
Waktu terus berlalu hingga pagi yang cerah itu telah terganti dengan sore. Sharin terbangun dari tidurnya. Wanita itu kembali ingat dengan teriakan pengawal yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Wajahnya berubah panik seketika. Ia segera duduk dan memperhatikan ruangan yang kini ia tempat. Napasnya kembali lega saat melihat ruangan itu masih sama dengan yang sebelumnya ia tepati.
“Paman Tampan,” ucap Sharin sambil memandang wajah Biao. Wanita itu turun dari tempat tidur lalu berjalan pelan mendekati Biao yang sedang berbaring. Langkahnya terhenti saat melihat Pengawal yang sempat meneriakinya kini terbaring di atas sofa.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Sharin dengan penuh tanda tanya. Namun Sharin tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang sempat terjadi. Baginya yang terpenting saat ini Biao masih ada di tempat tidurnya dan dalam keadaan baik-baik saja.
Sharin duduk di pinggiran tempat tidur Biao sambil memandang wajah pria itu. Bibirnya tersenyum indah. Sharin membungkukkan tubuhnya agar mendekat dengan Biao. Wanita itu mendekatkan bibirnya di telinga kekasihnya, “I Love you, Paman tampan.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Sharin mendaratkan satu kecupan di bibir Biao. Matanya terpejam untuk menekan rasa sedih di dalam hatinya, “Bangun, aku sangat merindukanmu. Aku akan menikah denganmu secepat yang kau inginkan asalkan kau bangun dan kembali memandang wajahku.” Tetes demi tetes bulir air mata Sharin membasahi wajah Biao.
Sharin menghapus air matanya dengan segera. Kepalanya ia jatuhkan di atas dada Biao sambil mengusap lembut rambut lelaki itu. Baju yang di kenakan Biao menjadi basah karena terkena tetes air mata Sharin sore itu.
Sambil berbaring di atas dada Biao, Sharin memandang jendela yang terletak tidak jauh dari tempat tidur Biao. Langit sudah terlihat berubah warna menjadi jingga. Sebentar lagi malam akan segera tiba.Tidak terasa sudah satu hari penuh Sharin tidak mendengar suara pria yang ia cintai.
“Paman Tampan, apa kau mau mendengar sebuah lagu? Aku akan beryanyi untuk menghiburmu. Tapi kau harus memberiku bayaran dengan cara bangun dari tidurmu itu. Apa kau mengerti?” ucap Sharin dengan suara pelan dan serak. Ia kembali mengatur kesedihannya sebelum mulai menyanyikan lagu untuk Biao.
#############################################
Yelling at the sky
Screaming at the world
Baby, why’d you go away?
I’m still your girl
Holding on too tight
Haed up in the clouds
Heaven only knows
Where you are now
I stay up all night
Tell myself I’m alright
Baby, you’re just harder to see than most
I put the record on
Wait’til hear our song
Every night I’m dancing with your ghost.
Lirik lagu Dancing With Your Ghost by Sasha Sloan.
(Yang pengen tahu lagu yang di nyayikan Sharin cari sendiri lagunya di google ya)
################################################
“Aku masih di sini. Aku tidak pergi kemana-mana,” ucap Biao dengan suara yang cukup pelan.
Sharin mengerjapkan matanya. Wanita itu masih belum percaya dengan suara Biao yang baru saja ia dengar. Kepalanya masih dalam posisi nyaman di atas dada Biao. Tangannya juga masih ada di atas kepala lelaki itu.
“Sharin, apa kau mendengarku?” ucap Biao sekali lagi saat tidak mendapat jawaban apa-apa dari Sharin.
“Paman tampan, kau sudah bangun?” ucap Sharin dengan suara yang lirih. Lagi-lagi air mata harus jatuh membasahi pipinya.
Biao mengangkat satu tangannya untuk menghapus air mata Sharin. Lelaki itu menggeleng pelan sebagai tanda tidak suka, “Jangan menangis.”
Tangisan Sharin tidak berhenti saat mendengar kalimat larangan Biao. Melihat Biao kembali berbicara seperti itu justru membuat tangis Sharin pecah, “Kau membuatku takut. Aku tidak akan sanggup jika kehilangan dirimu,” ucap Sharin di sela-sela isak tangisnya.
Biao menarik pinggang Sharin. Membiarkan wanita itu menangis di atas dadanya seperti semula, “Maafkan aku, Sharin. Aku tidak bisa menjagamu. Aku telah membuatmu merasakan sakit dan terluka,” ucap Biao pelan.
“Jangan tidur seperti tadi lagi. Aku takut melihatmu tertidur dalam waktu yang cukup lama seperti tadi.” Sharin menghapus sisa air matanya yang masih menetes.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.
Setelah beberapa menit menenangkan diri di atas dada Biao, Sharin kembali ingat dengan keadaan Biao. Wanita itu kembali mengatur posisi duduknya lalu menekan tombil darurat, “Aku harus memberi tahu Dokter Sarah kalau kau sudah bangun. Dokter akan memeriksa keadaanmu nanti.”
Selang beberapa detik kemudian Adit muncul dari balik pintu. Lelaki itu berjalan dengan cukup tenang sambil mengukir senyuman ramah, “Kau sudah bangun, Biao?” Adit melirik jam tangan yang melingkar di jarinya, “Jaraknya cukup jauh dari bangun yang pertama.”
“Dokter Adit, apa maksud anda? Tuan Biao baru ini terbangun sejak ia melewati masa kritisnya. Kenapa anda bilang ini bangun yang kedua?” tanya Sharin dengan wajah bingung.
Biao menatap wajah Adit sambil menggeleng pelan. Lelaki itu tidak ingin Sharin tahu kalau dirinya hampir di culik tadi pagi.
Adit menaikan satu alisnya saat melihat kode yang di berikan oleh Biao, “Maksud saya, setelah ia melewati masa kritisnya, Nona Sharin.” Lelaki itu tertawa kecil sebelum memulai pemeriksaannya terhadap kesehatan Biao.
Sharin kembali bernapas lega. Wanita itu memperhatikan keadaan Biao saat ini. Hatinya masih merasa sedih karena melihat pria yang ia cintai memiliki wajah yang pucat dengan tubuh yang tidak berdaya.
“Sudah jauh lebih baik. Tapi, sebaiknya hingga beberapa bulan ini hindari benturan langsung pada bagian kepala. Jangan berpikir terlalu keras.” Adit berdiri di tepian tempat tidur.
“Dimana Tama? Apa dia baik-baik saja?” Biao sangat mengkhawatirkan keadaan Tama. Lelaki itu yang ia pandang terakhir kali sebelum memejamkan mata.
Dokter Adit mengangkat kedua bahunya, “Aku juga tidak tahu dia ada dimana. Setelah ia bisa berjalan dan tenaganya terkumpul kembali, aku tidak tahu lagi dia sekarang ada di mana.”
“Paman Tama sudah jauh lebih baikan jika di bandingkan keadaan Paman Tampan,” ucap Sharin pelan.
Adit menaikan satu alisnya, “Paman tampan?” celetuknya dengan wajah bingung.
Biao memandang wajah Adit dengan seksama, “Pergilah jika urusanmu sudah selesai. Jangan menjadi pengganggu di ruangan ini.”
Adit tertawa kecil saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Biao, “Kau jauh lebih galak saat memiliki pacar. Tapi, aku juga ingin pulang. Aku sudah sangat merindukan istri dan anakku di rumah.” Lelaki itu menepuk pelan pundak Biao, “Cepat sembuh Paman Tampan,” ledeknya sebelum pergi menjauh.
Sharin menahan tawa saat mendengar candaan Adit sore itu. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain agar Biao tidak tahu kalau kini ia sedang menertawai lelaki itu.
“Sharin, kemarilah. Aku masih ingin memelukmu,” ucap Biao sambil menepuk pelan bagian dadanya yang sempat di tiduri Sharin. Tanpa mau protes lagi, Sharin menjatuhkan kepalanya di dada Biao. Wanita itu mengukir senyuman bahagia karena bisa bermesraan dengan Biao seperti itu lagi.
“Tidak ada kebahagiaan yang paling indah selain mendengar suaramu,” gumam Sharin di dalam hati.
.
.
.
Jangan lupa, Like, komen dan Vote. Terima kasih....
yang belum baca karya author bisa baca juga Permaisuri Modern Uda tamat.