
Setelah beberapa jam menjalani penanganan di ruang operasi. Kini Biao sudah di pindahkan di ruang ICU. Keadaannya masih belum stabil. Kapan saja ia bisa kembali kritis. Bahkan pihak Dokter belum bisa memastikan kapan ia akan sadar.
Dokter wanita yang sempat menangani Biao kini telah kembali pada ruang kerja miliknya. Wanita itu terlihat bingung dengan identitas Tama. Sekilas memang ia pernah melihat wajah lelaki itu, tapi ia masih belum ingat dimana melihatnya. Semakin lama ia memandang wajah Tama, lelaki itu semakin tidak asing.
“Siapa lelaki itu?” Dokter wanita itu memandang perawat yang baru saja berhasil menyelidiki identitas korban kecelakaan. Ada wajah ramah di wajah perawat itu saat masuk ke dalam ruangannya.
“Selamat malam, Dok. Ini identitas pasien yang mengalami kecelakaan,” ucap Perawat itu sambil meletakkan beberapa lembar kertas yang berisi identitas Biao dan yang lainnya.
Dokter itu menerima berkas yang ada di hadapannya. Ia cukup cermat membaca identitas yang baru saja di dapat oleh perawatnya, “Apa Dokter Adit sudah tiba?”
“Dokter Adit baru saja tiba beberapa menit yang lalu, Dok. Dokter Adit ada di lantai atas untuk membahas masalah yang terjadi dengan pihak rumah sakit.” Perawat itu menatap wajah Dokter wanita yang kini berstatus atasanya.
“Ya. Kau boleh pergi,” ucapnya sambil membuka beberapa lembar identitas yang kini ada di tangannya. Wanita itu sempat mengeryitkan dahi dengan wajah bingung saat mengucapkan nama pria yang ia kenali, “Tama?”
***
Di sebuah ruangan serba putih dengan aroma obat yang cukup terasa. Seorang pria berpakaian perawat telah berdiri dengan satu jarum suntik di tangannya. Ia ingin segera mencelakai pria yang kini terbaring lemah tak berdaya. Layar monitor menunjukkan detak jantung yang mulai stabil.
Lelaki itu memegang cairan infuse yang akan segera ia suntikan obat. Secara pelahan ia tusukkan jarum itu ke dalam kantung berisi cairan bening. Langkahnya terhenti saat seseorang menahan tangannya.
“Siapa kau!” Adit berdiri dengan tatapan tidak suka. Lelaki itu menarik paksa lelaki yang berpura-pura menjadi perawat dirumah sakit.
“Jika kau tidak mau mati, sebaiknya jangan ikut campur!” ucap Lelaki jahat itu dengan wajah mengancam. Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan sebilah belati lalu memainkannya di hadapan Dokter Adit.
Beberapa Dokter dan Perawat masuk ke dalam ruangan itu. Suasana yang tadi seharusnya sunyi kini telah berganti dengan satu pemandangan yang kacau.
“Jangan bergerak!” teriak seorang polisi yang tiba-tiba muncul dan siap menodongkan pistolnya ke hadapan bawahan Mr. Paul itu.
Lelaki jahat itu seakan tidak punya pilihan lagi. Dirinya sudah terkepung dan tidak akan berhasil dalam misinya kali ini. Dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya dan berusaha menusuk Biao detik itu juga.
Dokter Adit lagi-lagi berusaha menahan tubuh lelaki itu. Satu tangannya menarik pundak lelaki yang berstatus sebagai musuhnya. Gerakan Dokter Adit bersamaan dengan tembakan polisi yang berdiri di ambang pintu.
DUAAR
Satu peluru menancap di salah satu bagian kaki lelaki itu. Dokter Adit menarik bahu lelaki itu sebelum menghempaskannya ke lantai agar menjauh dari posisi Biao berada.
Beberapa perawat dan polisi segera menahan tubuh lelaki itu. Mereka segera memasangkan borgol agar tidak ada lagi perlawanan.
Dokter Adit segera menghentikan cairan infuse yang sejak tadi menetes melalui selang. Walau ia sempat mencegah di waktu yang tepat, tapi tetap saja hatinya masih ragu dengan cairan infuse itu.
“Ambilkan cairan infuse yang baru,” perintah Dokter Adit sambil melepas cairan yang lama dengan segera.
“Apa dia baik-baik saja?” ucap Dokter wanita itu dengan wajah panik.
“Sama-sama,” ucap Dokter Sarah dengan satu senyuman ramah.
Beberapa menit sebelumnya.
Dokter Sarah segera pergi meninggalkan ruangannya. Nama Tama memang pernah ia dengar. Kini ia benar-benar yakin kalau Tama yang pernah ia lihat di foto sama dengan Tama yang kini menjadi pasiennya.
Dokter Sarah berjalan menuju ke arah lift. Ia ingin segera tiba di lantai atas untuk bertemu dengan Dokter Adit. Dari Dokter Adit ia tahu tentang Tama. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau Dokter Adit dan Tama memiliki hubungan yang cukup baik.
Setelah pintu lift terbuka, Dokter Sarah terlihat kaget. Dokter Adit ada di dalam lift dengan senyuman ramahnya. Lelaki itu keluar dari dalam lift sambil menatap bingung kepada rekannya.
“Sarah, apa kau baik-baik saja?” ucap Dokter Adit sambil mengeryitkan dahi.
“Dokter Adit, saya ingin menunjukkan wajah seseorang. Mari ikuti saya,” ucap Dokter Sarah sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu membawa Dokter Adit menuju ke ruangan perawatan Tama. Ia cukup yakin, kalau tebakannya kali ini tidak akan meleset.
Dokter Adit memang kelihatan bingung saat itu. Tapi ia tidak ingin terlalu banyak pertanyaan. Dengan wajah santainya, lelaki itu berjalan cepat mengikuti langkah kaki Dokter Sarah.
“Silahkan, Dok.” Dokter Sarah membuka pintu perawatan. Wanita itu mengukir senyuman saat meminta Adit masuk ke dalam ruangan.
“Aku sedikit bingung, Sarah. Ini ruang pasien,” ucap Dokter Adit pelan sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
Setelah tiba di dalam ruangan, Adit mematung dengan wajah kaget. Kini telah berbaring sahabat terbaiknya yang selama ini ia ketahui tinggal di Sapporo. Dengan langkah cepat Dokter Adit mendekati tempat tidur yang menjadi tempat Tama berbaring.
“Tama? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa ada di San Fransisco?” ucap Dokter Adit tidak percaya. Lelaki itu mulai memeriksa keadaan sahabatnya. Ada wajah sedih saat melihat beberapa perban yang kini menutupi bagian kepala lelaki itu.
“Pasien mengalami kecelakaan, Dok. Ada dua rekannya yang kini juga belum sadarkan diri,” sambung Dokter Sarah cepat. Ada rasa lega di dalam hatinya karena berhasil mempertemukan Tama dengan Adit malam itu.
“Biao,” celetuk Dokter Adit. Sejak dulu, setiap ada Tama selalu ada Biao. Bahkan saat Dokter Sarah belum menyebutkan identitas pasien lain, Dokter Adit sudah bisa menebaknya, “Dimana Biao, Sarah? Bagaimana keadaannya?” ucap Dokter Adit dengan wajah khawatir.
“Lelaki itu masih ada di ruang ICU, keadaannya-”
Mendengar kata ICU sudah berhasil membuat Adit kebingungan. Tanpa mau menunggu penjelasan detail dari Dokter Sarah, Adit berjalan pergi meninggalkan ruangan Tama. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Biao yang kini terbaring di ruang ICU.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Biao, aku harap kau baik-baik saja,” gumam Dokter Adit di dalam hati sambil terus berjalan cepat menuju ke ruangan ICU.
Tidak di sangka, saat ia masuk ke dalam ruangan ICU justru ada satu pemandangan yang tidak enak untuk di lihat. Lelaki itu berjalan cepat untuk mecegah orang yang ingin mencelakai Biao saat itu.
***
Like, Komen dan Vote ya reader...biar author semangat ngetiknya...terima kasih.