja,” ucap Adit sambil mengangkat tubuh Angel di dalam gendongannya.


Biao mengangguk pelan, “Terima kasih, Adit.”


Tama mengukir senyuman sebelum menggandeng pinggang Anna. Semua orang pergi meninggalkan ruangan Biao dengan segera dan wajah bahagia.


Kini, yang tertinggal di dalam ruangan itu hanya Sharin dan Biao. Sepasang kekasih itu saling memandang satu sama lain sebelum mengukir senyum bahagia.


“Terima kasih,” ucap Biao dengan kelembutan.


Sharin mengukir senyuman. Wanita itu memajukan tubuhnya agar semakin dekat dengan Biao, “Aku takut jauh darimu, Sayang.” Sebelah mata Sharin berkedip untuk menggoda pria yang ada di hadapannya.


Biao tertawa kecil mendengar kata mesra yang di ucapkan Sharin. Satu tangannya menepuk pelan bagian dadanya agar wanita itu jatuh ke dalam pelukannya, “Kemarilah. Aku ingin memelukmu, Sharin.”


Sharin duduk di tepian tempat tidur sebelum memeluk tubuh Biao. Wajahnya mengukir senyuman bahagia dengan hati yang berbunga-bunga.


“Aku harap keputusan ini adalah keputusan yang tepat,” gumam Sharin di dalam hati.


Biao mengusap lembut punggung Sharin dengan penuh cinta, “Aku berjanji untuk menjagamu, Sharin. Dimanapun dan kapanpun itu. Bahkan satu-satunya nyawa yang aku miliki juga akan aku korbankan untuk melindungimu,” ucap Biao dengan sungguh-sungguh. Pria itu mendaratkan satu kecupan di dahi Sharin, “Jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah ada di sampingku seperti ini.”


“Aku akan selalu ada di sampingmu seperti ini. Pelukan ini sudah membuatku terbiasa. Sehingga aku tidak bisa jauh-jauh darimu,” ucap Sharin dengan wajah malu-malu. Kepalanya mendongak ke atas sebelum mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Biao, “I love you.”


“I love you to, Sayang.”


Sharin tertawa saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Biao. Tawanya terhenti saat Biao mengunci mulutnya dengan kecupan mesra. Lagi-lagi ruangan yang sempat terdengar ramai itu berubah sunyi. Ada dua hati yang sedang berbunga-bunga dan di penuhi cinta di dalam ruangan itu.


Hari bahagia akan segera tiba. Bukan hanya Sharin dan Biao yang sudah tidak sabar menanti momen itu tiba. Tapi, semua orang yang menyayangi Biao dan Sharin juga sangat antusias menyambutnya.