
Dua hari setelah pertunangan Biao dengan Sharin. Sharin sudah bebas dari statusnya sebagai pasien. Kini wanita itu duduk di tepian tempat tidur Biao sambil memegang piring berisi potongan buah. Wajah sepasang kekasih itu terlihat sangat berseri. Langit yang cerah terlihat semakin indah di mata. Semua kata yang terdengar hanya ada kata cinta.
Keadaan Biao juga sudah mengalami peningkatan. Tidak ada lagi yang harus di khawatirkan sama semua orang. Tuan dan Ny. Edritz kembali ke Sapporo sampai nanti pesta pernikahan Biao di gelar. Mereka sangat merindukan kedua baby kembar. Sedangkan Tama dan Anna asih bertahan di San Fransiso untuk mengurus S.G. Group sampai Biao dan Sharin kembali mengambil alih.
Adit juga sudah meninggalkan San Fransisco. Dokter itu menyerahkan seluruh kesehatan Biao kepada Dokter Sarah. Keadaan sahabat terbaiknya telah mengalami peningkatan positif.
“Sayang, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” ucap Sharin sambil menyuap sepotong buah Apel ke mulut Biao.
“Hmm, katakan. Apa yang ingin kau katakan, Sayang,” jawab Biao sambil mengunyah buah yang ada di dalam mulutnya. Pria itu menatap wajah Sharin dengan seksama.
Sharin menunduk dengan perasaan takut-takut. Bahkan piring buah yang ada di genggamannya saja terlihat gemetar. Ada hal serius yang memang ingin ia katakan kepada Biao sebelum mereka menikah nantinya.
“Sharin, apa yang mengganggu pikiranmu?” Biao meraih piring kecil yang ada di tangan Sharin. Pria itu meletakkannya di atas nakas. Wajahnya mulai khawatir saat Sharin tidak mengatakan apapun saat itu.
“Paman tampan, kau harus berjanji untuk tidak marah.” Sharin menatap wajah Biao dengan seksama.
“Ya. Aku berjanji untuk tidak marah,” jawab Biao dengan hati yang tulus.
“Aku takut … Hmm, maksudku aku,” ucapan Sharin tertahan lagi. Sangat berat bibirnya untuk mengucapkan kalimat yang kini memenuhi pikirannya.
“Sharin, katakan dengan hati-hati. Atau kau mau aku bantu agar bisa dengan tenang untuk mengatakannya?” ucap Biao dengan penuh kesabaran.
“Bagaimana caranya?” tanya Sharin penasaran.
“Kemarilah.” Biao merentangkan kedua tangannya. Ia siap memeluk Sharin agar wanita itu tidak lagi takut untuk mengungkap isi hatinya mengganjal.
Sharin mengukir senyuman sebelum memeluk Biao. Wanita itu menyandarkan kepalanya di depan dada Biao. Kedua tangannya melingkar pinggang Biao dengan penuh kasih sayang, “Paman Tampan. Apa boleh ketika kita menikah nanti. Kita tidak melakukannya dulu. Aku takut ....” ucap Sharin sambil memejamkan mata. Wanita itu berharap Biao mengerti dengan apa yang ia maksud.
“Maksudmu menunda kehamilan?” tanya Biao dengan wajah bingung.
“Bukan seperti itu yang aku maksud,” ujar Sharin. Wanita itu memejamkan matanya sambil memikirkan kalimat yang pantas untuk mewakili isi hatinya saat itu.
“Aku takut melalui malam dimana setelah kita menikah. Aku belum siap, Paman Tampan.” Kali ini pelukan Sharin semakin erat. Wanita itu sudah cukup lega karena sudah berhasil mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Sharin mengukir senyuman manis, “Terima kasih, Paman Tampan. Aku akan berusaha menjadi istri yang sempurna untukmu.”
“Aku sangat menyayangimu, Sharin. Aku tidak ingin kau jauh dariku lagi. Seperti ini saja sudah cukup membuatku sangat bahagia. Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku akan menunggumu sampai kau siap.” Pelukan Biao semakin erat seolah ingin meremukkan tubuh wanitanya.
“Aku sangat bahagia bisa berada di dekatmu seperti ini, Paman Tampan. Maafkan aku karena aku belum siap untuk melakukan hal seperti itu. Tapi, setelah menikah nanti. Aku akan berusaha mempersiapkan diriku agar bisa menjadi milikmu seutuhnya. Aku sangat mencintaimu. Kau pria yang cukup sabar dan sangat pengertian. Aku cukup beruntung memiliki pria sepertimu,” gumam Sharin di dalam hati.
“Sharin, apa kau setuju ketika kita menikah nanti kita membeli rumah dan menetap di San Fransisco? Tuan Daniel menyerahkan S.G. Group kepadaku. Aku memiliki tanggung jawab penuh untuk kemajuan perusahaan ini. Aku harus mengurungkan niatku untuk kembali ke Sapporo.” Biao mambungkukkan kepalanya agar bisa menatap wajah Sharin.
Sharin mendongakkan kepalanya dengan senyuman indah, “Aku akan ikut denganmu, kemanapun kau pergi. Aku juga suka memiliki rumah dan menetap di sini. Kota ini sudah menjadi tempat tinggalku selama ini,” jawab Sharin dengan penuh semangat.
“Baiklah. Aku akan mencari rumah yang bagus untuk kita. Apa kau mau memesan sesuatu? Seperti lingkungan, desain rumahnya atau apapun itu.” Biao mengeryitkan dahinya dengan wajah serius.
“Aku hanya ingin memiliki rumah yang memiliki kolam renang,” jawab Sharin ragu-ragu. Wanita itu merasa takut di bilang terlalu serakah.
Biao tertawa kecil. Tentu saja sejak awal kolam renang sudah menjadi poin penting yang harus ada di rumahnya nanti. Sharin memang wanita sederhana yang tidak terlalu banyak permintaan. Wanita itu bahkan terlihat sangat polos dan cukup menggemaskan. Hingga membuat Biao semakin cinta kepadanya, “Aku akan mencari rumah dengan kolam renang yang sangat indah. Agar kau bisa berenang dengan bebas di rumah kita nanti.”
“Terima kasih. Aku akan belajar masak agar bisa membuat masakan enak untukmu. Kita akan makan berdua setiap harinya dengan penuh canda tawa,” sambung Sharin dengan senyum menyeringai.
“Hmm, membayangkannya saja sudah cukup membuatku lapar. Kau memang wanitaku yang paling hebat,” ucap Biao sebelum ia mendaratkan lagi satu kecupan di dahi Sharin.
Masa-masa indah yang akan mereka hadapi sudah terbayang jelas di depan mata. Sharin dan Biao sendiri sudah tidak sabar melewati pernikahan hingga masa-masa setelah menikah.
Hanya dengan kesabaran, rasa sakit bisa terobati. Mengeluh tidak akan pernah berbuah kesabaran. Biao sudah membuktikannya. Kesabaran yang ia berikan di dalam hatinya setelah Sharin menolak lamarannya membuahkan buah yang sangat manis. Sekarang, bagaimanapun kehidupan yang akan ia jalani bersama Sharin nantinya. Biao akan berubah menjadi pria yang sabar dan penuh cinta. Ia tidak lagi ingin menjadi pria mudah marah yang menyelesaikan segala masalah dengan cara membunuh.
.
.
.
Ok. Besok Part pernikahan Sharin dan Biao. Besok juga yang menentukan novel ini tamat atau gak. Semua tergantung komen dan dukungan kalian.