
Biao mengeryitkan dahi saat melihat penampilan seksi Sharin pagi itu. Wanita itu menyeringai untuk menutupi apa yang baru saja ia lakukan. Sharin berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang ciri khasnya. Tanpa ia sadari kalau gerakan tubuhnya membuat Biao tergoda hingga akhirnya memalingkan pandangannya.
“Apa dia sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan? Wanita ini memang tidak pernah bisa di tebak jalan pikirannya,” gumam Biao di dalam hati.
“Aku hanya mencari buku untuk di bawa. Iya mencari buku. Terlalu bosan jika berada di kamar itu,” ucap Sharin yang baru saja berhasil mendapatkan alasan.
“Benarkah? Dengan penampilan seperti itu ingin membaca buku?” tanya Biao dengan dahi mengeryit.
Mendengar perkataan Biao, Sharin menundukkan kepalanya. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelum menutupi bagian kakinya dengan bantal kursi.
“Presdir Bo, kenapa anda berubah menjadi pria mesum seperti ini,” umpat Sharin dengan pipi merah merona. Wanita itu sangat-sangat malu dengan penampilannya saat ini. Jika di lihat dari kondisi yang ada. Bisa di bilang Sharin terlihat seperti wanita penggoda saat itu.
“Cepat ganti bajumu. Aku baru saja memesan baju untukmu. Ada di atas meja yang ada di kamar.” Biao berjalan menuju ke arah lain. Pria itu mengukir senyuman lagi saat membayangkan wajah merona Sharin karena malu.
Sharin memandang punggung Biao dengan seksama. Wanita itu ingin memastikan kalau atasannya tidak lagi melihat penampilannya saat ini. Setelah melihat pria itu cukup jauh, Sharin berlari dengan cepat menuju ke arah kamar. Mengunci pintu kamar agar atasannya itu tidak bisa masuk ke dalam saat ia sedang mandi.
“Hampir saja ia curiga kalau aku sedang menyelidikinya,” ucap Sharin sambil mengatur kembali napasnya. Wanita itu berjalan ke arah meja untuk melihat baju yang tersedia untuknya. Setelan kantor yang sama dengan seleranya saat ini. Sharin mengukir senyuman bahagia saat mendapat hadiah sederhana itu dari atasannya, “Pria yang lumayan baik.” Wanita itu membawa pakaiannya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian yang saat itu ia kenakan.
Di sisi lain.
Biao duduk sambil membuka layar laptopnya. Pria itu memeriksa email penting yang baru saja masuk pagi ini. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat email dari sahabat terbaiknya. Pria itu menceritakan semua keluhan Walker terhadapnya. Selama ini, semua kelakuan yang ia perbuat terhadap Walker selalu sampai ke telinga Tama. Ada kata-kata peringatan juga yang di ketik Tama di dalam email itu.
“Jangan terlalu keras dengannya. Aku sangat sulit untuk membujuknya agar mau selalu membantumu.
Biao membalas setiap kalimat yang di ucapkan sahabatnya. Bahkan tanpa ia sadari waktu sudah berjalan hampir setengah jam. Biao mulai curiga dengan Sharin yang kini masih ada di dalam kamar tidurnya.
“Apa yang di kerjakan wanita itu di dalam kamar?” ucap Biao dengan wajah penuh tanya. Lelaki itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Memandang sekilas ke arah meja yang berisi aneka sarapan. Ia ingin sarapan bersama dengan Sharin pagi ini. Namun, wanita yang ia tunggu tidak juga tiba.
Biao berjalan menuju kamar tidur miliknya. Dahinya mengeryit saat mengetahui pintu kamarnya terkunci. Berulang kali Biao mengetuk pintu namun tidak juga mendapat jawaban dari Sharin. Ia semakin panik saat itu. Dengan gerakan cepat Biao berjalan menuju ke sebuah lemari yang ada di sudut ruangan. Pria itu mengambil kunci cadangan di dalam laci.
Biao membuka pintu kamarnya dengan debaran jantung yang tidak karuan. Saat berhasil membuka kunci kamar, Biao dengan segera masuk ke dalamnya. Kamar itu terlihat sunyi dan berubah rapi. Sharin sudah membereskan kamar miliknya sebelum memulai ritual mandinya.
Pada saat yang bersamaan, Sharin keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat Biao juga ada di dalam kamar yang sempat ia gunakan untuk berganti pakaian.
“Apa yang anda lakukan di sini, Presdir Bo?” ucap Sharin sambil terus berjalan.
“Aku tidak ingin anda mengintip saat aku ganti pakaian,” jawab Sharin. Kini wanita itu berdiri tepat di hadapan Biao.
“Sharin, sebaiknya kau istirahat saja hari ini. Jangan masuk kerja dulu.” Biao memasukkan kedua tangannya di dalam saku sebelum memasang wajah dingin ciri khasnya.
“Terima kasih atas tawarannya, Presdir Bo. Tapi, keadaan saya akan jauh lebih baik jika saya bekerja hari ini. Bagaimanapun juga, berdiam diri di rumah seharian itu cukup membosankan,” tolan Sharin. Wanita itu juga menjelaskan alasan yang membuatnya menolak tawaran atasannya pagi itu.
Suara ponsel berdering. Ponsel itu berada di atas meja tepat di hadapan Sharin dan Biao berdiri saat ini. Di layar ponsel itu tertulis nama Tama dengan cukup jelas.
Biao yang lebih dulu menatap ke arah layar ponsel. Saat Sharin ingin menggerakkan kepalanya untuk melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel atasannya. Dengan gerakan cepat Biao meraih ponselnya. Pria itu menolak panggilan masuknya detik itu juga. Wajahnya di penuhi dengan keringat saat takut ketahuan oleh Sharin.
“Kenapa anda mematikan ponselnya, Presdir Bo?” tanya Sharin dengan wajah bingung.
“Tidak penting,” jawab Biao sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku. Setidaknya detik itu ia bisa bernapas lega karena tidak jadi ketahuan oleh Sharin.
“Sebaiknya kita sarapan sebelum berangkat kerja,” ucap Baio yang berusaha memeceah kesunyian di kamar itu.
Sharin mengangguk pelan untuk menyetujui ajakan atasannya saat itu. Perutnya juga terasa sangat lapar. Wanita itu ingin mengisi perutnya sebelum pergi bekerja. Memang seperti itulah rutinitasnya selama ini.
“Presdir Bo, boleh saya bertanya sesuatu?” Sharin cukup penasaran dengan kejadian sebelum ia bangun di dalam kamar itu. Walaupun sudah bisa di tebak kalau atasannya yang menolongnya tadi malam. Namun, hatinya belu lega jika tidak mendengar jawaban itu langsung dari bibir atasannya.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Apa benar anda yang menolong saya tadi malam?” Wajah Sharin cukup serius saat menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir atasannya.
Biao terdiam beberapa saat. Pria itu cukup berat untuk memberi tahu yang sebenarnya. Biao tidak ingin Sharin jadi hutang budi kepada Walker. Hatinya akan merasa sangat sakit jika wanita yang ia cinta bersikap baik kepada pria lain.
“Hmm, ya. Aku yang menolongmu tadi malam. Apa ada masalah?” tanya Biao dengan ekspresi tidak terbaca.
Sharin menggeleng kepalanya pelan, “Terima kasih, Presdir Bo. Saya akan membalas kebaikan anda nantinya.”
“Baiklah. Aku akan menunggu momen itu. Sekarang kita sarapan dulu. Sepertinya kita akan terlambat jika terus berlama-lama di dalam kamar ini.” Biao memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar. Diikuti Sharin dari belakang tanpa tatapan curiga kepada Biao. Bahkan wanita itu juga tidak menyadari kalau pria itu kini telah membohonginya.
Reader, kalau 500 likenya dpt sebelum jam 12 aku baru up dua bab. Tadi siang like 500 nya uda sore. Siang ini kalau like 500 sebelum jam 12 siang aku up dua bab. Tapi kalau gk sampek tetap satu bab aja. hehe