
Untuk waktu yang cukup lama. Sharin dan Biao saling berpelukan. Melepas rindu atas rindu yang selama ini menyiksa. Ada rasa cinta yang berbalut rasa bahagia di sana. Setelah beberapa hari bertarung dengan perasaan masing-masing. Hari ini semua rasa yang melelahkan itu seperti terbayarkan.
Rasanya ia ingin menghentikan perputaran waktu detik itu. Ia ingin waktu tidak berjalan agar bisa memiliki banyak kesempatan untuk bersama dengan wanita yang ia cintai. Pelukan itu terasa menenangkan dan menyenangkan. Biao tidak ingin menyudahinya.
“Paman tampan, kenapa Tuan Daniel bisa memberikan perusahaan ini kepada anda?” ucap Sharin masih dengan tangan melingkar di pinggang lelaki itu.
“Soal itu ....” ucapan Biao tertahan. Bibirnya kembali mengukir senyuman sebelum melanjutkan kalimatnya, “Aku tidak tahu apa perusahaan ini menjadi milikku atau tidak. Tuan Daniel memberiku jabatan ini untuk mengembangkan perusahaan ini agar bisa lebih maju. Jika suatu hari nanti Tuan Daniel memintanya aku akan memberikannya dengan senang hati.”
Sharin mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Biao, “Kenapa harus di sini?”
“Karena di sini ada kau, Sharin.” Biao mengukir senyuman.
Wajah Sharin merona. Tidak ada pujian yang bisa membuatnya melayang seperti ini sebelumnya, “Aku akan membuatkan teh untuk kita berdua.”
Sharin melepas pelukannya. Wanita itu berjalan menuju ke bar mini yang ada di sudut ruangan. Wanita itu mengambil dua gelas teh lalu memasukkan kantung teh ke dalam masing-masing gelas. Bibirnya mengukir senyuman sebelum menuangkan air panas ke dalam gelas berukuran kecil itu.
Biao juga berjalan menuju ke arah sofa. Pria itu sangat ingin mencicipi minuman hangat buatan Sharin. Bukan karena wanginya yang menggugah. Lebih ke pembuatnya yang membuatnya ingin untuk mencicipi teh hangat itu.
Biao tidak bisa berkedip saat memperhatikan Sharin sedang membuat teh dengan wajah cantiknya, “Seperti ini rasanya cinta. Sekarang aku tahu kenapa Tuan Daniel bisa sangat takut kehilangan Nona Serena saat Zeroun Zein datang di dalam kehidupan mereka. Sekarang aku juga mengerti perjuangan cinta Tama yang tidak ingin Anna mencintai pria lain,” gumam Biao di dalam hati.
“Apa yang anda pikirkan, Presdir Bo,” ledek Sharin sambil tertawa kecil. Wanita itu meletakkan teh buatannya di atas meja. Menjatuhkan tubuhnya di samping Biao dengan senyuman yang cukup indah, “Apa Paman Tama juga ada di balik rencana ini?”
Biao mengangguk pelan, “Ini semua ide briliannya. Sepertinya aku harus segera menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih.”
Sharin tertawa. Wanita itu meraih teh buatannya sebelum meneguknya secara perlahan. Biao juga melakukan hal yang sama. Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Biao dan Sharin sama-sama memandang ke arah pintu, “Siapa yang datang?” ucap Sharin bingung.
“Mr. Paul. Hari ini aku ada janji untuk membahas masalah proyek terbaru,” jawab Biao yang kembali ingat dengan janjinya dengan pria berkebangsaan spanyol itu.
“Aku harus pergi,” ucap Sharin sambil beranjak dari kursinya, “Paman tampan, berjanjilah untuk merahasiakan hubungan ini. Aku tidak ingin karyawan S.G. Group salah paham dan membuatku menjadi tidak nyaman berada di perusahaan ini.”
“Baiklah, jika itu permintaanmu. Siang ini kita makan di luar.” Biao beranjak dari duduknya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah pintu. Biao yang menarik pintu untuk melihat tamunya pagi itu.
“Selamat pagi, Presdir Bo. Senang bertemu dengan anda.”
Seorang pria berusia sekitar 30 tahun berdiri di ambang pintu. Lelaki itu mengenakan dasi berwarna gelap yang pas dengan kemeja putih yang ia kenakan. Rambutnya berwarna cokelat yang disisir rapi hingga memamerkan jiwa lelaki dewasa yang cukup khas. Tubuhnya tinggi hingga membuat Sharin harus mendongakkan kepalanya. Di sampingnya ada pria yang memakai seragam kantor yang cukup rapi dengan kaca mata di matanya.
Mr. Paul melirik ke arah Sharin sekilas sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk. Pria yang menjadi tangan kanannya juga ikut masuk ke dalam.
Pada saat yang bersamaan, Sharin menunduk dan permisi untuk pergi. Wanita itu berjalan pergi meninggalkan ruangan Biao dengan langkah cepat dan pasti.
“Sayang sekali di ruangan yang sebesar ini anda tidak memiliki sekretaris, Presdir Bo,” ucap Mr. Paul dengan satu senyuman.
Biao menutup kembali pintu ruangannya. Lelaki itu berjalan ke arah sofa untuk menemui tamunya, “Saya tidak terlalu percaya dengan orang hingga tidak memilih sekretaris.”
“Lalu bagaimana dengan wanita yang tadi?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.
“Dia Suvervisor bagian IT. Aku memintanya datang untuk menanyakan beberapa kendala yang terjadi akhir-akhir ini.” Sesuai permintaan Sharin, ia tidak ingin memberi tahu hubungannya.
“Wanita yang cukup cantik,” celetuk Mr. Paul asal saja.
Biao menatap tajam dengan tatapan membunuh. Namun, dalam sekejab ia kembali sadar dan tidak ingin membuat kerja samanya berantakan. Lelaki itu beranjak dari sofa yang ia duduki untuk mengambil berkas penting yang sudah ia persiapkan. Biao membuka sekali lagi berkas itu untuk mengecek isinya. Setelah semua sempurna dan tidak ada lagi kesalahan, dengan wajah percaya diri ia membawa berkas itu kepada Mr. Paul berada.
“Ini kerja sama yang kami tawarkan, Mr. Paul.” Biao meletakkan berkas itu tepat di hadapan Mr. Paul.
Pria yang menjadi bawahan pria itu meraihnya. Membuka berkas itu dan memeriksanya dengan seksama. Setelah berhasil memeriksa isinya, ia mengeluarkan sebuah pena lalu meletakkannya tepat di atas kertas Mr. Paul meninggalkan tanda tangannya.
“Ok. Saya harap kerja sama kita bisa berjalan dengan baik, Presdir Bo.” Mr. Paul meletakkan pena itu kembali setelah menandatanganinya.
“Anda ingin minum panas atau dingin, Mr. Paul?” tawar Biao dengan cukup sopan.
“Tidak, Presdir Bo. Saya memiliki janji di tempat lain.” Mr. Paul beranjak dari duduknya. Mengulurkan tangannya di hadapan Biao, “Senang bekerja sama dengan anda.”
Biao tertawa dengan sedikit paksaan, “Seharusnya saya yang mengatakan hal itu, Mr. Paul. Terima kasih atas waktu anda pagi ini.”
Mr. Paul mengangguk sebelum berjalan menuju ke arah pintu. Pria yang ada di sampingnya menunduk hormat di hadapan Biao sebelum berjalan cepat untuk membukakan pintu. Biao memandang punggung tamunya dengan perasaan lega. Daniel yang meminta dirinya untuk menjalin kerja sama dengan Mr. Paul. Hingga tidak ada alasan lain bagi Biao untuk menolak, “Sepertinya ia pria yang cukup berbahaya.”
Di depan ruangan kerja Biao. Mr. Paul berdiri dengan tatapan tajam. Lelaki itu memandang wajah pria yang berdiri di sampingnya, “Aku ingin wanita tadi.”
“Baik, Tuan,” jawab pria itu dengan kepala menunduk.
Mr. Paul mengukir senyuman puas atas jawaban bawahannya. Tidak ada satu wanitapun yang bisa menolak keinginannya. Jika ia sudah menentukan wanita yang ia inginkan maka secepatnya akan ia dapatkan. Mr. Paul tidak pernah tahu kalau Sharin tidak sama dengan wanita yang biasa ia dapatkan. Akan ada darah yang harus di korbankan ketika ia berani melangkah maju untuk mendekati wanita yang paling di cintai oleh Biao.
Selanjutnya besok siang ya jam 12. Terima kasih...jangan lupa likenya ya Readers.....