Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 48




Beberapa jam kemudian.


Biao dan Sharin sudah ada di dalam gedung S.G. Group. Saat tiba di S.G. Group, halaman depan gedung itu telah bersih dari para wartawan. Semua orang suruhan Biao telah berhasil mengusir wartawan itu dan membuatnya tidak kembali lagi.


Sepasang kekasih itu terlihat sibuk dalam pekerjaannya masing-masing. Sesekali mereka saling memandang satu sama lain dan mengukir sebuah senyuman. Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka.


Sharin dan Biao sama-sama mengalihkan pandangan mereka. Sharin langsung beranjak dari duduknya saat melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu.


“Paman Tama,” ucap Sharin sebelum berlari untuk memeluk lelaki itu.


Biao juga beranjak dari duduknya. Lelaki itu tidak pernah menyangka kalau Tama akan datang untuk mengunjunginya. Cukup mendadak hingga membuat Biao kaget melihat kemunculan sahabat terbaiknya itu.


“Apa kau baik-baik saja?” ucap Tama sambil mengusap lembut punggung Sharin.


Sharin mengangguk cepat, “Aku baik-baik saja. Aku sangat merindukan Paman dan Tante Anna.”


“Anna tidak bisa ikut. Ia tidak suka bepergian jauh selama masa kehamilannya.” Tama memandang wajah Biao dengan seksama. Lelaki itu melepas pelukannya dari tubuh Sharin sebelum berjalan mendekati posisi Biao kini berada, “Kami menyuruhmu untuk menjalin kerja sama dengan Mr. Paul. Kenapa kau memukulnya?”


Tama menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Di hadapannya ada wajah Biao yang kini memperhatikannya dengan seksama. Sharin berjalan menuju ke arah meja bar yang tersedia. Wanita itu berniat membuat kopi untuk Biao dan Tama.


“Dia menyentuh wanitaku,” jawab Biao dengan ekspresi wajah santai. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di wajah Biao saat itu.


Tama melirik ke arah Sharin sebelum mengangguk pelan, “Aku masih tidak habis pikir dengan kalian. Apa yang kalian lihat dari keponakan kecilku ini. Dia tidak terlalu cantik bahkan sering merepotkan,” ucap Tama sambil menggeleng kepala dan memijat kepalanya yang terasa pusing.


“Paman, Aku wanita yang cukup cantik dan pintar. Tentu saja banyak yang menyukaiku,” jawab Sharin sambil meletakkan dua gelas kopi yang baru saja ia buat, “Bukankah begitu, Presdir Bo?”


Biao mengangguk dengan senyuman, “Ya. Kau wanita paling cantik yang pernah aku cintai.”


“Itu karena kau baru pertama kali jatuh cinta,” sambung Tama dengan tatapan tidak suka. Lelaki itu mengambil kopi yang baru saja di buat Sharin, “Kopi ini pakai gula ‘kan?”


“Tentu saja pakai gula. Di sini tidak ada garam,” jawab Sharin sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Biao. Ada tawa kecil di bibir Sharin saat Tama kembali mengingatkannya dengan teh asin yang pernah ia buat.


“Apa Tuan Daniel yang mengirimmu ke sini, Tama?” ucap Biao sambil mengeryitkan dahi.


Tama menyesapi kopinya secara perlahan. Lelaki itu tidak terlalu peduli atas pertanyaan Biao. Wajahnya cukup tenang saat menghirup aroma kopi yang ada di hadapannya.


“Paman, apa Tuan Daniel marah karena Paman Tampan memukul Mr. Paul?” timpal Sharin dengan wajah cukup penasaran.


“Tentu saja tidak. Kerugian yang di minta oleh Mr. Paul juga sudah di kirim oleh Tuan Edritz detik itu juga saat Mr. Paul memintannya.” Tama meletakkan gelas kopi dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara sedikitpun, “Tuan Daniel mengirimku untuk menarik kembali investor yang telah angkat kaki dari perusahaan ini. Kau memang cukup merepotkan Biao. Kenapa kau tidak bisa menahan emosimu sedikit saja. Sekarang kau bukan lagi seorang pengawal yang melindungi Tuannya dari bahaya. Kau seorang pembisnis yang harus memiliki strategi untuk mengalahkan sainganmu.”


“Dia mencium Sharinku saat aku tidak ada di sampingnya!” protes Biao dengan nada yang semakin tinggi.


Tama menghela napas. Apapun perdebatannya dengan Biao tidak akan membuahkan hasil. Di tambah lagi Biao saat ini baru saja merasa kasmaran dengan wanita yang ia cintai. Sudah bisa di pastikan kalau semua keputusan yang ia ambil adalah kebenaran.


“Aku tidak yakin Mr. Paul akan diam saja. Aku dan Tuan Daniel baru saja menyelidiki Mr. Paul. Apa kau tahu siapa Mr. Paul?” ucap Tama dengan tatapan yang cukup tajam.


“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Siapapun dia jika mengganggu orang yang ku cintai tetap akan aku bunuh hingga ia menyesal sudah hidup di dunia ini.” Biao membuang tatapannya.


“Maafkan aku, Sharin. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” Biao mengukir senyuman sebelum mengusap lengan Sharin.


“Hello! Aku masih di sini. Jangan pamerkan kemesraan kalian yang terlihat cukup menggelikan itu.” Tama melipat kedua tangannya di depan dada sebelum bersandar di sandaran sofa.


Sharin mengukir senyuman dengan wajah merona malu, “Paman Tama, kau kan sudah memiliki Tante Anna. Kenapa harus iri pada kami.”


“Aku tidak iri, Sharin. Tapi aku lagi serius membahas masalah yang kini sedang kita hadapi,” ucap Tama dengan nada bicara pada level yang paling tinggi.


“Siapa Mr. Paul?” celetuk Biao dengan wajah serius.


“Gembong narkoba. Mr. Paul juga memiliki bisnis gelap perdagangan wanita,” sambung Tama cepat.


Biao dan Sharin terdiam untuk kembali mencerna perkataan Tama. Mereka tidak menyangka kalau Mr. Paul adalah orang yang cukup berbahaya. Tiba-tiba saja suasana ruangan itu berubah sunyi. Tidak ada lagi terdengar suara apapun. Hanya ada bola mata yang saling memandang satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


“Seperti kau targetnya sejak awal. Sharin, saat ini kau berada dalam bahaya. Kita juga tidak tahu rencana apa yang sekarang ia susun. Siapa saja bisa bekerja sama dengannya. Termasuk orang terdekatmu, Biao. Ia cukup handal dalam mencari kelemahan seseorang,” ucap Tama dengan wajah khawatir. Berdasarkan informasi yang baru saja di dapatkan oleh Tama. Mr. Paul tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Aku akan menjaga Sharin dan tidak akan memberikan cela untuknya menangkap Sharin,” jawab Biao sambil memandang wajah Sharin.


“Lalu bagaimana dengan S.G. Group?” tanya Tama cepat.


“Bukankah kau sudah di sini. Untuk apa aku pusing-pusing lagi memikirkannya,” jawab Biao santai. Lelaki itu beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangannya di hadapan Sharin, “Ayo Sharin, kita pulang. Sudah waktunya untuk pulang saat ini.”


“Aku belum selesai berbicara, Biao!” umpat Tama kesal.


“Tama, jika kau gagal untuk menarik investor untuk kembali. Maka yang di beri hukuman oleh Tuan Daniel adalah kau. Untuk apa aku repot-repot lagi.” Biao memandang wajah Tama dengan tatapan menantang.


“Tapi kau penyebab masalah ini. Kau yang harus bertanggung jawab Biao,” ucap Tama sambil mengatur napasnya. Tiba-tiba saja napasnya terasa sesak saat melihat kelakuan sahabat terbaiknya saat itu.


Sahrin tertawa saat melihat perdebatan yang terjadi di antara Biao dan Tama. Wanita itu menggandeng lengan Biao dengan mesra sambil memandang wajah Tama, “Paman Tama, ayo kita pulang ke apartemen Paman Tampan. Kita akan bicarakan semuanya di sana.”


“Sharin, siapa yang mengijinkannya untuk tinggal bersama-”


“Setuju. Ayo kita berangkat,” sambung Tama cepat. Lelaki itu berjalan menuju ke arah pintu untuk memimpin jalan.


Sharin melanjutkan tawanya sebelum menarik tangan Biao agar segera berjalan, “Akan semakin seru jika kita tinggal bertiga di apartemen itu.”


Biao menghela napas kesal sebelum mengikuti langkah Sharin. Tatapan matanya terlihat tidak suka saat melihat punggung sahabatnya yang sudah dekat dengan pintu.


.


.


.


Like, vote dan komen. Terima kasih atas pengertiannya reader tercinta...😘